Rumah keluarga almarhum Bangun Samudera (1929–2002), diplomat Indonesia di Jepang pada 1954–1958 dan ahli perbankan, di kawasan Dempo, Kebayoran Baru, Jakarta. (Foto: Ist)
JAKARTA, NP – Rumah itu seperti sebuah pulau kecil yang bertahan di tengah kepungan zaman. Di satu sisi berdiri rumah-rumah baru dengan arsitektur modern. Di sisi lain, bangunan tua peninggalan masa kolonial Belanda itu tetap dipertahankan.
Bagi Dewi Arti, rumah di bilangan Kebayoran Baru tersebut bukan sekadar bangunan tua. Di balik dinding dan ruang-ruangnya tersimpan perjalanan hidup ayahnya, Bangun Samudera (1929–2002), seorang pejabat Indonesia yang pernah dikirim ke Jepang pada masa awal republik untuk menjalankan tugas diplomatik dan perdagangan.
Rumah itu dibeli dari hasil kerja keras sang ayah. Karena itu, merobohkannya bukan pilihan.
“Almarhum ayah saya dulunya menjabat wakil kepala kantor Perwakilan Perdagangan dari Departemen Perdagangan di Jepang. Waktu bertugas dari tahun 1954 sampai 1958, masih zaman Bung Karno,” kata Dewi Arti di Jakarta, Selasa (11/8/2026).
Bangun Samudera bukan diplomat dalam pengertian formal seperti yang dikenal sekarang. Ketika dikirim ke Jepang, Indonesia bahkan belum memiliki KBRI. Namun, kemampuannya menguasai sejumlah bahasa asing—Belanda, Jerman, Inggris, Prancis, dan Jepang—membuatnya dipercaya menjalankan tugas penting.
Posisinya di kantor Perwakilan Perdagangan Indonesia di Tokyo, menurut Dewi, kurang lebih merupakan orang kedua. Dalam struktur sekarang, kedudukannya dapat dibandingkan dengan wakil kepala perwakilan diplomatik.
Saat itu usianya baru sekitar 25 tahun.
“Karena waktu ayah saya mulai dikirim ke Jepang, memang belum ada KBRI. Ia masih bujangan, belum bertemu almarhumah ibu saya,” ujar Dewi.

Sekolah, Perang, Sekolah Lagi
Kehidupan Bangun Samudera dan sejumlah tokoh yang kelak menjadi pejabat tinggi republik memang tidak terpisahkan dari pergolakan zaman.
Di masa muda, ia bersekolah di Hollandsch-Inlandsche School (HIS) Purwokerto. Di sekolah itu pula ia mengenal sejumlah tokoh yang kemudian menjadi pejabat penting, antara lain Roesmin Noerjadin dan Faisal Abda’oe.
Persahabatan mereka tidak berhenti di ruang kelas. Pendudukan Jepang memaksa mereka menjalani kehidupan yang jauh dari normal.
“Mereka sekolah di HIS, lalu perang, sekolah lagi dan perang lagi. Karena sama-sama berjuang, mereka akrab,” tutur Dewi.
Roesmin Noerjadin kemudian dikenal sebagai tokoh militer dan pernah menjabat Menteri Perhubungan pada 1978–1983 serta 1983–1988. Sementara Faisal Abda’oe pernah menjadi Direktur Utama Pertamina pada Agustus 1988 hingga Januari 1998.
Ketika Bangun Samudera telah menetap di Jakarta, hubungan lama itu tetap terpelihara.
Rumah keluarga di kawasan Dempo, Kebayoran Baru, menjadi salah satu tempat pertemuan mereka. Faisal Abda’oe, kata Dewi, termasuk yang cukup sering datang.
“Terutama Pak Faisal Abda’oe sering ke rumah dan ngobrol dengan ayah saya. Mungkin sambil temu kangen, karena mereka teman sekolah di HIS Purwokerto. Walaupun dia seorang direktur utama Pertamina, mau menemui ayah saya,” katanya.
Roesmin Noerjadin dan Soepardjo Rustam juga dekat dengan Bangun Samudera. Bahkan, menurut Dewi, Roesmin masih memiliki hubungan kekerabatan dengan keluarganya.
Dikirim ke Negeri Bekas Penjajah
Setelah Indonesia merdeka, Bangun Samudera justru dikirim ke Jepang, negara yang beberapa tahun sebelumnya menduduki Indonesia.
Tugasnya bukan ringan. Ia ikut dalam pembahasan dan negosiasi mengenai pampasan perang Jepang kepada Indonesia.
Pampasan perang merupakan kompensasi atas kerugian yang ditimbulkan akibat perang. Dalam konteks hubungan Indonesia-Jepang, persoalan tersebut menjadi salah satu agenda penting pada masa awal hubungan kedua negara setelah perang.
Bangun Samudera memiliki modal yang tidak banyak dimiliki orang pada zamannya: kemampuan bahasa asing dan pengalaman diplomasi. Pemerintah juga kemudian memberinya kesempatan memperdalam ilmu perbankan di Jepang.
Dari cerita yang disampaikan kepada keluarga, proses negosiasi pampasan perang tersebut kemudian berkontribusi pada berbagai proyek pembangunan di Indonesia. Dewi menyebut Waduk Jatiluhur di Purwakarta dan Hotel Borobudur sebagai beberapa di antaranya.
“Pemerintah Indonesia menyekolahkan ayah saya belajar ilmu perbankan di Jepang. Dari pengetahuan mengenai perbankan dan bakatnya sebagai diplomat, Indonesia mendapat ganti rugi dari Jepang,” ujar Dewi.
Selama bertugas di Jepang, Bangun Samudera tinggal seorang diri di rumah dinas di Tokyo. Sejumlah pejabat Indonesia yang berkunjung ke Jepang pun pernah menginap di sana.
Salah satunya Soediro, yang menjabat pada November 1953 hingga Januari 1960.
Bangun Samudera bertugas di Jepang sekitar 1954–1958. Setelah itu ia kembali ke Indonesia dan melanjutkan perjalanan kariernya.

Dari Tokyo ke Bank Indonesia
Kepulangan ke Indonesia membawa konsekuensi lain. Fasilitas dan penghasilan yang pernah dinikmatinya selama bertugas di Jepang tidak lagi sama.
“Waktu di Jepang, ia merasakan banyaknya fasilitas dan gaji dalam bentuk mata uang yen yang disesuaikan dengan kondisi negara Jepang pada waktu itu,” kata Dewi.
Ia kemudian melamar bekerja di The Javache Bank, lembaga perbankan warisan kolonial Belanda yang dalam perjalanan sejarah Indonesia menjadi Bank Indonesia.
Dewi mengaku tidak terlalu mengingat detail perjalanan karier ayahnya di bank sentral tersebut, termasuk usia pensiun dan golongan kepegawaiannya.
“Saya tidak memperhatikan berbagai hal, seperti usia pensiun, golongan kepegawaian dan lain sebagainya. Mungkin karena saat ayah saya masih menjabat, saya masih duduk di bangku sekolah,” ujarnya.
Saat Bangun Samudera berkarier di Bank Indonesia, Indonesia telah memasuki era Presiden Soeharto. Pada dekade 1970-an, investasi Jepang mulai mengalir lebih deras ke Indonesia.
Pengalaman Bangun Samudera di Jepang, kemampuan bahasa asing, pengetahuan perbankan, dan pengalaman diplomatik menjadi bagian dari perjalanan kariernya.
Namun, bagi keluarganya, semua itu kini bukan sekadar catatan masa lalu.

Sebuah Rumah, Sebuah Ingatan
Bangun Samudera telah meninggal pada 2002. Tetapi, cerita tentang dirinya belum benar-benar selesai.
Ia meninggalkan lebih dari sekadar kenangan tentang jabatan dan tugas negara. Ia meninggalkan sebuah rumah tua yang kini berada di tengah perubahan wajah Kebayoran Baru.
Rumah tersebut semakin terasa kontras dengan bangunan-bangunan modern di sekitarnya. Tetapi justru di situlah letak nilai yang ingin dipertahankan Dewi.
Rumah itu menjadi saksi bisu perjalanan seorang anak bangsa yang tumbuh pada masa kolonial, bersekolah di HIS, mengalami masa perang, kemudian dipercaya republik menjalankan tugas ke negeri yang pernah menjajah Indonesia.
Dari rumah dinas di Tokyo, ia ikut membicarakan pampasan perang. Dari dunia diplomasi, ia masuk ke perbankan. Dan dari hasil kerja keras itulah, kemudian berdiri rumah yang kini dipertahankan keluarganya.
“Dari cerita-cerita ayah saya kepada anak-anaknya, rasa bangganya masih terselip sampai sekarang,” kata Dewi.
Karena itu, ketika rumah-rumah baru terus bermunculan dan arsitektur lama perlahan tersisih, Dewi memilih mempertahankan rumah tersebut.
“Sehingga kami juga tetap mempertahankan rumah yang dulunya dibangun semasa pemerintahan kolonial Belanda, dan dibeli dari kerja keras beliau,” kenangnya.
Rumah tua itu akhirnya menjadi lebih dari sekadar peninggalan keluarga.
Ia adalah arsip yang tidak ditulis di atas kertas—tentang seorang ayah, sebuah generasi, dan republik muda yang sedang mencari tempatnya di tengah dunia. (Liu)







Be First to Comment