Press "Enter" to skip to content

Dihantam Gempa 7,7 Magnitudo, Rumah Modular BRIN Tetap Berdiri

Social Media Share

Rumah modular tahan gempa BRIN di Dusun Rangko, Manggarai Barat, tetap berdiri setelah gempa besar mengguncang NTT. Ketahanan bangunan menjadi kunci keselamatan warga di kawasan rawan gempa.(Foto: BRIN)

LABUAN BAJO, NP – Gempa bumi bermagnitudo 7,7 yang mengguncang Nusa Tenggara Timur (NTT) pada 15 Agustus 2026 menjadi ujian nyata bagi teknologi rumah tahan gempa Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN).

Hasilnya, tiga prototipe rumah modular BRIN di Dusun Rangko, Desa Tanjung Boleng, Kecamatan Boleng, Kabupaten Manggarai Barat, tetap berdiri meski diguncang gempa besar dan rentetan gempa susulan.

Pemantauan lapangan menunjukkan tidak ditemukan kerusakan struktural pada dinding, kolom maupun fondasi ketiga bangunan tersebut. Kerusakan yang ditemukan hanya bersifat kosmetik, berupa sejumlah keramik dinding kamar mandi yang terlepas dari ikatan semen pada panel sandwich EPS dan pecah akibat guncangan.

Kondisi tersebut mendorong BRIN untuk menjadikan teknologi rumah modular tahan gempa sebagai salah satu opsi dalam rehabilitasi dan rekonstruksi hunian masyarakat di daerah rawan bencana.

Perekayasa Ahli Muda BRIN, Vian Marantha Haryanto, mengatakan ketiga rumah tersebut sejak awal dirancang untuk menghadapi kondisi kegempaan tinggi, khususnya di wilayah seperti NTT.

“Rumah-rumah ini dirancang khusus dengan teknologi konstruksi tahan gempa untuk wilayah rawan bencana seperti NTT. Hasil ini membuktikan bahwa desain dan metode konstruksi yang kami terapkan mampu melindungi struktur bangunan, dan yang terpenting, melindungi keselamatan penghuninya, bahkan saat diguncang gempa sebesar ini,” ujar Vian melalui pesan tertulis, Senin (17/8/2026), dalam siaran pers yang diterima redaksi, Selasa (18/8/2026).

Menurut dia, gempa tersebut menjadi pembuktian langsung terhadap teknologi yang selama ini dikembangkan BRIN.

“Gempa besar yang mengguncang NTT pada 15 Agustus 2026 menjadi ujian lapangan bagi teknologi tersebut,” katanya.

Meski ketiga prototipe dinyatakan tetap dalam kondisi baik berdasarkan pemeriksaan lapangan, BRIN tidak berhenti pada hasil visual. Validasi teknis lanjutan akan dilakukan melalui pengujian laboratorium.

Pengujian direncanakan menggunakan metode uji siklik sesuai SNI 3966:2012 di Laboratorium Pusat Riset Kekuatan Struktur. Persiapan metode pengujian telah dilakukan dan pelaksanaannya direncanakan pada 2026.

Dokumentasi kondisi bangunan per 16 Agustus 2026 juga memperlihatkan ketiga rumah prototipe tersebut masih berdiri. Sebaliknya, pada lokasi yang berdekatan, bangunan SD Rangko dilaporkan mengalami kerusakan struktur akibat gempa.

Perbedaan kondisi itu menjadi bagian penting dalam evaluasi teknologi rumah modular tahan gempa yang dikembangkan BRIN sejak beberapa tahun terakhir.

Teknologi tersebut mulai dikembangkan sejak 2019. Sejumlah prototipe kemudian dibangun, antara lain dua unit di Kabupaten Tangerang, satu rumah dua lantai di Kabupaten Lebak pada 2021, serta tiga unit rumah di NTT pada akhir 2021.

BRIN kemudian mengembangkan generasi kedua rumah modular dengan menambahkan rubber bearing seismic. Komponen tersebut dirancang untuk membantu meredam dampak guncangan dengan memisahkan struktur bagian bawah dan atas bangunan.

Teknologi itu dikembangkan Pusat Riset Komposit dan Biomaterial BRIN dengan memanfaatkan karet alam atau polimer elastis sebagai material dasarnya.

“Rubber bearing seismic bekerja dengan memisahkan struktur bagian bawah dan atas bangunan. Ketika terjadi gaya geser akibat gempa, komponen tersebut dirancang untuk membantu menahan gaya geser sehingga dampak guncangan yang diterima struktur bangunan dapat dikurangi,” jelas Vian.

BRIN kini mendorong hasil evaluasi tersebut menjadi masukan dalam proses rehabilitasi dan rekonstruksi rumah warga terdampak bencana.

Pemerintah pusat dan daerah didorong mempercepat pemulihan hunian dengan tetap mengutamakan standar konstruksi tahan gempa. Teknologi rumah modular yang telah dikembangkan BRIN juga dinilai berpotensi direplikasi di kawasan rawan gempa lainnya di Indonesia.

BRIN menilai pembangunan kembali pascabencana tidak semestinya sekadar mengganti rumah yang rusak. Rekonstruksi harus sekaligus meningkatkan ketahanan bangunan agar masyarakat tidak kembali menghadapi risiko yang sama ketika gempa berikutnya terjadi.

Karena itu, penguatan teknologi perlu berjalan beriringan dengan kebijakan. BRIN merekomendasikan agar edukasi mitigasi bencana dan standar bangunan tahan gempa diintegrasikan ke dalam kebijakan perumahan daerah.

Gempa 7,7 magnitudo di NTT telah memberikan satu pelajaran penting: rumah tahan gempa bukan sekadar konsep di atas kertas. Ketika guncangan datang, ketahanan konstruksi menentukan keselamatan bangunan sekaligus penghuninya. (red)

Be First to Comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *