JAKARTA, NP – Tebalnya kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) tidak hanya dipengaruhi luas dan besarnya kebakaran, tetapi juga kondisi atmosfer yang menyebabkan asap tertahan di dekat permukaan bumi. Fenomena yang dikenal sebagai inversi suhu atmosfer ini menjadi salah satu tantangan dalam operasi modifikasi cuaca karena dapat menghambat pertumbuhan awan yang diperlukan untuk menghasilkan hujan.
Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mendukung evaluasi ilmiah terhadap upaya penanggulangan kabut asap melalui operasi modifikasi cuaca menggunakan es kering (dry ice). Teknologi tersebut tengah diuji untuk mengetahui potensinya dalam memengaruhi kestabilan lapisan atmosfer yang menghambat pergerakan asap dan pembentukan awan hujan.
Perekayasa Utama Pusat Riset Limnologi dan Sumber Daya Air BRIN, Florentinus Heru Widodo, menjelaskan bahwa kondisi atmosfer di wilayah terdampak karhutla menghadirkan tantangan tersendiri bagi pelaksanaan modifikasi cuaca. Dalam kondisi atmosfer normal, suhu udara cenderung menurun seiring bertambahnya ketinggian sehingga udara hangat di dekat permukaan dapat bergerak naik melalui proses konveksi dan mendukung pertumbuhan awan.
Namun, ketika terjadi inversi suhu, lapisan udara yang lebih hangat berada di atas udara yang lebih dingin. Kondisi ini menghambat pergerakan vertikal udara sehingga pertumbuhan awan menjadi lebih sulit dan asap berpotensi terakumulasi di dekat permukaan.
“Lapisan inversi ini dapat diibaratkan sebagai penutup yang menghambat pergerakan udara ke atas. Akibatnya, asap dari kebakaran sulit menyebar secara vertikal dan semakin terkonsentrasi di dekat permukaan. Pada saat yang sama, kondisi atmosfer yang stabil juga menghambat pertumbuhan awan hujan,” jelas Heru, dikutip dari laman resmi BRIN, Senin (19/10/2026).
Penjelasan tersebut disampaikan Heru dalam rapat pengarahan bersama Tim Desk Terpadu Operasi Modifikasi Cuaca untuk Penanggulangan Karhutla di Posko Halim Perdanakusuma, Jakarta, Minggu (18/10/2026).
Salah satu pendekatan yang tengah diuji tim terpadu adalah penyemaian es kering atau karbon dioksida padat. Berbeda dengan penyemaian awan yang bertujuan meningkatkan peluang hujan pada awan yang memenuhi persyaratan, penggunaan es kering dalam kajian ini diarahkan untuk menguji kemungkinan perubahan kondisi termal pada lapisan inversi.
Es kering memiliki suhu sekitar minus 78,5 derajat Celsius. Ketika dilepaskan ke atmosfer, bahan tersebut mengalami sublimasi, yakni perubahan dari fase padat menjadi gas, dengan menyerap panas dari lingkungan sekitarnya.
Secara konseptual, pendinginan lokal tersebut diharapkan dapat memengaruhi perbedaan suhu dan kerapatan udara, memicu pergerakan udara setempat, serta meningkatkan peluang terjadinya pencampuran udara secara vertikal. Apabila perubahan yang terjadi cukup signifikan dan kondisi atmosfer mendukung, lapisan inversi berpotensi melemah sehingga pergerakan udara menjadi lebih leluasa dan pertumbuhan awan memiliki peluang untuk berkembang.
“Penggunaan es kering diharapkan dapat menimbulkan pendinginan lokal dan memengaruhi kestabilan udara pada lapisan inversi. Namun, mekanisme ini masih merupakan hipotesis ilmiah. Kita harus menguji apakah perubahan yang dihasilkan benar-benar cukup untuk melemahkan inversi dan mendukung pertumbuhan awan,” terang Heru.
Ia mengingatkan bahwa lapisan inversi dapat mencakup wilayah yang luas dengan tingkat kestabilan yang berbeda-beda. Karena itu, perubahan suhu pada satu lokasi belum tentu cukup untuk mengubah kondisi atmosfer secara keseluruhan.
Menurut Heru, keberhasilan metode tersebut tidak dapat disimpulkan hanya berdasarkan perkiraan mekanisme pendinginan. Efektivitasnya harus dibuktikan melalui pengamatan langsung dan analisis data atmosfer untuk memastikan perubahan yang terjadi benar-benar berkaitan dengan perlakuan yang diberikan.
Untuk mendukung evaluasi tersebut, BRIN dapat melakukan analisis berdasarkan data pengamatan atmosfer yang dikumpulkan oleh instansi pelaksana operasi dan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG). Data yang diperlukan mencakup profil suhu udara secara vertikal, kelembapan, ketinggian dan ketebalan lapisan inversi, serta berbagai parameter kestabilan atmosfer.
Salah satu instrumen yang dapat dimanfaatkan adalah radiosonde, yakni perangkat pengamatan yang memberikan informasi mengenai suhu, kelembapan, dan parameter meteorologi lainnya pada berbagai ketinggian. Selain itu, data pengukuran suhu selama penerbangan juga dapat digunakan untuk mengidentifikasi lapisan inversi dan memperkirakan ketebalannya.
Pengamatan sebelum, selama, dan sesudah penyemaian perlu dilakukan secara sistematis agar perubahan kondisi udara dapat didokumentasikan dan dibandingkan. Langkah tersebut penting untuk membedakan dampak perlakuan yang diberikan dari perubahan yang terjadi akibat dinamika cuaca secara alami.
Heru menegaskan bahwa efektivitas teknologi modifikasi cuaca sangat dipengaruhi oleh kondisi atmosfer ketika operasi dilaksanakan. Oleh karena itu, setiap pendekatan perlu dievaluasi berdasarkan bukti pengamatan, bukan semata-mata asumsi mengenai mekanisme kerjanya.
“Kita ingin memastikan bahwa setiap teknologi yang digunakan dalam penanggulangan bencana memiliki dasar ilmiah yang kuat. Data pengamatan menjadi kunci untuk mengetahui apakah perlakuan yang diberikan benar-benar memengaruhi lapisan inversi, atau apakah perubahan kondisi yang terjadi juga dipengaruhi dinamika cuaca lainnya,” pungkasnya. (red)







Be First to Comment