Dokter spesialis bedah saraf, Prof. Satyanegara.(Ist)
JAKARTA, NP – Dokter spesialis bedah saraf, Prof. Satyanegara mengucapkan selamat ulang tahun kepada Republik Indonesia (RI) melalui unggahan di media sosial, sambil kilas balik perjuangan meraih cita-cita dan terpanggil pulang ke Indonesia untuk memajukan dunia kesehatan khususnya bedah saraf Indonesia sampai hari ini.
“Menjadi dokter adalah pilihan hidup yang saya sudah jalani selama 58 tahun. Saya bersyukur, pada hari Kemerdekaan ini, kita tidak hanya merayakan kebebasan dari penjajahan, tetapi juga dedikasi pemuda Bangsa yang mengabdikan dirinya untuk memajukan kesehatan di Tanah Air,” kata Prof. Satyanegara kepada Redaksi di rumah sakit Tzu Chi, PIK Jakarta, Sabtu (17/8/2024).
Dituturkan kilas balik perjuangannya, yaitu ketika Tgl 18 oktober 1958, ia meninggalkan Indonesia naik kapal laut selama lebih dari sebulan untuk sampai ke Jepang. Tak ada kerabat dan saudara. Tak bisa bahasanya. Tapi 14 tahun berselang, ia kembali ke Indonesia dengan penerbangan first class bersama keluarga kecil saya, istri dan dua anak laki-laki. Ditambah dengan title ‘Dokter Ahli Bedah Saraf jebolan Tokyo University, Jepang.’ Jelas ada perbedaan 180 derajat, waktu naik kapal di dek dengan suasana ketika kembali ke Indonesia 18 September 1972.
“Jujur tidak mudah menjadi seseorang yang punya mimpi besar untuk memajukan sektor kesehatan di negara tercinta saya, Indonesia. Sebetulnya sejak kecil saya suka mengarang, ingin jadi pengarang. Waktu itu ibu saya mengatakan ‘ … kalau mau menjadi orang, harus berprofesi dokter. Dokter itu adalah profesi yang mulia …’ Waktu itu, mau sekolah dokter sangat tidak gampang. Saingan banyak, bapak dan ibu saya hanya berprofesi guru. tapi saya nekad,” kata Chairman of the Board of Trustees atau Ketua Wali Amanat Fakultas Kedokteran (FK) President University, Bekasi.
Memang tidak mudah. Ia naik kapal perahu di dek, dan duduk terhimpit di antara barang- barang. Perjalanan, mulai dari Semarang ke Jakarta, selama tiga hari. Di Jakarta, ia tinggal selama hari. Pelayaran lanjut, dari Jakarta ke Bangka. Dari Bangka, selama beberapa hari baru sampai di Singapura, lalu ke Hongkong.
“Tanggal 2 Desember 1958 saya sampai di Jepang. Selama 14 tahun (1958 – 1972), akhirnya saya kembali ke Indonesia. Saya berpikir, sudah sepantasnya memberikan sesuatu yang terbaik kepada negaranya, Indonesia dan juga kedua orang tuanya,” kata salah satu pendiri Fakultas Kedokteran Universitas Jember ini.
Awalnya, ibunya belum percaya bahwa ia berhasil menjadi dokter. Pada tanggal 8 Mei 1972, tepatnya jam 11, ia sempat dipanggil duta besar Indonesia untuk Jepang. Padahal, waktu itu ia sedang sibuk mengobati seorang pasien, ganti perban pasien di rumah sakit.
“Saya diharapkan, tepat jam 12 bertemu dengan seseorang di hotel. Ia tidak begitu kenal sebelumnya dengan presiden ke 2 Indonesia, alm. Soeharto dan ibu Tien Soeharto. Dari pembicaraan dengan presiden Soeharto, mulai dari asal saya yakni Semarang sampai dorongan untuk kembali ke Indonesia. ia pun meyakinkan bahwa ia berkenan kembali ke Indonesia setelah menyelesaikan program S3 ilmu bedah saraf, “tutur dia.
“Tanggal 29 (Mei 1972), saya lulus, tanggal 30 saya langsung terbang ke Jakarta. Sampai sekarang sudah 58 tahun mengabdi khususnya bidang kesehatan. Yang paling penting, dokter punya standar kompetensi, tanggungjawab terhadap pasien, termasuk SOP (standard operating procedure) kompetensi. Kedua, harus ada empathy, komunikasi. Dengan perjalanan karir saya, pada momentum hari kemerdekaan ke-79 Republik Indonesia, mari kita teruskan semangat juang para pahlawan dengan berkarya nyata untuk Indonesia yang lebih baik,” tutup Prof. Satyanegara.(Liu)







Be First to Comment