Deklarator Pemuda Indonesia Raya (PEMIRA), I Wayan Darmawan. Sejak dilantik pada 20 Oktober 2024, pemerintahan Presiden Prabowo Subianto banyak capaian dari target yang ditetapkan dalam Asta Cita yaitu delapan misi atau program utama, pemerintahan Prabowo. Diantaranya keberhasilan swasembada pangan dan pembangunan Kampung Nelayan Merah Putih (KNMP). (Foto,: PEMIRA)
JAKARTA, NP- Dua tahun lalu tepatnya 20 Oktober 2024, Presiden Prabowo Subianto resmi dilantik sebagai Presiden Republik Indonesia ke-8 di Gedung Nusantara, Kompleks Parlemen, Jakarta.
Dengan mengusung Asta Cita yaitu delapan misi atau program utama, pemerintahan Prabowo berhasil meraih sejumlah capaian target dalam kurun waktu kurang dari dua tahun atau lebih cepat dari target yang ditetapkan.
Atas capaian itu, Pemuda Indonesia Raya (PEMIRA) memberi apresiasi atas capaian tersebut. Keberhasilan swasembada pangan dan pembangunan Kampung Nelayan Merah Putih (KNMP) dinilai bukti keberpihakan Presiden kepada petani dan nelayan. Keberpihakan itu tercermin dalam Asta Cita tahun kedua pemerintahan Prabowo.
Deklarator PEMIRA, I Wayan Darmawan, mengatakan capaian sektor pangan adalah lompatan bersejarah.
“Dulu kita cemas setiap musim paceklik. Hari ini lumbung negara penuh, dan beras itu dibeli dari keringat petani kita sendiri, bukan dari luar negeri. Ini bukti komitmen Presiden Prabowo kepada petani,” ujar I Wayan Darmawan di Jakarta, Minggu (18/10/2026).
Penilaian disampaikan Darmawan, setelah pemerintah mencatat Indonesia tidak mengimpor beras sepanjang 2025.
Presiden Prabowo Subianto secara resmi mengumumkan keberhasilan Indonesia mencapai swasembada pangan nasional tahun 2025. Capaian swasembada diraih pada delapan komoditas pangan utama.
Wayan Darmawan menjelaskan per 11 Oktober 2026, stok fisik Cadangan Beras Pemerintah (CBP) melampaui 4,6 juta ton.
Pada tanggal yang sama, pengadaan beras dalam negeri oleh Perum Bulog mencapai 4,13 juta ton atau 103,29 persen dari target. Angka ini tertinggi sepanjang sejarah Bulog, melampaui rekor 3,65 juta ton pada 2012.
Menurut data Badan Pangan Nasional, delapan komoditas kini berstatus swasembada: beras, jagung, gula konsumsi, daging ayam ras, telur ayam, bawang merah, cabai besar, dan cabai rawit. Proyeksi total produksi kedelapan komoditas itu mencapai 72,91 juta ton, di atas kebutuhan nasional sebesar 68,22 juta ton. Surplusnya sekitar 4,69 juta ton.
Kesejahteraan petani ikut membaik. Nilai Tukar Petani (NTP) naik dari 104 pada 2024 menjadi 127,73 pada Juni 2026.
Kemajuan serupa terjadi di sektor kelautan dan perikanan. Pemerintah merampungkan 100 KNMP tahap pertama di 25 provinsi. Presiden Prabowo menargetkan sekitar 1.386 Kampung Nelayan Merah Putih beroperasi hingga akhir Desember 2026. Setiap kampung dilengkapi cold storage, pabrik es, SPBU nelayan, tambatan perahu, bengkel kapal, dan sentra kuliner.
Dampaknya sudah terasa. Di Kampung Samber-Binyeri, Biak Numfor, Papua, yang menjadi percontohan nasional, pendapatan nelayan naik 75 persen, dari Rp4,35 juta menjadi Rp7,73 juta per bulan. Produktivitas tangkapan meningkat 101 persen, sedangkan jenis lapangan kerja bertambah dari 2 menjadi 12. Pemerintah menargetkan Nilai Tukar Nelayan (NTN) naik dari sekitar 103 menjadi di atas 120.
“Masalah nelayan selama ini bukan soal menangkap ikan, tetapi ikan harus cepat dijual murah karena tidak ada pendingin dan pabrik es. Kampung Nelayan Merah Putih menjawab persoalan itu dari hulu ke hilir. Inilah ekonomi biru yang nyata dan berpihak pada rakyat pesisir,” kata Wayan Darmawan.
PEMIRA menegaskan komitmennya untuk mendukung penguatan implementasi Asta Cita. Para pemuda akan terjun ke pertanian modern dan perikanan, membawa teknologi ke desa dan kampung nelayan, serta ikut mengawal agar program tepat sasaran.
“Presiden sudah membuka jalannya. Tugas pemuda adalah mengisinya dengan ilmu, inovasi, dan kerja keras. Dari sawah dan laut kita bangun Indonesia Emas 2045,” tegas Darmawan.(har)






Be First to Comment