Press "Enter" to skip to content

Si Talbak Coffee, Misi Manat Samosir Angkat Martabat Petani Kopi Humbang Hasundutan

Social Media Share
Manat Samosir (kanan) bersama pengunjung di Si Talbak Coffee & Resto, Doloksanggul, Humbang Hasundutan. Suasana ruangan yang sejuk dan nyaman dilengkapi hiburan live music, menjadikan tempat ini pilihan untuk bersantai sambil menikmati kopi lokal. (Foto: Ist)

JAKARTA, NP – Berangkat dari keprihatinan terhadap kebiasaan masyarakat yang belum sepenuhnya menikmati kopi arabika lokal, Manat Samosir mendirikan Si Talbak Coffee & Resto di Jalan Siliwangi Ujung, Desa Sirisirisi, Kecamatan Doloksanggul, Kabupaten Humbang Hasundutan, Sumatera Utara.

Berdiri sejak 2020, usaha ini tidak sekadar menghadirkan tempat menikmati kopi, tetapi juga membawa misi mengangkat nilai ekonomi kopi lokal sekaligus meningkatkan kesejahteraan petani.

Manat mengatakan, ide mendirikan Si Talbak Coffee & Resto berawal dari kenyataan bahwa kopi Humbang Hasundutan telah dikenal hingga pasar mancanegara. Namun, masyarakat di daerah penghasil kopi tersebut justru masih banyak yang mengonsumsi kopi campuran jagung.

“Keprihatinan kami adalah kopi Humbang sudah begitu populer sampai mancanegara, tetapi masyarakatnya rata-rata masih mengonsumsi kopi campur jagung. Kondisi ini bahkan sebagian masih berlangsung sampai sekarang,” ungkap Manat kepada redaksi melalui percakapan telepon, Selasa (3/11/2026).

Berangkat dari pemikiran tersebut, ia ingin menghadirkan ruang bagi masyarakat untuk lebih mengenal dan menikmati kualitas kopi yang berasal dari kebun mereka sendiri.

Pembibitan kopi yang dilakukan secara konsisten menjadi bagian dari upaya Si Talbak Coffee & Resto dalam membina petani dan menjaga keberlanjutan produksi kopi lokal Humbang Hasundutan. (Foto: Ist)

Keistimewaan Si Talbak Coffee & Resto terletak pada komitmennya menggunakan 100 persen kopi dari petani binaan. Para petani tersebut tergabung dalam Koperasi Kopi Lintong Humbang Hasundutan yang menjadi bagian penting dari ekosistem usaha tersebut.

“Kopi yang diseduh di Si Talbak Coffee seluruhnya berasal dari petani yang kami bina secara berkelanjutan. Mereka tergabung dalam wadah Koperasi Kopi Lintong Humbang Hasundutan,” jelasnya.

Untuk memberikan pengalaman berbeda kepada pelanggan, Si Talbak Coffee menawarkan sejumlah sajian kopi andalan, di antaranya V60 dan kopi sanger. Kedua menu tersebut menjadi pilihan bagi pencinta kopi yang ingin menikmati karakter dan cita rasa kopi lokal.

Dari Dipandang Mahal hingga Menjadi Ikon

Perjalanan membangun Si Talbak Coffee & Resto bukan tanpa tantangan. Pada awal pendiriannya, sebagian masyarakat sempat mempertanyakan harga kopi yang ditawarkan. Berada di kawasan pedesaan, harga tersebut dinilai relatif mahal dibandingkan kebiasaan konsumsi kopi masyarakat setempat.

Namun, seiring waktu, penerimaan masyarakat mulai tumbuh. Si Talbak Coffee & Resto kini berkembang menjadi salah satu ikon kedai kopi di Kabupaten Humbang Hasundutan.

Untuk membangun usaha tersebut, Manat mengungkapkan telah menginvestasikan modal sekitar Rp 2 miliar. Saat ini, usaha itu mempekerjakan enam orang karyawan dengan jumlah pengunjung berkisar 300 hingga 500 orang per bulan.

Penyerahan bantuan pupuk organik dan mesin pelubang tanah kepada perwakilan tiga kelompok tani dari total 35 kelompok penerima manfaat sebagai upaya mendukung peningkatan produktivitas pertanian. (Foto: Ist)

Adapun harga menu yang ditawarkan relatif terjangkau, yakni berkisar Rp 10.000 hingga Rp 25.000. Meski demikian, Manat mengakui perkembangan omzet masih cenderung stagnan, terutama di tengah kondisi ekonomi yang cukup menantang.

“Untuk omzet, sejauh ini masih stagnan, apalagi dalam situasi ekonomi yang cukup sulit seperti sekarang,” ujarnya.

Terhubung Langsung dengan Petani

Salah satu kekuatan Si Talbak Coffee & Resto adalah keterlibatan langsung dalam rantai pasok kopi. Seluruh bahan baku kopi diperoleh dari petani binaan melalui Koperasi Kopi Lintong Humbang Hasundutan.

Melalui pola kemitraan tersebut, hasil panen petani dibeli dalam bentuk gabah kopi, kemudian diproses di fasilitas pengolahan yang dimiliki. Sebagian hasil pengolahan dipasarkan dalam bentuk kopi sangrai atau roasted bean, sementara sebagian lainnya dijual sebagai green bean ke pasar dalam dan luar negeri.

Pola ini tidak hanya memastikan ketersediaan bahan baku, tetapi juga memberikan nilai tambah bagi hasil perkebunan petani.

Gedung Si Talbak Coffee & Resto di Doloksanggul, Kabupaten Humbang Hasundutan, Sumatera Utara, yang menjadi salah satu tempat menikmati kopi arabika lokal. (Foto: Ist)

Menurut Manat, pembinaan petani menjadi kunci utama dalam mempertahankan kualitas produk sekaligus menghadapi persaingan bisnis kedai kopi yang semakin ketat.

“Pembinaan kepada petani merupakan kunci utama kami dalam menghadapi persaingan bisnis. Kami ingin memastikan petani mendapatkan pendampingan sehingga kualitas kopi yang dihasilkan terus meningkat,” katanya.

Ruang Berkumpul dan Persinggahan Wisatawan

Selain mengedepankan kualitas kopi, Si Talbak Coffee & Resto juga menawarkan kenyamanan tempat bagi pengunjung. Lokasinya dilengkapi halaman parkir yang luas sehingga dapat dimanfaatkan untuk berbagai kegiatan, mulai dari rapat, pertemuan, hingga bersantai bersama keluarga dan teman.

Pengunjung juga dapat menikmati fasilitas karaoke dan hiburan live music sebagai sarana melepas penat setelah menjalani aktivitas sehari-hari.

Lokasi tersebut dinilai memiliki potensi strategis bagi masyarakat Kabupaten Dairi dan Samosir, khususnya mereka yang pulang dari perantauan. Dengan jarak sekitar 40 menit perjalanan dari Bandara Silangit, Si Talbak Coffee & Resto dapat menjadi salah satu tempat persinggahan sebelum melanjutkan perjalanan menuju kampung halaman.

Meski memiliki konsep dan lokasi yang mendukung, Manat mengakui persaingan usaha menjadi tantangan tersendiri. Pertumbuhan kedai kopi yang semakin pesat serta kesulitan mendapatkan tenaga kerja menjadi persoalan yang harus dihadapi.

Karena itu, pihaknya berupaya mempertahankan kualitas produk, memperkuat hubungan dengan petani, serta menghadirkan pengalaman menikmati kopi yang berbeda bagi pelanggan.

Produk kopi olahan Si Talbak Coffee yang menggunakan 100 persen biji kopi dari petani binaan di Kabupaten Humbang Hasundutan. (Foto: Ist)

Masyarakat Harus Menikmati Kopi dari Kebunnya Sendiri

Ke depan, Manat berharap Si Talbak Coffee & Resto tidak hanya berkembang sebagai bisnis kuliner, tetapi juga menjadi bagian dari gerakan membangun kebanggaan masyarakat terhadap kopi lokal.

Ia ingin masyarakat Humbang Hasundutan semakin terbiasa menikmati kopi arabika berkualitas yang berasal dari kebun sendiri. Dengan demikian, petani tidak hanya menjadi produsen bahan baku, tetapi juga turut menikmati nilai ekonomi dan kualitas produk yang mereka hasilkan.

“Target kami ke depan, masyarakat Humbang Hasundutan turut serta menikmati kopi dari kebunnya sendiri. Dengan begitu, petaninya bisa naik kelas dan merasakan langsung kebanggaan serta nilai tambah dari kopi yang mereka hasilkan,” pungkasnya.

Melalui konsep kemitraan petani, pengolahan hasil perkebunan, hingga pemasaran produk, Si Talbak Coffee & Resto berupaya membuktikan bahwa potensi kopi lokal Humbang Hasundutan dapat dikembangkan menjadi kekuatan ekonomi kerakyatan.

Lebih dari sekadar secangkir kopi, usaha ini membawa harapan agar kesejahteraan petani berjalan seiring dengan meningkatnya popularitas kopi Humbang Hasundutan di pasar nasional maupun internasional. (red)

Be First to Comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *