Press "Enter" to skip to content

PT Indofood Sukses Makmur Akan Berbagi Pengalaman Kemitraan Petani kepada 350 Mahasiswa

Social Media Share

Suryanto Lim, Agro Manager PT Indofood Sukses Makmur, yang akan berbagi pengalaman mengenai pola kemitraan dengan petani dalam kuliah umum di PEPI. (Foto: Ist)

 

TANGERANG, NP — PT Indofood Sukses Makmur akan berbagi pengalaman mengenai pola kemitraan dengan petani kepada sekitar 350 mahasiswa Politeknik Enjiniring Pertanian Indonesia (PEPI) dan Politeknik Pembangunan Pertanian (Polbangtan) Bogor melalui kuliah umum bertema Hands on Experience, Kamis (22/10/2026). Kegiatan yang menghadirkan Agro Manager Indofood, Suryanto Lim, tersebut diselenggarakan secara hibrida dengan melibatkan peserta secara luring dan daring.

Kuliah umum ini akan mengangkat pengalaman Indofood dalam membangun kemitraan dengan petani, khususnya dalam penyediaan bahan baku untuk mendukung produksi pangan olahan, seperti keripik kentang. Melalui pola tersebut, perusahaan tidak hanya menjalin hubungan dengan petani sebagai pemasok, tetapi juga melakukan pendampingan agar petani mampu mengelola usaha pertanian secara mandiri dan berkelanjutan.

Suryanto Lim mengatakan, membangun kemitraan dengan petani harus diawali dengan survei untuk mengetahui kondisi lahan, situasi pertanian, serta kemampuan masing-masing petani. Menurut dia, kapasitas petani perlu menjadi pertimbangan agar pola kemitraan yang dibangun sesuai dengan kemampuan mereka.

“Pada tahap awal sebelum kemitraan berjalan, kita harus survei, mulai dari lahan, kondisi pertanian, sampai kemampuan petani. Kalau petani mampu setengah hektare, kita tidak boleh memaksa. Kita tidak langsung ke petani, tetapi melalui koperasi petani. Kalau komunikasi dilakukan melalui kelompok kecil, akan lebih mudah menyampaikan berbagai hal dan prosesnya lebih lancar dibandingkan berkomunikasi dengan petani satu per satu. Sementara itu, pembinaan tetap kita lakukan langsung kepada petani,” kata Suryanto kepada redaksi, Kamis (15/10/2026).

Dalam pengelolaan administrasi kemitraan, Indofood menerapkan manajemen mulai dari distribusi bibit hingga pengawasan panen. Sistem tersebut juga mencakup pengaturan distribusi hasil pertanian agar biaya logistik dapat ditekan dan kegiatan usaha petani menjadi lebih efisien.

“Kita lakukan manajemen dari hal yang paling mudah, seperti surat jalan dan pengaturan truk. Kalau satu truk digunakan untuk satu petani, akan menyulitkan karena hasil produksi perorangan rata-rata tidak memenuhi kapasitas satu truk sehingga biayanya mahal. Karena itu, diperlukan kelompok tani agar satu truk bisa digunakan untuk dua sampai tiga petani. Dengan begitu, kapasitas truk dapat terpenuhi dan ongkos angkut menjadi lebih murah. Konsep ini sudah kita jalankan untuk komoditas kentang,” ungkapnya.

(Ki-ka) Stephen Lo, pengusaha swasta nasional; petani asal Karo, Sumatera Utara; Direktur Utama Indofood Franky Welirang; dan Suryanto Lim. (Foto: Ist)

Kemitraan Dimulai dari Pembibitan

Dalam menjalankan produksi dan kemitraan dengan petani, Indofood membagi tanggung jawab berdasarkan bidang pekerjaan. Suryanto secara khusus menangani pembibitan kentang, sedangkan tim lain bertugas melakukan pembinaan dan pendampingan kepada petani.

“Saya menangani pembibitan. Dengan pengondisian bibit, kita tetap menjaga kualitas bibit yang disiapkan untuk mitra petani. Petani mitra kita tersebar di seluruh Indonesia, tetapi mayoritas petani kentang berada di Jawa,” ujar Suryanto.

Dalam skema kemitraan tersebut, Indofood mendistribusikan bibit kepada petani sebagai modal awal, kemudian hasil panen dikumpulkan untuk memenuhi kebutuhan bahan baku perusahaan. Adapun pengelolaan lahan dan kegiatan budi daya tetap menjadi tanggung jawab petani, mulai dari persiapan lahan, penanaman, hingga penyediaan peralatan, pupuk, dan pestisida.

Suryanto menjelaskan, perusahaan menyampaikan spesifikasi kentang yang dapat diterima pabrik beserta harga kontrak sejak awal. Dengan demikian, petani memiliki kepastian mengenai standar produk yang harus dipenuhi dan harga yang menjadi dasar kerja sama.

“Kita sudah membuka sejak awal spesifikasi kentang yang bisa masuk pabrik, termasuk harga kontrak. Semuanya disampaikan di awal karena kita sudah memperhitungkan kebutuhan dan ketentuannya,” katanya.

Ia menambahkan, Indofood tidak memberikan pinjaman sarana produksi pertanian (saprodi) secara langsung kepada petani. Untuk memenuhi kebutuhan tersebut, petani dapat bekerja sama dengan distributor atau pemasok pupuk dan pestisida yang telah dikenal, sehingga mereka memiliki kesempatan memilih produk berdasarkan kualitas dan harga yang kompetitif.

