Press "Enter" to skip to content

BRIN-XMU Matangkan Pusat Inovasi Energi Hijau Internasional

Social Media Share

BRIN bersama Universitas Xiamen (XMU) mematangkan rencana pembangunan XMU-BRIN Green Energy International Innovation Center atau Pusat Inovasi Energi Hijau Internasional untuk mendukung pengembangan energi bersih dan teknologi energi masa depan. (Foto: Ist)

JAKARTA – Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) bersama Universitas Xiamen (XMU) mematangkan rencana pembangunan XMU-BRIN Green Energy International Innovation Center atau Pusat Inovasi Energi Hijau Internasional untuk menjawab meningkatnya kebutuhan energi bersih dan mengurangi ketergantungan Indonesia pada energi fosil.

Peneliti Ahli Utama Pusat Riset Biomassa dan Bioproduk (PRBB) BRIN, Widya Fatriasari, mengatakan pusat inovasi tersebut dirancang menjadi laboratorium kelas dunia yang berfokus pada pengembangan energi hijau, teknologi penyimpanan energi, serta material energi baru. Hal itu disampaikan Widya dalam kegiatan penandatanganan nota kesepahaman di Gedung B.J. Habibie, Jakarta, Selasa (13/10/2026).

“Kita akan mendirikan pusat inovasi ini di Kawasan Sains dan Teknologi (KST) B.J. Habibie, Serpong, Tangerang Selatan. Lokasinya sangat strategis, dekat dengan bandara, dan memiliki lahan sekitar 400 hektare. Kita sudah mengusulkan ruang sekitar 3.000 meter persegi untuk pusat ini,” ujar Widya, seperti dikutip dari laman resmi BRIN, Rabu (14/10/2026).

Widya menjelaskan, laboratorium tersebut dirancang terdiri atas dua lantai dengan fungsi yang saling melengkapi. Lantai pertama, dengan luas minimum 1.600 meter persegi, akan digunakan untuk bengkel biorefinery, laboratorium pirolisis, ekstraksi, persiapan biomassa, persiapan kimia, serta laboratorium baterai dan penyimpanan energi.

Sementara itu, lantai kedua, dengan luas minimum 1.500 meter persegi, akan difokuskan pada pengembangan material katoda dan anoda, lini percontohan produksi baterai tipe pouch dan cylindrical, spektroskopi, kromatografi, karakterisasi fisikokimia, serta ruang perakitan dan verifikasi sel koin.

Dari sisi tata kelola, pusat inovasi ini akan dikelola melalui kerangka kerja bersama yang melibatkan BRIN dan XMU. Menurut Widya, pengelolaan tersebut akan didukung oleh Deputi Bidang Fasilitasi Riset dan Inovasi, Deputi Bidang Sumber Daya Manusia Iptek, serta Deputi Bidang Infrastruktur Riset dan Inovasi.

“Kerangka kerja manajemen pusat inovasi ini akan melibatkan komite pengarah bersama dari Xiamen dan BRIN,” kata Widya. Ia menambahkan, kegiatan operasional pusat akan mencakup koordinasi riset dan inovasi, pengelolaan fasilitas dan infrastruktur, pengembangan talenta dan pendidikan, serta kemitraan dan hubungan industri.

Dalam pengembangan risetnya, pusat inovasi tersebut ditargetkan menghasilkan beragam produk antara dan produk akhir untuk mendukung transisi energi. Produk antara yang direncanakan meliputi material penyimpanan energi, seperti anoda berbasis biomassa, baterai litium dan natrium, superkapasitor, serta karbon berpori. Selain itu, riset juga diarahkan untuk menghasilkan bahan bakar cair dan gas, antara lain biodiesel, bioetanol, biometanol, dan bahan bakar aviasi berkelanjutan.

Adapun produk akhir yang diproyeksikan mencakup kendaraan listrik (electric vehicle/EV), biodiesel B50, bioetanol E20, bahan bakar hidrokarbon, diesel terbarukan, dan hidrogen.

“Produk akhirnya antara lain kendaraan listrik (EV), biodiesel B50, bioetanol E20, bahan bakar hidrokarbon, diesel terbarukan, dan hidrogen,” ujar Widya.

Kepala PRBB BRIN, Akbar Hanif Dawam A., mengatakan BRIN terus mempercepat pembentukan pusat inovasi tersebut. Keputusan terkait pengembangan pusat riset itu ditargetkan rampung pada tahun ini sehingga berbagai persiapan perlu segera ditindaklanjuti.

“Fokus utama kita saat ini adalah energi, pangan, dan air, sehingga pengembangan energi hijau menjadi sangat krusial,” kata Hanif.

Terkait kesiapan infrastruktur, Hanif memastikan pusat inovasi akan memanfaatkan gedung yang telah tersedia di KST B.J. Habibie. Renovasi akan segera dilakukan dengan menyesuaikan desain laboratorium dan kebutuhan fasilitas riset, dengan target penyelesaian pada 2027.

“Gedungnya sudah ada di KST B.J. Habibie dan tinggal kita kembangkan. Kami juga telah berkoordinasi dengan Deputi Bidang Infrastruktur Riset dan Inovasi BRIN yang telah mengidentifikasi beberapa pilihan bangunan yang siap dialokasikan untuk program ini,” pungkas Hanif. (red)

Be First to Comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *