Rustani Simanjuntak menunjukkan Buku Ende Aksara Batak, karya yang lahir dari kegigihannya merawat dan menghidupkan kembali aksara warisan leluhur Batak. (Foto: Ist)
JAKARTA, NP — Mungkin masih sedikit orang Batak, terutama generasi muda, yang mengenal aksara Batak. Jangankan menulis menggunakan aksara warisan leluhur itu, membaca pun belum tentu mampu.
Keprihatinan tersebut mendorong Rustani Simanjuntak, SE, menulis buku Ende Aksara Batak. Buku tersebut diperkenalkannya di sela-sela ajang Indonesia International Book Fair (IIBF) 2026 di Jakarta Convention Center (JCC), Jakarta, Rabu (30/9/2026).
Rustani mengaku, gagasan menulis buku itu tidak muncul secara tiba-tiba. Sebelumnya, selama sekitar lima tahun, ia menggeluti pengembangan motif ulos sebagai bagian dari upaya memperkenalkan dan mengembangkan kebudayaan Batak.
“Lima tahun pertama kami mengerjakan pengembangan motif ulos untuk kebudayaan Batak. Itu pahit rasanya. Saya sering frustrasi, bahkan menangis karena sulitnya memasarkan karya inovasi budaya Batak,” tuturnya.
Namun, pengalaman tersebut justru menjadi pemicu baginya untuk bangkit. Rustani kemudian melihat tantangan lain yang tidak kalah penting, yakni bagaimana menjaga aksara Batak agar tidak semakin ditinggalkan.
Menurut dia, masyarakat Batak memiliki kekayaan budaya yang besar, termasuk sistem tulisan yang diwariskan leluhur.
“Orang Batak itu kaya secara kebudayaan. Dia punya tulisan, tulisan warisan leluhur. Di Indonesia cuma ada delapan suku yang mempunyai tulisan sendiri, salah satunya Batak,” ujarnya.
Ia menjelaskan, masyarakat Batak memiliki lima puak dengan kekhasan tradisi dan aksaranya masing-masing. Aksara Batak, menurut Rustani, bukan sekadar simbol tulisan, melainkan bagian penting dari kebudayaan yang dahulu digunakan untuk mewariskan pengetahuan dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Pertanyaan itu pula yang kemudian mendorong Rustani untuk mempelajari aksara Batak secara lebih serius. Namun, ia menemukan persoalan mendasar: minimnya literatur yang mudah diakses, khususnya mengenai aksara Batak Toba.
“Tidak ada literasi yang cukup. Tidak ada buku,” katanya.
Internet, menurut Rustani, memang menyediakan berbagai informasi. Namun, bagi pemula, sumber-sumber tersebut tidak selalu mudah digunakan sebagai pedoman karena bercampurnya informasi mengenai aksara Karo, Simalungun, Toba, dan Tapanuli Selatan.
“Kalau hanya belajar dari internet, di situ campur-aduk. Ada aksara Karo, Simalungun, Toba, dan Tapsel. Saya berpikir, buku mana yang bisa menjadi pedoman menulis aksara Batak Toba? Saya sebagai boru Batak Toba rindu belajar aksara Batak Toba,” ujarnya.
Kesulitan mendapatkan buku rujukan membuat Rustani berburu literatur hingga ke pasar buku langka di Eropa. Ia membeli buku-buku lama satu per satu, meski harus membayarnya dengan mata uang asing.
“Saya cari buku langka dan buku kuno. Saya beli satu per satu. Saya ini orang Batak yang rindu belajar, kemudian nanti saya gunakan untuk mengajar dan menulis,” katanya.
Menurut Rustani, buku-buku lama mengenai kebudayaan Batak justru banyak diminati peneliti Eropa. Salah satu hal yang menarik perhatian mereka adalah kebudayaan Batak dan konsep Dalihan Natolu.
Dari berbagai literatur tersebut, Rustani terus belajar hingga memahami kaidah atau patik dohot uhum panuraton aksara Batak. Ia juga mencari karya-karya penulis dan peneliti yang pernah mendokumentasikan aksara Batak.
Salah satu literatur penting yang kemudian ditemukannya adalah karya Van der Tuuk dari tahun 1855. Menurut Rustani, Van der Tuuk dikenal sebagai salah satu tokoh yang mengumpulkan dan mendokumentasikan berbagai naskah aksara Nusantara, termasuk aksara Bali, Jawa, dan Batak.

Berawal dari Mengajar
Perjalanan Rustani dalam melestarikan aksara Batak kemudian berlanjut pada 2019. Ia mulai mengajarkan aksara Batak sebagai sukarelawan di HKBP Taman Mini, Jakarta.
“Saya mulai mengajar aksara Batak tahun 2019 di HKBP Taman Mini. Di situ saya mengajar sebagai voluntir,” katanya.
Pengajaran tersebut berlangsung sekitar dua bulan. Setelah terjadi pergantian pendeta, kegiatan tersebut tidak berlanjut.
Rustani kemudian menunggu kabar mengenai kelanjutan kegiatan tersebut. Namun, hingga akhir Agustus 2019, kabar yang ditunggunya tidak kunjung datang.
Situasi tersebut justru membuatnya mengambil keputusan untuk mulai menulis sendiri bahan pembelajaran aksara Batak.
“Sehingga saya berpikir, baiklah saya kerjakan. Menulis aksara Batak itu ada pada Buku Ende,” ujarnya.
Menurut dia, mengintegrasikan aksara Batak dengan aksara Latin dalam Buku Ende merupakan salah satu strategi untuk memperkenalkan kembali aksara Batak kepada masyarakat, terutama generasi muda.
“Dengan mengintegrasikan aksara Batak dengan aksara Latin dalam Buku Ende, saya melihat ini sebagai strategi untuk melestarikan aksara Batak,” katanya.
Namun, proses pembuatan buku tersebut ternyata tidak sederhana. Rustani semula menulis menggunakan perangkat Android. Ketika dipindahkan ke komputer, aksara yang digunakannya tidak terbaca sebagaimana mestinya.
“Awalnya saya tulis di Android, kemudian ketika dipindahkan ke PC tidak dikenal. Maka semuanya harus digambar ulang dan disusun kembali satu per satu,” tuturnya.
Setelah melalui proses panjang tersebut, lahirlah Buku Ende Aksara Batak dalam bentuk dummy.
Bagi Rustani, buku itu bukan sekadar karya tulis. Ia merupakan bagian dari upaya untuk membuka kembali akses generasi sekarang terhadap salah satu warisan budaya leluhur Batak.
“Ini bukan hanya soal bisa menulis aksara Batak. Yang lebih penting adalah bagaimana kita kembali mengenal tulisan yang diwariskan leluhur dan meneruskannya kepada generasi berikutnya,” ujarnya.(red)







Be First to Comment