Press "Enter" to skip to content

Camino de Flores, Menyusuri Flores Lewat Ziarah, Budaya, dan Persaudaraan

Social Media Share

Camino de Flores memadukan spiritualitas, alam, budaya, dan kehidupan masyarakat dalam perjalanan penuh makna di Pulau Flores. (Foto: Ist)

 

NGADA, NP – Perjalanan Camino de Flores: The Sacred Journey of Flores – A Spiritual Journey of Reflection and Recovery resmi memulai Etape Tengah pada Jumat (23/10/2026) sore. Ditandai dengan Misa pembukaan di Taman Rohani Maria Ratu Semesta Alam Wolowio, Beiposo, Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT), perjalanan ini mengajak peserta menyelami kekayaan spiritual, alam, budaya, dan kehidupan masyarakat Flores melalui ziarah berjalan kaki.

Berlangsung pada 23–27 Oktober 2026, perjalanan tersebut menghubungkan Kabupaten Ngada, Nagekeo, hingga Ende. Selain menjadi ruang refleksi spiritual, kegiatan ini diharapkan membuka peluang pengembangan wisata religi yang lebih mendalam sekaligus memperkenalkan potensi daerah di luar destinasi wisata yang telah dikenal luas.

Usai Misa pembukaan, rangkaian kegiatan dilanjutkan dengan perarakan Patung Bunda Maria dan perjalanan berjalan kaki menuju Kampung Adat Beiposo. Setiap langkah dalam perjalanan ini menjadi kesempatan bagi peserta untuk berdoa, berefleksi, serta membangun kedekatan dengan alam dan masyarakat setempat.

Sekitar 70 peserta dijadwalkan menempuh perjalanan sejauh kurang lebih 70 kilometer melalui rute Bajawa–Boawae–Ende. Sebagai proyek percontohan, pelaksanaan Etape Tengah ini diharapkan menjadi pijakan bagi pengembangan pola perjalanan wisata religi yang menghubungkan situs spiritual, kekayaan budaya, dan bentang alam Pulau Flores.

Hari pertama perjalanan ditutup dengan makan malam bersama di Kampung Adat Beiposo. Kegiatan tersebut dihadiri Wakil Bupati Ngada Bernadinus Dhey Ngebu, para imam dan rohaniwan, umat, tokoh adat, serta masyarakat setempat.

Suasana kebersamaan itu mencerminkan keramahan masyarakat Ngada dalam menyambut para peserta. Tradisi penyambutan melalui sapaan adat, pengalungan selendang, tarian, hingga makan bersama menjadi bentuk penghormatan sekaligus ungkapan penerimaan terhadap para tamu.

Dalam sambutannya, Wakil Bupati Ngada Bernadinus Dhey Ngebu mengapresiasi kehadiran peserta Camino de Flores yang memberikan kesempatan bagi masyarakat untuk memperkenalkan kekayaan alam, budaya, tradisi, dan nilai persaudaraan di Kabupaten Ngada.

Ia menjelaskan, makan bersama dalam tradisi masyarakat setempat bukan sekadar kegiatan seremonial, melainkan memiliki makna mendalam dalam membangun hubungan antarsesama.

“Dalam tradisi masyarakat Ngada, makan bersama memiliki makna yang mendalam. Kita duduk bersama tanpa sekat, bertukar hidangan, bertukar cerita, dan membangun kedekatan dengan sesama,” ungkapnya dalam keterangan tertulis yang diterima redaksi, Minggu (25/10/2026).

Makan bersama tersebut menjadi ruang perjumpaan antara peserta dan masyarakat lokal. Melalui interaksi sederhana itu, hubungan antarsesama diperkuat sekaligus menghadirkan pengalaman budaya yang menjadi bagian penting dari perjalanan Camino de Flores.

Inisiator Camino de Flores, Mari Elka Pangestu, juga menyampaikan rasa syukur atas sambutan masyarakat sepanjang hari pertama perjalanan. Ia menuturkan, gagasan Camino de Flores berangkat dari pengalamannya mengikuti perjalanan Camino de Compostela di Spanyol.

Pengalaman tersebut memberinya ruang untuk berefleksi, mengenali diri, serta mempererat hubungan dengan keluarga dan sesama pejalan. Berangkat dari pengalaman itu, ia ingin menghadirkan perjalanan serupa di Flores dengan mengangkat kekayaan alam, budaya, dan spiritualitas yang dimiliki pulau tersebut.

Flores dipilih karena memiliki potensi yang beragam, termasuk destinasi di wilayah tengah pulau yang belum banyak dikenal wisatawan. Melalui perjalanan berjalan kaki, peserta diharapkan dapat berinteraksi lebih dekat dengan masyarakat, mengenal potensi lokal, serta menemukan makna dari setiap perjumpaan.

“Perjalanan ini diharapkan dapat menggalang dukungan bagi pembangunan Flores dan mendorong semakin banyak orang untuk mengenal berbagai wilayah di Pulau Flores. Camino de Flores ini harapannya juga dapat terus dikembangkan dan diselenggarakan kembali dengan memperhatikan pembelajaran dari pelaksanaan pilot project ini,” kata Mari.

Dalam kesempatan yang sama, Vikaris Episkopal (Vikep) Bajawa mengajak peserta memaknai perjalanan melalui semboyan El camino es la meta, yang berarti perjalanan itu sendiri adalah tujuan.

Menurutnya, Camino de Flores tidak semata-mata berorientasi pada tempat yang hendak dicapai. Proses perjalanan, pengalaman spiritual, perjumpaan dengan sesama, serta keterhubungan dengan alam dan budaya merupakan bagian penting dari makna ziarah tersebut.

Semangat kepedulian juga mewarnai hari pertama penyelenggaraan. Mari Elka Pangestu menyerahkan bantuan secara simbolis untuk mendukung penataan kawasan Taman Rohani Maria Ratu Semesta Alam Wolowio. Bantuan lainnya mencakup dukungan pembangunan toilet yang telah dibangun sebelum kegiatan Camino berlangsung, perlengkapan doa berupa rosario, serta pakaian hangat, seprai, dan selimut untuk menunjang kenyamanan masyarakat di Beiposo.

Dukungan tersebut menjadi bagian dari semangat berbagi yang menyertai perjalanan Camino de Flores, sekaligus memperkuat hubungan antara peserta dan masyarakat yang menjadi tuan rumah.

Sementara itu, Pelaksana Tugas (Plt.) Direktur Utama Badan Pelaksana Otorita Labuan Bajo Flores (BPOLBF), Andhy MT Marpaung, menilai Camino de Flores sebagai peluang untuk memperkuat pengembangan wisata religi Katolik di Pulau Flores.

Melalui perjalanan berjalan kaki yang menghubungkan situs religi, gereja, kampung adat, bentang alam, dan tradisi masyarakat, kegiatan ini menawarkan pengalaman wisata yang lebih utuh. Peserta tidak hanya mengunjungi suatu destinasi, tetapi juga berkesempatan mengenal kehidupan masyarakat dan nilai-nilai yang tumbuh di dalamnya.

“Camino de Flores membuka peluang untuk memperkenalkan Flores melalui pengalaman perjalanan yang lebih mendalam, dengan menghubungkan spiritualitas, alam, budaya, dan kehidupan masyarakat. Pengembangan pola perjalanan wisata religi ini diharapkan dapat memperluas persebaran kunjungan wisatawan, mendorong wisatawan tinggal lebih lama, serta menghadirkan manfaat ekonomi yang lebih luas bagi masyarakat lokal,” ujar Andhy.

Ia menambahkan, pengembangan pola perjalanan tersebut membutuhkan kolaborasi antara pemerintah pusat dan daerah, gereja, komunitas lokal, pelaku pariwisata, serta masyarakat. Kerja sama diperlukan untuk memastikan kesiapan rute, kenyamanan dan keamanan peserta, serta keberlanjutan destinasi yang dilalui.

Melalui pelaksanaan Etape Tengah pada 23–27 Oktober 2026, Camino de Flores diharapkan menjadi langkah awal dalam menghadirkan pengalaman wisata yang lebih bermakna. Lebih dari sekadar perjalanan spiritual, kegiatan ini diharapkan memperluas pengenalan potensi daerah di luar Labuan Bajo, memperkuat keterlibatan masyarakat lokal, serta mendorong pengembangan pariwisata Flores yang berkualitas dan berkelanjutan. (red)

 

Be First to Comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *