Press "Enter" to skip to content

Pergantian Tahun, Ustad Zainal Fajri S.Pd.I: Sikapi dengan Syariat Islam

Social Media Share

JAKARTA, NP– Pergantian tahun di Indonesia ditetapkan jatuh pada tiap 1 Januari seperti negara-negara lainnya di dunia karena Indonesia mengadopsi kalender Gregorian. Penanggalan tahun kalender ini menghitungnya berdasarkan tahun Masehi.

Seperti juga masyarakat di dunia, pergantian malam tahun baru yang umumnya menggunakan kembang api dalam mengisi moment pergantian tahun, hingga ini masih menjadi budaya masyarakat di Indonesia.

Ketua Dewan Masjid Indonesia (DMI) kelurahan Pondok Labu, Ustad Zainal Fajri S.Pd.I mengatakan tidaklah tepat mengisi pergantian tahun dengan membakar kembang api. Selain boros dan mubazir, budaya itu tidak sesuai dengan tuntutan ajaran Islam.

“Dalam merayakan apakah itu malam tahun baru Masehi meskipun kita berada di dalamnya (sebagai kalender nasional) tapi nabi tidak pernah mengajarkannya apalagi sampai ikut-ikut ritual orang-orang Yahudi. Yang dulu setiap tanggal 1 Januari itu, orang Yahudi membakar api unggun sambil bernyanyi-nyanyi,” ungkap Ustad Zainal Fajri dalam Kajian ba’da Isya dengan tema “Menyikapi Tahun Baru Masehi” di Masjid Jami Attaqwa Jalan Wijaya Kusuma II No.14A Komplek Depkes, Pondok Labu, Cilandak, Jakarta Selatan, Rabu (30/12/2023).


Ketua Dewan Masjid Indonesia (DMI) kelurahan Pondok Labu, Ustad Zainal Fajri S.Pd.I dalam Kajian ba’da Isya dengan tema “Menyikapi Tahun Baru Masehi” di Masjid Jami Attaqwa Jalan Wijaya Kusuma II No.14A Komplek Depkes, Pondok Labu, Cilandak, Jakarta Selatan, Rabu (30/12/2023). (Foto: narasipos.com)

Oleh karena itu, ia menekankan pentingnya mengikis budaya yang dibawa masyarakat non muslim dalam pergantian tahun seperti membakar kembang api (petasan), pesta pora dan budaya lain yang jauh dari syariat Islam yang diajarkan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam.

Ada banyak cara yang bisa dilakukan masyarakat untuk mengisi moment pergantian tahun yang muaranya pada Muhasabah. Yaitu koreksi terhadap perbuatan, sikap, kelemahan, kesalahan, dan sebagainya yang ada pada diri sendiri.

“Introspeksi! Ini saya sampaikan kepada putri putri bapak ibu utamanya. Apalagi dalam perkara sholat yang paling penting. Ketika di dalam kubur. Yang ditanya pertama bukan puasa, bukan shodaqoh, bukan bacaan Quran tapi yang ditanya pertama sholatnya,” ujar Ustad Zainal Fajri.

Ada bermacam sholat sunnah yang bisa dilakukan, utamanya sholat tahajud yang memang syariatnya dilaksanakan di malam hari.

Ia menekankan pentingnya tiap diri mengingat tentang hakikat sesungguhnya dari kehidupan yang dijalani ini. Karena sesungguhnya kita hidup di dunia ini pada hakikatnya diperintah Allah subhanahu wataʿala untuk beribadah. Seperti termaktub dalam Surat Az Zariyat ayat 56.

“Wama kholaqtul jinna wal insa illa liya’budun yang artinya tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepada-Ku,” terang Ustad Zainal Fajri.

Lebih jauh ia menekankan, kehadiran Nabi Muhammad SAW sebagai nur dengan wasiatnya berupa Al Quran dan Hadits merupakan lentera agar tiap diri tidak berjalan dalam kegelapan dalam meniti kehidupan.

Iapun menganalogikan ketika seorang berjalan di jalan dalam kondisi gelap maka tidaklah mampu mencapai ke lokasi tujuan. Karena berjalan dalam kondisi gelap maka banyak hal yang tidak diketahui bisa menabrak, terpeleset dan kejadian lain yang akan membuat seorang celaka.(dito)

 

Be First to Comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *