Wakil Gubernur DKI Jakarta, Rano Karno, menyampaikan sambutan pada perayaan Waisak bertema Glow of Peace di Bundaran HI, Jakarta. (Foto: Ist)
JAKARTA, NP – Bhikkhu Sangha Theravada Indonesia (STI), Dhammasubho Mahathera, mengajak umat kembali merenungkan ajaran Buddha Gautama yang tetap relevan sepanjang zaman, mulai dari era kolonial hingga generasi milenial, dalam perayaan Waisak bertema Glow of Peace di Bundaran HI, Jakarta, Jumat (29/5/2026) malam.
Menurut Dhammasubho, perayaan Waisak di pusat kota yang dikelilingi gedung-gedung pencakar langit bukan sekadar menampilkan gemerlap Jakarta, melainkan juga mencerminkan semangat kebersamaan dan harmoni.
“Semangat dengan nilai-nilai luhur ajaran Buddha menuju kehidupan yang harmonis dan penuh welas asih di tengah keberagaman warga Jakarta,” kata Dhammasubho saat menyampaikan sambutan yang didampingi lima tokoh agama.

Acara yang berlangsung pukul 18.30 hingga 20.00 WIB itu dimeriahkan berbagai pertunjukan seni, baik bernuansa Buddhis maupun budaya Betawi. Peserta yang hadir tidak hanya umat Buddha, tetapi juga masyarakat dari berbagai lapisan dan lintas agama.
Kegiatan tersebut diselenggarakan oleh Pemerintah Provinsi DKI Jakarta bersama Perwakilan Umat Buddha Indonesia dan Persatuan Umat Buddha Indonesia. Sejumlah pejabat dan tokoh masyarakat turut hadir, di antaranya Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Buddha Kementerian Agama, Supriyadi, serta Sekretaris Jenderal Permabudhi, Philip K. Wijaya.
Sementara itu, Wakil Gubernur DKI Jakarta, Rano Karno, menilai perayaan Waisak dari tahun ke tahun selalu berlangsung khidmat. Menurutnya, perayaan tahun ini memiliki makna khusus karena untuk pertama kalinya digelar di kawasan pusat kota Jakarta, tepatnya di Bundaran HI.

Ia mengatakan momentum tersebut semakin memperkuat posisi Jakarta sebagai kota global yang dihuni lebih dari 11 juta penduduk yang menjunjung tinggi budaya, inklusivitas, toleransi, dan keberagaman.
“Bundaran HI sudah menjadi halaman bersama bagi seluruh warga, mulai dari festival Imlek, pawai ogoh-ogoh dalam rangka Hari Suci Nyepi, hingga berbagai kegiatan lainnya. Tempat ini terus menjadi cerminan keberagaman,” kata Rano Karno saat memberikan sambutan.
Menurut Rano, tema Glow of Peace tidak hanya diwujudkan melalui cahaya yang menghiasi Bundaran HI, tetapi juga melalui semangat ketenteraman yang terpancar dari seluruh warga Jakarta.

“Makna Waisak mengingatkan kita pada kebijaksanaan, welas asih, dan harmoni. Nilai-nilai tersebut melampaui berbagai batas dan perbedaan, serta menerangi kehidupan masyarakat yang hidup berdampingan dalam keberagaman,” ujarnya.
Ia berharap semangat Glow of Peace tidak hanya indah dipandang, tetapi juga dapat dirasakan dalam kehidupan sehari-hari.
“Saya berharap Glow of Peace bukan sekadar indah dilihat, tetapi juga dirasakan. Setiap cahaya dari gedung-gedung pencakar langit mengingatkan kita bahwa Jakarta dapat terus tumbuh menjadi kota yang aman, nyaman, dan penuh welas asih,” katanya.
Rano juga mengajak para pemimpin dan tokoh agama Buddha untuk ikut berkontribusi membangun Jakarta melalui langkah-langkah sederhana, seperti membiasakan pemilahan sampah di lingkungan tempat tinggal maupun rumah ibadah.
“Dari hal-hal sederhana itulah kita dapat terus mendorong Jakarta menjadi kota global yang toleran, aman, dan nyaman,” ujarnya.

Pada kesempatan yang sama, pengusaha nasional yang juga umat Buddha, David Herman Jaya, mengaku bahagia dapat merayakan Waisak di ruang terbuka di tengah hiruk-pikuk aktivitas kota dan dunia usaha.
“Acara berjalan lancar dan khidmat. Selain itu, Waisak di Bundaran HI menjadi bentuk kolaborasi dua organisasi besar umat Buddha, yakni Permabudhi dan Walubi. Sebelumnya masing-masing menyelenggarakan perayaan secara terpisah, namun kali ini keduanya dapat bekerja bersama,” kata David Herman.
David yang merupakan pendiri New Armada Group menilai kolaborasi tersebut menjadi simbol persatuan umat Buddha sekaligus memperkuat semangat kebersamaan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. (Liu)







Be First to Comment