Press "Enter" to skip to content

Kunjungi PEPI, Diaspora Indonesia Soroti Pentingnya Link and Match Pendidikan Vokasi

Social Media Share

(Dari kiri) Wakil Direktur PEPI Enrico Syaefullah, staf bidang kerja sama Dedi Laksmana, Direktur PEPI Harmanto, dan diaspora Indonesia Ibrahim Irawan berdiskusi di Gedung Rektorat dan Ruang Kuliah PEPI, BSD City, Tangerang, Banten. (Foto: Ist)
TANGERANG, NP – Ibrahim Irawan, diaspora Indonesia di Amerika Serikat, mengapresiasi program pendidikan vokasi yang diterapkan Politeknik Enjiniring Pertanian Indonesia (PEPI), Tangerang, Banten. Menurut dia, pendidikan vokasi yang menekankan konsep link and match antara dunia pendidikan dan kebutuhan industri menjadi langkah strategis untuk mencetak sumber daya manusia (SDM) pertanian yang siap kerja.

Ibrahim menyampaikan pandangan tersebut saat mengunjungi Kampus PEPI di Jalan Sinarmas Boulevard, BSD City, Tangerang, di sela partisipasinya dalam Trade Expo Indonesia (TEI) 2026 di Indonesia Convention Exhibition (ICE) BSD City. “Ini kunjungan pertama saya ke Kampus PEPI yang sangat bagus. Ada kemajuan, khususnya di sektor pembangunan pertanian Indonesia,” kata Ibrahim kepada redaksi, Rabu (14/10/2026).

Dalam kunjungan tersebut, Ibrahim bertemu dengan Direktur PEPI Harmanto, Wakil Direktur PEPI Enrico Syaefullah, serta staf kerja sama Dedi Laksmana. Pertemuan berlangsung singkat dalam suasana diskusi ringan mengenai pendidikan vokasi dan pengembangan pertanian modern di Indonesia.

Ibrahim menilai penerapan konsep link and match dalam pendidikan vokasi sudah tidak dapat ditunda, terutama untuk menjawab kebutuhan pembangunan pertanian pada masa mendatang. Menurut dia, pendidikan tinggi perlu memastikan lulusannya memiliki keterampilan praktis yang sesuai dengan kebutuhan industri.

Diaspora Indonesia Ibrahim Irawan (kiri), didampingi staf bidang kerja sama PEPI Dedi Laksmana, meninjau sarana dan prasarana serta fasilitas praktik mahasiswa di Kampus PEPI, BSD City, Tangerang, Banten. (Foto: Ist)

“Kalau universitas saja, para lulusannya belum tentu bisa link and match dengan kebutuhan industri. Lulusan SMA juga tidak bisa apa-apa. Namun, kalau vokasi, lulusannya siap kerja karena memiliki keterampilan yang riil,” ujarnya.

Ia juga mengapresiasi komposisi pembelajaran di PEPI yang mengutamakan praktik dibandingkan teori di kelas. Dengan porsi praktik sekitar 70 persen dan teori 30 persen, Ibrahim menilai pola pembelajaran tersebut sudah ideal untuk menghasilkan lulusan yang kompeten di bidang mekanisasi dan teknologi pertanian.

Namun, ia mengingatkan bahwa pengembangan pendidikan vokasi pertanian harus berjalan seiring dengan pemanfaatan teknologi digital, termasuk kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI).

“Pembangunan pertanian Indonesia harus sudah mulai menerapkan AI. Teknologi AI pada pertanian, termasuk penggunaan drone untuk penyemprotan pestisida, bisa membuat pekerjaan lebih efisien, tepat sasaran, dan sesuai takaran. Ke depan, AI juga akan diterapkan pada drone untuk usaha pertanian sehingga PEPI harus sudah mengakomodasi perkembangan tersebut,” kata Ibrahim.

Kembangkan Mekanisasi dan Smart Farming

PEPI didirikan pada 2019 untuk meningkatkan kualitas SDM pertanian sekaligus mendorong modernisasi sektor pertanian melalui pemanfaatan alat dan mesin pertanian. Kampus ini menyelenggarakan tiga program diploma, yakni Teknologi Mekanisasi Pertanian, Tata Air Pertanian, dan Teknologi Hasil Pertanian.

Mahasiswa PEPI berasal dari hampir 70 persen provinsi di Indonesia. Kampus tersebut juga memiliki mahasiswa internasional dari Timor Leste. Sebanyak tiga mahasiswa asal negara itu telah menyelesaikan pendidikan, sedangkan 10 mahasiswa lainnya masih menempuh studi.

Dalam pengembangan pembelajaran, PEPI berorientasi pada penerapan smart farming atau pertanian cerdas. Sejumlah inovasi yang dikembangkan antara lain sistem pintu air otomatis pada kanal drainase di lahan rawa, teknologi briket arang sekam, serta mesin pengupas lada putih.

Fasilitas praktik mahasiswa juga dilengkapi laboratorium lapang irigasi tenaga surya yang merupakan sumbangan dari China. Selain itu, tersedia bengkel kerja untuk mendukung pembelajaran dan praktik penggunaan berbagai alat dan mesin pertanian, termasuk traktor.

