Menteri Agama Nasaruddin Umar saat menjadi narasumber dalam National Leadership ICMI 2026 bertema “Peran Cendekiawan Muslim dalam Membangun Indonesia Emas” di Jakarta, Sabtu (31/10/2026).(Foto: Ist)
JAKARTA, NP – Menteri Agama Nasaruddin Umar mengajak Ikatan Cendekiawan Muslim se-Indonesia (ICMI) memperluas perannya sebagai perekat bangsa melalui penguatan nilai-nilai persaudaraan. Solidaritas tidak boleh berhenti pada kesamaan agama dan kelompok, tetapi harus menjangkau dimensi kebangsaan, kemanusiaan, hingga kepedulian terhadap seluruh makhluk dan lingkungan hidup.
Pesan tersebut disampaikan Nasaruddin saat menjadi narasumber dalam National Leadership ICMI 2026 bertema “Peran Cendekiawan Muslim dalam Membangun Indonesia Emas” di Jakarta, Sabtu (31/10/2026).
Di hadapan para cendekiawan Muslim, Menag menekankan pentingnya membangun peta jalan diplomasi peradaban yang bertumpu pada penguatan persaudaraan atau ukhuwah. Ia menggarisbawahi pentingnya lima dimensi persaudaraan yang mencakup ukhuwah Islamiyah, ukhuwah wathaniyah, ukhuwah basyariyah, ukhuwah makhluqiyah, serta dimensi persaudaraan lainnya yang perlu diperkuat dalam kehidupan bermasyarakat dan berbangsa.
“Yang paling penting adalah betapa perlu menjalin setidaknya ada lima ukhuwah di sini,” ujar Nasaruddin, dikutip dari laman resmi Kementerian Agama, Minggu (1/11/2026).
Persaudaraan Jadi Fondasi Persatuan
Nasaruddin mengawali gagasannya dengan menekankan pentingnya memperkokoh persaudaraan internal umat Islam. Menurutnya, perbedaan organisasi, mazhab, maupun aliran pemikiran keagamaan tidak boleh menjadi alasan untuk merusak solidaritas umat.
Ia mencontohkan keberagaman tradisi keislaman di Indonesia, termasuk Nahdlatul Ulama (NU), Muhammadiyah, serta berbagai kelompok dan aliran pemikiran lainnya. Keragaman tersebut harus dikelola sebagai kekayaan intelektual dan spiritual, bukan justru menjadi sumber pertentangan.
“Bagaimana ukhuwah Islamiyah itu dipelihara? Apakah itu NU, Muhammadiyah, apakah itu masyarakat yang lain. Kita solid semuanya,” tegasnya.
Namun, menurut Menag, persaudaraan internal umat Islam bukanlah tujuan akhir. Masyarakat Indonesia hidup dalam keberagaman yang jauh lebih luas, mulai dari agama, suku, budaya, hingga identitas kedaerahan.
Karena itu, ukhuwah wathaniyah atau persaudaraan kebangsaan harus menjadi jembatan yang menyatukan berbagai identitas tersebut dalam kesadaran sebagai satu bangsa, yakni Indonesia.
Nasaruddin menyoroti kecenderungan sebagian masyarakat yang masih membedakan seseorang berdasarkan asal daerah, termasuk melalui penggunaan istilah putra daerah dan bukan putra daerah.
“Saya kira ukhuwah wathaniyah ini harus menjembatani perbedaan etnik seperti ini,” katanya.
Ia menegaskan, persaudaraan kebangsaan merupakan tanggung jawab bersama. Dalam konteks tersebut, cendekiawan Muslim diharapkan tidak hanya mengembangkan pemikiran keagamaan, tetapi juga melahirkan gagasan yang mampu memperkuat kohesi sosial di tengah masyarakat majemuk.
Melampaui Sekat Identitas
Lebih jauh, Nasaruddin mengingatkan bahwa tantangan kehidupan berbangsa tidak dapat dilepaskan dari menguatnya polarisasi identitas. Perbedaan agama, etnis, mazhab, dan pandangan kerap dijadikan garis pemisah yang membuat sebagian kelompok merasa lebih unggul atau lebih berhak dibandingkan kelompok lainnya.
Kondisi tersebut, menurutnya, berpotensi mengikis nilai-nilai kemanusiaan yang seharusnya menjadi landasan kehidupan bersama.
“Seorang yang tidak se-aliran dengannya, yang tidak se-paham dengannya, tidak se-mazhab dengannya, tidak se-agama dengannya, tidak se-etnik dengannya, itu menjadi manusia kelas dua,” ungkapnya.
Untuk menjawab tantangan tersebut, Menag menekankan pentingnya ukhuwah basyariyah, yakni persaudaraan yang berlandaskan kesamaan martabat sebagai manusia tanpa memandang latar belakang agama, suku, maupun warna kulit.
Dalam pandangannya, cendekiawan memiliki tanggung jawab besar untuk merawat kesadaran kemanusiaan tersebut. Kecendekiawanan tidak cukup diukur dari penguasaan disiplin ilmu atau kemampuan mengamalkan pengetahuan, tetapi juga dari dampak sosial yang dihasilkan.
“Tapi kalau cendekiawan lebih dari itu, harus punya dampak sosial lebih luas, lintas budaya, lintas agama, lintas geografis, dan lintas emosional,” jelas Nasaruddin.
Dengan demikian, kontribusi cendekiawan dalam mewujudkan Indonesia Emas tidak semata-mata diukur dari kemajuan intelektual, tetapi juga dari kemampuan menghadirkan solusi atas persoalan sosial dan memperkuat persaudaraan di tengah keberagaman.
Persaudaraan hingga Seluruh Makhluk
Salah satu gagasan yang mendapat perhatian khusus dari Nasaruddin adalah ukhuwah makhluqiyah, yakni persaudaraan sesama makhluk. Konsep ini memperluas cakrawala solidaritas dari hubungan antarmanusia menjadi tanggung jawab terhadap seluruh ciptaan Tuhan.
“Ada satu poin yang saya tambahkan. Apa yang saya istilahkan dengan ukhuwah makhluqiyah. Persaudaraan kita sebagai sesama makhluk,” tuturnya.
Nasaruddin menjelaskan, dalam perspektif spiritual Islam, seluruh ciptaan memiliki hubungan dengan Sang Pencipta. Karena itu, manusia tidak semestinya memandang alam hanya sebagai objek yang dapat dimanfaatkan tanpa batas.
Gagasan tersebut berkaitan erat dengan tantangan krisis ekologi global. Kerusakan lingkungan, menurutnya, menjadi ancaman serius bagi kehidupan manusia sehingga diperlukan pembaruan cara pandang keagamaan yang menempatkan pelestarian alam sebagai bagian dari tanggung jawab spiritual.
Menag bahkan mengusulkan penguatan konsep daruriyat al-bi’ah, yakni perlindungan lingkungan hidup, dalam pengembangan pemikiran hukum Islam.
“Tidak mungkin kita bisa menjadi hamba dan khalifah yang sukses kalau kita sedang kebanjiran, sedang ada asap, sedang ada gempa, dan sedang ada kebakaran,” ujarnya.
Melalui pendekatan tersebut, persaudaraan tidak hanya diwujudkan dengan menjaga keharmonisan antarkelompok masyarakat, tetapi juga melalui upaya memelihara lingkungan sebagai ruang kehidupan bersama.
ICMI Didorong Menjadi Jembatan Peradaban
Dalam kesempatan yang sama, Nasaruddin mengajak ICMI mengambil peran lebih besar dalam membangun dialog lintas agama. Indonesia, menurutnya, membutuhkan ruang perjumpaan yang memungkinkan para pemikir dari berbagai latar belakang keagamaan bertemu, berdiskusi, dan merumuskan titik temu demi kepentingan bangsa.
Ia mengungkapkan gagasan untuk menyelenggarakan konferensi yang mempertemukan organisasi cendekiawan dari berbagai agama. Pertemuan tersebut diharapkan menjadi ruang untuk membangun kesepahaman di tingkat pemimpin pemikiran, yang selanjutnya dapat memperkuat kerukunan di tengah masyarakat.
Menurut Nasaruddin, dialog keagamaan yang konstruktif harus mengedepankan persamaan tanpa mengharuskan setiap pihak menghapus perbedaan keyakinan.
“Kalau kita masih berdiskusi tentang perbedaan satu agama dengan agama yang lain, tanpa mengikat persamaannya, berarti kita belum melakukan satu dialog yang konstruktif,” katanya.
Ia juga mengingatkan bahwa agama dapat menjadi kekuatan yang menyatukan sekaligus berpotensi memecah masyarakat apabila perbedaan identitas terus dipertajam. Karena itu, tokoh agama dan cendekiawan perlu memperbesar peran agama sebagai kekuatan pemersatu, bukan menjadikannya sebagai sumber pertentangan.
Bagi Nasaruddin, pembangunan Indonesia Emas membutuhkan lebih dari sekadar kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. Kemajuan tersebut harus berjalan beriringan dengan kematangan spiritual, solidaritas sosial, dan kemampuan bangsa dalam mengelola keberagaman.
Melalui penguatan nilai-nilai persaudaraan, ICMI diharapkan mampu memperluas kontribusinya dari ruang intelektual menuju kerja nyata bagi masyarakat. Dengan demikian, cendekiawan Muslim tidak hanya menjadi penghasil gagasan, tetapi juga penggerak persatuan dan jembatan peradaban bagi masa depan Indonesia. (red)







Be First to Comment