Judha Djohari saat wawancara di sela-sela pameran Pet Fair South-East Asia 2026 di BITEC, Bangkok, Thailand, Jumat (30/10/2026). (Foto: Ist)
JAKARTA, NP – Industri makanan hewan kesayangan (pet food) di Indonesia memiliki prospek menjanjikan, terutama pada segmen makanan kucing. Nilai pasar segmen ini diperkirakan mendominasi hingga 80 persen dibandingkan makanan anjing, seiring meningkatnya jumlah hewan peliharaan dan perubahan gaya hidup masyarakat.
Food technologist lulusan The University of New South Wales, Judha Djohari, mengatakan kucing menjadi salah satu hewan peliharaan yang memiliki tempat tersendiri di tengah masyarakat Indonesia. Selain faktor kedekatan emosional dengan pemiliknya, kucing juga memiliki posisi istimewa dalam tradisi Islam.
“Jumlah kucing peliharaan mencapai 5,9–6,4 juta ekor. Angka tersebut mengacu pada proyeksi dan data populasi yang dikutip dalam publikasi industri,” kata Judha dalam wawancara melalui telepon, Jumat (30/10/2026).
Menurut dia, jumlah kucing di Indonesia akan jauh lebih besar jika turut memperhitungkan populasi kucing liar. Mengacu pada estimasi Mars Petcare Indonesia pada 2025, jumlah keseluruhan kucing di Tanah Air diperkirakan mencapai sekitar 22 juta ekor.
“Jumlah keseluruhan kucing, termasuk kucing liar, mencapai sekitar 22 juta ekor. Estimasi tersebut mengacu pada data Mars Petcare Indonesia pada 2025,” ujar Judha di sela-sela kegiatan Pet Fair South-East Asia 2026 di Bangkok International Trade and Exhibition Centre (BITEC), Bangkok, Thailand.
Besarnya populasi kucing tersebut membuka peluang bagi industri makanan hewan untuk terus berkembang. Apalagi, pemilik hewan peliharaan kini semakin memperhatikan kualitas produk yang diberikan kepada hewan kesayangan mereka.
Hewan peliharaan bahkan telah menjadi bagian dari keluarga. Kondisi ini mendorong pemilik untuk memilih produk dengan bahan baku berkualitas tinggi, kandungan protein tertentu, metode pengolahan khusus, serta formula yang disesuaikan dengan kebutuhan spesifik hewan.
Tren tersebut menjadi peluang bagi produsen dalam negeri untuk meningkatkan daya saing, baik di pasar domestik maupun internasional.
Judha, yang juga menjabat sebagai direktur utama perusahaan di bidang makanan hewan peliharaan, mengatakan Indonesia memiliki potensi untuk memperluas pasar produk pet food. Sejumlah produk asal Indonesia bahkan telah memasuki pasar ekspor, termasuk negara-negara di kawasan Timur Tengah, Asia Tenggara, dan Eropa.
Perusahaan tempatnya berkiprah selama ini menjalankan kegiatan sebagai importir dan distributor utama produk Best In Show. Untuk menjawab kebutuhan pasar yang terus berkembang, perusahaan tersebut kemudian memperluas kegiatan usahanya dengan mendirikan PT BIS Food Indonesia pada 18 Februari 2014.
Perusahaan yang berlokasi di Desa Klapanunggal, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, itu dikembangkan sebagai perusahaan berskala nasional dengan jaringan agen dan distribusi produk di berbagai wilayah Indonesia.
Menurut Judha, partisipasi dalam pameran internasional menjadi salah satu langkah untuk memperluas wawasan mengenai perkembangan industri sekaligus membuka peluang bisnis baru.
“Kami sangat bangga menjadi bagian dari industri pet food asal Indonesia. Karena itu, kami berencana kembali mengikuti Pet Fair tahun depan. Selain pameran internasional, kami juga rutin mengikuti pameran di dalam negeri, seperti Indonesia International Pet Expo (IIPE) yang digelar setiap tahun,” kata Judha.
Ia berharap partisipasi dalam berbagai pameran dapat memperkuat posisi perusahaan sekaligus memperluas jaringan usaha di tengah persaingan industri makanan hewan yang semakin kompetitif.
Ekspor Thailand Terus Meningkat
Sementara itu, Deputi Direktur Jenderal Promosi Perdagangan Internasional Kementerian Perdagangan Thailand, Surintorn Sunthornsanan, mengatakan industri makanan hewan peliharaan dunia terus menunjukkan perkembangan positif.
Menurut dia, pertumbuhan tersebut antara lain didorong perubahan gaya hidup masyarakat yang semakin menjadikan hewan peliharaan sebagai bagian dari kehidupan keluarga. Perubahan ini turut meningkatkan permintaan terhadap makanan hewan berkualitas serta produk yang mendukung kesehatan dan kesejahteraan hewan.
“Seiring perkembangan tersebut, permintaan terhadap berbagai produk dan jasa yang berkaitan dengan pemeliharaan hewan kesayangan juga meningkat. Produsen asal Thailand diharapkan dapat memanfaatkan peluang ini untuk meningkatkan ekspor makanan hewan,” kata Surintorn.
Thailand menjadi salah satu negara yang aktif mengembangkan industri makanan hewan untuk memenuhi kebutuhan pasar internasional. Berdasarkan data yang disampaikan, nilai ekspor industri pet food Thailand pada 2025 mencapai US$3,28 miliar, meningkat 8,15 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
Kementerian Perdagangan Thailand juga terus mendorong peningkatan produksi dan ekspor guna mempertahankan pertumbuhan industri tersebut.
Dalam periode Januari–September 2026, nilai ekspor makanan hewan Thailand tercatat mencapai US$2,70879 miliar, meningkat 11,10 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Pertumbuhan tersebut menunjukkan bahwa industri makanan hewan peliharaan memiliki peluang ekonomi yang semakin besar di pasar global. Bagi Indonesia, perkembangan ini dapat menjadi momentum untuk memperkuat kapasitas produksi, meningkatkan standar mutu, mengembangkan inovasi produk, serta memperluas akses pasar ekspor.
Dengan potensi populasi hewan peliharaan yang besar dan meningkatnya perhatian masyarakat terhadap kualitas produk, industri pet food nasional berpeluang tumbuh menjadi salah satu sektor usaha bernilai tambah yang mampu bersaing di pasar internasional. (Liu)







Be First to Comment