JAKARTA, NP – Pengalaman panjang menghadapi berbagai wabah penyakit menjadi bagian penting perjalanan karier Rektor Universitas Respati Indonesia (URINDO), Prof. Dr. Cicilia Windiyaningsih, S.K.M., M.Kes. Selama hampir empat dekade berkecimpung di dunia kesehatan, khususnya epidemiologi, Cicilia telah terlibat langsung dalam penanganan berbagai penyakit menular, termasuk penyakit yang bersumber dari hewan.
Salah satu pengalaman yang masih membekas adalah penanganan leptospirosis atau yang dikenal sebagai penyakit kencing tikus di Ciracas, Jakarta Timur, beberapa waktu lalu. Penyakit yang disebabkan bakteri Leptospira ini dapat menular kepada manusia melalui kontak dengan urine hewan yang terinfeksi, terutama tikus.
Cicilia mengungkapkan, dalam kejadian tersebut terdapat dua korban, yakni seorang petugas pemadam kebakaran berusia produktif dan seorang pengemudi ojek daring. Timnya turun langsung ke lapangan untuk melakukan investigasi epidemiologi sekaligus menelusuri sumber penularan.
“Seperti yang terjadi di Ciracas, Jakarta Timur, beberapa waktu lalu. Korbannya seorang petugas pemadam kebakaran, usianya masih produktif, dan satu lagi sopir ojek online. Tim kami terjun langsung. Kita terapkan langkah-langkah dalam mengatasi wabah ini,” ujar Cicilia di kampus URINDO, Jakarta Timur, Rabu (4/11/2026).
Dalam investigasi tersebut, mahasiswa Program Studi S1 Kesehatan Masyarakat URINDO turut dilibatkan. Mereka tidak sekadar mempelajari teori di ruang kuliah, tetapi juga memperoleh pengalaman langsung melakukan investigasi lapangan, mulai dari menyiapkan proposal, mengurus surat-menyurat, mencari laporan, hingga membantu pengambilan sampel.
“Mahasiswa yang mengikuti mata kuliah saya ikut terlibat. Mereka menyiapkan proposal, surat-menyurat, mencari laporan, mengambil darah tikus, mengambil ginjal dan organ tikus. Pada manusianya, kami juga mengambil sampel darah. Hasilnya positif dan sesuai dengan penyebab kematian,” tuturnya.
Menurut Cicilia, hasil pemeriksaan tersebut menjadi bagian penting dalam memastikan sumber penyakit. Namun, ia menilai penanganan wabah tidak cukup hanya dengan mengidentifikasi korban, melainkan harus disertai langkah pengendalian sumber penularan di lingkungan masyarakat.
Ia juga menyoroti pentingnya kewaspadaan terhadap penyebaran tikus yang dapat berpindah dari satu kawasan ke kawasan lain. Karena itu, kebersihan lingkungan dan pengendalian populasi tikus harus menjadi perhatian bersama.
Pengalaman menangani penyakit yang bersumber dari binatang bukan hal baru bagi Cicilia. Selama sekitar 30 tahun menjadi pegawai negeri sipil (PNS) di Direktorat Jenderal Pengendalian Penyakit Menular dan Kesehatan Lingkungan Kementerian Kesehatan, ia banyak terlibat dalam pengendalian berbagai penyakit menular maupun tidak menular.
“Saya lebih banyak menangani penyakit bersumber binatang, seperti Ebola. Saya menjadi PNS di Ditjen Pengendalian Penyakit Menular dan Kesehatan Lingkungan Kementerian Kesehatan sekitar 30 tahun. Pengalaman saya selama itu banyak berkaitan dengan pengendalian wabah penyakit,” paparnya.
Pengalaman profesionalnya juga diperkuat melalui praktik pelayanan kesehatan di Rumah Sakit Penyakit Infeksi (RSPI) Prof. Dr. Sulianti Saroso, Sunter, Jakarta Utara, selama sekitar 10 tahun. Di rumah sakit tersebut, ia menangani berbagai persoalan penyakit infeksi sekaligus menjalankan kegiatan pendidikan.
Sebelum bergabung dengan URINDO pada 2014, Cicilia juga pernah mengajar di Universitas Pembangunan Nasional (UPN) pada 2006–2010. Bidang yang diajarkannya antara lain epidemiologi, investigasi wabah, kesehatan masyarakat, dan surveilans kesehatan.
Perjalanan pengabdiannya di dunia kesehatan bahkan dimulai jauh sebelumnya. Pada 1982–1984, Cicilia mengawali karier sebagai perawat di Bagian Bedah Jantung Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM), Jakarta.
Pengalaman lainnya adalah ketika bertugas di Kantor Kesehatan Pelabuhan Kelas I Denpasar, Bali. Di sana, ia turut terlibat dalam pengamanan kesehatan bagi tamu negara kategori very very important person (VVIP), termasuk saat kunjungan Presiden Amerika Serikat ke-44, Barack Obama.
“Kalau ada kunjungan tamu negara VVIP, kami ikut dalam pengamanan dari sisi kesehatan. Kalau terjadi sesuatu, kami harus lebih cepat bergerak,” jelasnya.
Selain menjadi akademisi dan praktisi kesehatan, Cicilia juga aktif dalam organisasi profesi. Ia tercatat sebagai anggota Perhimpunan Ahli Parasitologi Indonesia dan organisasi profesi terkait pemberantasan parasitologi di DKI Jakarta, serta anggota Perhimpunan Ahli Epidemiologi Indonesia.
Bagi Cicilia, epidemiologi bukan sekadar disiplin ilmu yang dipelajari di perguruan tinggi. Ilmu ini menjadi instrumen penting untuk memahami pola penyebaran penyakit, mengidentifikasi faktor risiko, serta menentukan langkah pencegahan dan pengendalian agar suatu penyakit tidak berkembang menjadi wabah yang lebih luas.
Setelah menapaki perjalanan panjang sekitar 40 tahun di dunia kesehatan, Cicilia mengaku masih menikmati pengabdiannya. Bahkan, pada usia 68 tahun, ia masih aktif menjalankan tugas sebagai ASN sekaligus rektor.
“Sekarang usia saya 68 tahun dan masih PNS. Nanti sebentar lagi, di usia 70 tahun baru pensiun. Kalau profesor, ikatan dinas sampai usia 70 tahun. Setelah itu bisa menjadi profesor emeritus sampai usia 75 tahun. Kalau masih sehat di usia 79 tahun, maka bisa seumur hidup,” ungkapnya.
Perjalanan Cicilia memperlihatkan bahwa pengabdian di bidang kesehatan tidak berhenti pada pelayanan dan pendidikan. Pengalaman menghadapi wabah, melakukan investigasi, serta membimbing generasi muda menjadi bagian dari kontribusinya dalam memperkuat kesiapsiagaan masyarakat terhadap ancaman penyakit. (red)







Be First to Comment