Direktur PEPI Harmanto mengatakan, kampus tersebut tidak hanya berfungsi sebagai tempat menimba ilmu, tetapi juga menjadi ruang pembentukan generasi muda pertanian yang mampu menjawab tantangan global.

“PEPI lebih dari sekadar kampus, sebagai tempat lahirnya generasi muda pertanian yang siap menghadapi tantangan global. Di sini, teori bertemu praktik, inovasi bertemu pengalaman, dan mahasiswa dibimbing menjadi profesional tangguh di sektor pertanian,” kata Harmanto.

Filosofi mekanisasi pertanian juga tercermin pada desain bagian depan gedung rektorat dan ruang kuliah PEPI yang memiliki delapan lantai. Bentuk fasadnya menyerupai geligi atau roda gigi transmisi (gearbox) pada traktor pertanian. Dalam sistem mekanis, komponen tersebut berfungsi mengatur kecepatan putar, torsi atau tenaga tarik, serta arah gerak traktor sesuai kondisi medan.

Pada gedung rektorat juga terdapat prasasti yang ditandatangani Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman saat menjalankan jabatan pada periode sebelumnya. Harmanto menjelaskan bahwa desain geligi traktor tersebut memiliki keterkaitan dengan filosofi pengembangan mekanisasi dan smart farming yang menjadi bagian dari arah pendidikan PEPI.

“Geligi traktor merupakan bagian dari filosofi smart farming,” ujar Harmanto.

Staf dan dosen PEPI serta Politeknik Pembangunan Pertanian (Polbangtan) Bogor mengikuti pelatihan Drone Capacity Development Academy 2026 untuk meningkatkan kapasitas SDM pertanian di bidang digitalisasi dan mekanisasi modern. (Foto: Ist)

Perkuat Kompetensi Digital melalui Pelatihan Drone

Selain mengembangkan fasilitas pembelajaran, PEPI juga terlibat dalam kegiatan peningkatan kapasitas SDM pertanian melalui pelatihan teknologi drone. Salah satunya adalah program Drone Capacity Development Academy 2026 yang didukung Pemerintah Korea Selatan.

Program tersebut diselenggarakan oleh Korea Productivity Center (KPC) dan Korea Transport Safety Authority (KOTSA/TS) sebagai upaya memperkuat kemampuan SDM di bidang digitalisasi dan mekanisasi pertanian modern. Pelatihan berlangsung pada Rabu (14/10/2026) di Balai Besar Perakitan dan Modernisasi Mekanisasi Pertanian (BRMP Mektan), Jalan Sinarmas Boulevard, Tangerang, Banten.

Pelatihan ini bertujuan meningkatkan pengetahuan dan keterampilan praktis para pemangku kepentingan di Indonesia mengenai teknologi drone. Materi yang diberikan mencakup regulasi, sistem lisensi pilot, manajemen keselamatan penerbangan, perkembangan industri, serta penerapan teknologi terkini.

Jenis drone yang digunakan dalam pelatihan meliputi drone pertanian dan pengendalian hama (agricultural and pest control), serta drone untuk pemetaan dan pemantauan, termasuk teknologi vertical take-off and landing (VTOL), pemetaan (mapping), dan penerbangan otonom (autonomous flight).

Diaspora Indonesia Ibrahim Irawan (kiri), didampingi staf bidang kerja sama PEPI Dedi Laksmana, melihat fasilitas penunjang kegiatan praktik dan perkuliahan mahasiswa di Kampus PEPI, BSD City, Tangerang, Banten. (Foto: Ist)

Harmanto mengatakan, peserta pelatihan berasal dari staf dan dosen PEPI serta Politeknik Pembangunan Pertanian (Polbangtan) Bogor. Keterlibatan lembaga pendidikan tersebut diharapkan dapat memperluas pemahaman dan pemanfaatan teknologi drone di lingkungan pendidikan vokasi pertanian.

“Peserta pelatihan berasal dari staf dan dosen PEPI serta Polbangtan Bogor. Untuk peserta dari Polbangtan Yogyakarta–Magelang, Medan, Gowa, dan Manokwari, tidak mudah datang ke PEPI karena jaraknya cukup jauh,” kata Harmanto.

Selain pelatihan drone, PEPI juga menyiapkan kegiatan kuliah umum dengan tema Hands-on Experience yang melibatkan PT Indofood Sukses Makmur pada 22 Oktober 2026. Kegiatan tersebut dijadwalkan menghadirkan Agro Manager Indofood, Suryanto Lim, sebagai pembicara.

Menurut Harmanto, kolaborasi dengan industri dan pemanfaatan teknologi modern menjadi bagian penting dalam menyiapkan lulusan pendidikan vokasi yang tidak hanya menguasai teori, tetapi juga memiliki keterampilan praktis sesuai kebutuhan dunia kerja.

Dengan penguatan pendidikan berbasis praktik, pengembangan mekanisasi, serta pemanfaatan AI dan drone, PEPI diharapkan dapat berkontribusi dalam mencetak SDM pertanian yang adaptif terhadap perkembangan teknologi sekaligus mendukung modernisasi pertanian Indonesia. (Liu)

Be First to Comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *