Wamentan Muhammad Saleh Mustafa mengunjungi peternakan kambing di Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, untuk melihat langsung potensi pengembangan usaha peternakan dan produksi susu kambing. (Foto: Ist)
MAGELANG, NP — Wakil Menteri Pertanian (Wamentan) Muhammad Saleh Mustafa mendorong Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, mengoptimalkan potensi peternakan agar berkembang menjadi sentra produksi susu. Pengembangan unit pengolahan susu kambing milik Koperasi Produsen Rojo Koyo Utomo dinilai menjadi salah satu langkah strategis untuk meningkatkan nilai tambah produk peternakan sekaligus memperkuat kesejahteraan peternak.
Dorongan tersebut disampaikan Saleh saat meresmikan unit pengolahan susu kambing di Kabupaten Magelang, Kamis (29/10/2026). Ia menegaskan, pengembangan peternakan perlu diarahkan pada pembentukan ekosistem usaha yang tidak hanya mengandalkan produksi, tetapi juga memiliki sistem pengolahan dan pemasaran yang kuat.
“Bisa nggak Magelang ini menjadi sentra susu,” ujar Saleh dalam keterangan tertulis yang diterima redaksi, Jumat (30/10/2026).
Menurut Saleh, pembangunan fasilitas pengolahan harus diikuti dengan kepastian pasar agar produk yang dihasilkan benar-benar memberikan manfaat ekonomi bagi peternak. Karena itu, pemasaran perlu menjadi perhatian utama sejak awal pengembangan usaha.
“Ending terakhirnya marketing,” tegasnya.
Ia mengingatkan, peningkatan produksi dan pengolahan tidak akan memberikan hasil optimal apabila peternak masih menghadapi persoalan distribusi dan lemahnya posisi tawar dalam rantai perdagangan. Koperasi, menurutnya, harus mampu menjadi penghubung yang efektif antara peternak dan pasar.
Salah satu langkah yang dapat dilakukan adalah memperkuat pengadaan sarana produksi secara kolektif sekaligus membangun sistem pembelian yang terorganisasi. Dengan demikian, koperasi dapat membantu anggotanya memperoleh kebutuhan usaha secara lebih efisien dan meningkatkan daya saing produk.
“Jadi koperasi itu dibuat divisi pembelian,” ujarnya.
Selain itu, Saleh mendorong koperasi membangun hubungan langsung dengan pembeli atau penampung utama untuk memangkas rantai distribusi yang terlalu panjang. Langkah tersebut diharapkan dapat meningkatkan efisiensi perdagangan sekaligus memperbesar manfaat ekonomi yang diterima peternak.
“Koperasi langsung berhubungan dengan penampung utama, jadi tidak melalui level,” katanya.
Saleh juga menekankan pentingnya tata kelola koperasi yang baik, transparan, dan berorientasi pada keberlanjutan usaha. Inisiatif masyarakat dalam mengembangkan sektor peternakan, menurutnya, harus disertai pengelolaan yang bertanggung jawab agar dukungan yang diberikan dapat menghasilkan manfaat nyata bagi anggota koperasi.
Ia berharap pengembangan peternakan di Magelang tidak berhenti pada pembangunan fasilitas pengolahan, tetapi berlanjut menjadi usaha susu yang terintegrasi. Kepastian pasokan bahan baku, kualitas produk, penguatan kelembagaan, dan akses pasar menjadi faktor penting untuk menjaga keberlangsungan usaha.
Sementara itu, Bupati Magelang Grengseng Pamuji menegaskan, pertanian dan peternakan merupakan sektor fundamental bagi kehidupan masyarakat sekaligus penopang ketahanan pangan daerah dan nasional.
“Bagi kami masyarakat Kabupaten Magelang, pertanian, peternakan bukan hanya sebagai sektor yang menjadi pendukung, tapi ini adalah urat nadi kehidupan kami, Pak Wakil. Fondasi dalam kami menjaga keluarga, menjaga ketahanan pangan, dan mendorong kedaulatan pangan baik daerah maupun nasional,” ujar Grengseng.
Ia mengatakan, pengembangan sektor peternakan perlu diarahkan pada sistem agribisnis yang terintegrasi dari hulu hingga hilir. Peningkatan produksi harus berjalan seiring dengan pengolahan hasil, penguatan kelembagaan peternak, serta perluasan akses pemasaran agar produk yang dihasilkan memiliki nilai tambah.
Grengseng mengapresiasi langkah Koperasi Produsen Rojo Koyo Utomo dalam mengembangkan unit pengolahan susu kambing dengan dukungan konsultasi akademik dari Universitas Gadjah Mada (UGM). Pemerintah Kabupaten Magelang juga memberikan dukungan melalui penyediaan peralatan pengolahan.
Ia berharap keberhasilan koperasi tersebut dapat menjadi inspirasi bagi kelompok peternak lain untuk mengembangkan usaha serupa di wilayahnya.
“Saya berharap ini menjadi teladan, bukan hanya keteladanan di tingkatan Kabupaten Magelang, tapi saya berharap sekali akan muncul Rojo Koyo Utomo yang lain di Kabupaten Magelang,” kata Grengseng.
Dalam kegiatan tersebut, turut dilakukan penyerahan sertifikat halal, Nomor Kontrol Veteriner (NKV), dan sertifikat Cara Budidaya Ternak yang Baik. Penyerahan dokumen tersebut menjadi bagian dari upaya mendorong peningkatan standar pengelolaan peternakan dan jaminan mutu produk.
Acara juga diisi dengan demonstrasi aplikasi TUMRAPE atau Tumbuh Rekam Data Peternak, sebuah inovasi digital Pemerintah Kabupaten Magelang untuk mendukung pendataan dan pemantauan ternak.
Melalui aplikasi tersebut, peternak dapat memasukkan data ternak, termasuk identitas melalui barcode pada telinga ternak, informasi produktivitas, kondisi kesehatan, dan riwayat keturunan. Data yang terkumpul diharapkan membantu pemerintah daerah memetakan populasi ternak, memantau kesehatannya, mengantisipasi potensi penyebaran penyakit, serta meningkatkan ketertelusuran ternak.
Peresmian unit pengolahan susu kambing milik Koperasi Produsen Rojo Koyo Utomo menjadi langkah awal dalam memperkuat usaha peternakan berbasis koperasi di Kabupaten Magelang. Dengan dukungan kelembagaan, teknologi, dan akses pasar yang memadai, sektor peternakan diharapkan mampu menghasilkan nilai tambah sekaligus meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan peternak. (red)







Be First to Comment