“Kita membuka kesempatan agar mereka bisa bersaing memberikan kualitas dan harga terbaik bagi petani. Dengan begitu, petani mampu mengelola usaha mereka, termasuk keuangan. Kita juga mengarahkan petani agar bisa bekerja sama dengan perbankan, bukan bergantung pada pinjaman dari Indofood,” jelasnya.

Dalam pola kemitraan itu, Indofood menempatkan petani sebagai pelaku utama usaha pertanian, sedangkan perusahaan bertindak sebagai offtaker atau pihak yang menyerap hasil panen. Perusahaan memberikan pendampingan dan arahan, sekaligus mendorong petani membangun jaringan dengan berbagai penyedia kebutuhan usaha tani melalui kelompok tani atau gabungan kelompok tani (gapoktan).

Kelompok petani yang terlibat dalam pola kemitraan untuk mendukung produksi dan pasokan bahan baku pertanian. (Foto: Ist)

“Kita menjadikan petani sebagai subjek, sedangkan kami sebagai offtaker. Kami mendampingi dan mengarahkan petani, tetapi mereka harus bisa mandiri, termasuk dalam mengelola aset. Kita membangun networking agar penyedia pupuk, pestisida, dan pembiayaan dapat terhubung dengan petani melalui gapoktan,” tutur Suryanto.

Menurut dia, pola kemitraan tersebut diharapkan dapat meningkatkan kemampuan petani dalam mengelola administrasi usaha hingga memanfaatkan layanan perbankan. Selain itu, keberadaan kontrak pembelian juga memberikan kepastian pasar bagi hasil panen petani.

“Dari mulai tanam sampai panen, petani tidak perlu khawatir atau bingung hasil panennya akan dijual ke mana. Kita menyesuaikan sejak awal melalui kontrak harga selama setahun sehingga harga relatif tetap dan tidak berfluktuasi seperti harga pasar,” katanya.

Meski demikian, penetapan harga kontrak tetap mempertimbangkan kondisi produksi dan persaingan antardaerah. Indofood terlebih dahulu menganalisis kemampuan suatu wilayah dalam menghasilkan komoditas yang sesuai dengan kebutuhan pabrik, termasuk kemampuan memasok dalam jumlah dan kualitas yang dibutuhkan.

“Kita analisis dulu daerah yang melakukan budi daya, berapa produksinya dan apakah bisa bersaing dengan daerah lain untuk memasok pabrik. Kalau harga tinggi, tetapi produknya tidak bisa kita jual, percuma juga. Kita memberikan harga pembanding dan harus tetap bersaing. Karena itu, semuanya perlu dipertimbangkan,” ujar Suryanto.

Kemitraan Bawang Putih Masih Dijajaki

Selain kentang, Indofood juga mencermati peluang pengembangan kemitraan untuk komoditas lain, termasuk bawang putih. Namun, untuk komoditas tersebut, pola kemitraan masih dalam tahap penjajakan karena selama ini pasokan bawang putih perusahaan dipenuhi melalui pemasok.

Suryanto mengatakan, bawang putih lokal masih menghadapi tantangan untuk bersaing dengan produk impor, terutama dari sisi ukuran, kualitas, dan harga. Kondisi tersebut membuat petani, khususnya di Pulau Jawa, perlu meningkatkan produktivitas dan efisiensi budi daya agar mampu memenuhi kebutuhan industri.

“Kita masih mencari varietas yang unggul. Petani juga diarahkan untuk bertanam dengan metode yang efisien sehingga bisa bersaing,” tambahnya.

PEPI Jajaki Kerja Sama dengan Indofood

Rencana kuliah umum tersebut merupakan bagian dari upaya PEPI memperluas kerja sama dengan dunia usaha untuk meningkatkan kualitas pendidikan dan kapasitas sumber daya manusia (SDM) mahasiswa.

Sebelumnya, Direktur PEPI Harmanto bersama jajarannya menggelar pertemuan dengan delegasi Haidian District People’s Government of Beijing Municipality. Pertemuan itu membahas penjajakan peluang kerja sama dalam pengembangan teknologi pertanian, alat dan mesin pertanian (alsintan), penelitian, serta peningkatan kapasitas SDM.

Dalam pertemuan tersebut, Suryanto Lim turut hadir dan memberikan gambaran mengenai pola kemitraan Indofood dengan petani kentang. Pengalaman perusahaan itu menjadi salah satu referensi untuk memperkenalkan praktik kemitraan agribisnis kepada kalangan pendidikan vokasi pertanian.

Sebagai tindak lanjut, PEPI berupaya memperluas keterlibatan sektor swasta melalui berbagai kegiatan, antara lain sesi berbagi pengalaman dan kuliah umum yang mempertemukan mahasiswa dengan praktisi industri.

Saat ditemui di Kampus PEPI, Jalan Sinarmas Boulevard, BSD City, Tangerang, Rabu (14/10/2026), Harmanto mengatakan bahwa kerja sama dengan PT Indofood Sukses Makmur menjadi salah satu agenda terdekat yang sedang dipersiapkan.

“Kami sedang menyiapkan rencana kuliah umum dengan tema Hands on Experience dari PT Indofood Sukses Makmur pada tanggal 22 Oktober mendatang. Pembicaranya adalah Agro Manager Indofood, Suryanto Lim,” kata Harmanto. (Liu)

Be First to Comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *