Press "Enter" to skip to content

Muharam Jadi Momentum Tebar Kepedulian dan Kedamaian di Ruang Digital

Social Media Share

Direktur Urusan Agama Islam dan Bina Syariah, Arsad Hidayat. (Foto: Kemenag)

JAKARTA, NP – Umat Islam menyambut Tahun Baru 1 Muharam 1448 Hijriah. Kementerian Agama mengajak masyarakat menjadikan Muharam sebagai momentum memperkuat kesalehan sosial dan solidaritas. Selain itu, Muharam juga menjadi momen hijrah jemari dari perilaku menebar kebencian.

Hal itu dikatakan Direktur Urusan Agama Islam dan Bina Syariah, Arsad Hidayat, di Jakarta, Minggu (14/6/2026). Menurut dia, Muharam mengandung pesan hijrah yang relevan sepanjang zaman. Makna hijrah, kata dia, tidak berhenti pada perpindahan fisik, tetapi juga perubahan sikap dan cara pandang menuju kehidupan yang lebih baik serta lebih bermanfaat bagi masyarakat.

“Refleksi Muharam mengajak kita bertanya pada diri sendiri, apakah ibadah yang kita lakukan selama ini sudah menghadirkan manfaat bagi lingkungan sekitar. Kesalehan yang ideal adalah kesalehan yang mampu menghadirkan kepedulian dan kemaslahatan bagi sesama,” ujar Arsad, dikutip dari laman resmi Kementerian Agama, Senin (15/6/2026).

Arsad menuturkan, Al-Qur’an melalui Surat Al-Ma’un memberikan pesan kuat bahwa keberagamaan tidak cukup diwujudkan dalam ibadah personal. Kepedulian terhadap anak yatim, fakir miskin, dan kelompok rentan merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari implementasi nilai-nilai agama dalam kehidupan sehari-hari.

Menurut dia, semangat tersebut sejalan dengan berbagai program pemberdayaan yang terus didorong Kementerian Agama melalui penguatan fungsi masjid, optimalisasi zakat dan wakaf, serta layanan keagamaan yang berdampak langsung bagi masyarakat. Karena itu, Muharam perlu menjadi momentum memperkuat budaya berbagi dan gotong royong.

“Jangan sampai ibadah hanya berhenti pada ritual. Muharam mengingatkan kita bahwa keberagamaan harus melahirkan empati, kepedulian, dan kontribusi nyata bagi mereka yang membutuhkan,” katanya.

Sementara itu, Kasubdit Hisab Rukyat dan Syariah, Ismail Fahmi, menilai semangat hijrah juga perlu diwujudkan di ruang digital. Menurut dia, media sosial saat ini menjadi bagian penting dari kehidupan masyarakat sehingga harus diisi dengan narasi yang mencerahkan dan membawa manfaat, bukan narasi kebencian.

Ia menjelaskan, kedamaian tidak hanya diwujudkan melalui tindakan di dunia nyata, tetapi juga melalui komunikasi yang santun dan bertanggung jawab di ruang siber. Karena itu, masyarakat diajak lebih bijak dalam menyampaikan informasi maupun pendapat di media digital.

“Hijrah di era digital berarti mengubah cara kita berinteraksi. Jemari kita harus menjadi sarana menyebarkan pengetahuan, inspirasi, dan pesan-pesan yang menyejukkan, bukan sebaliknya,” ujar Ismail Fahmi.

Menurut Ismail, jaringan penyuluh agama memiliki peran strategis dalam memperkuat literasi keagamaan yang ramah dan mudah dipahami masyarakat. Kehadiran penyuluh diharapkan dapat memperluas penyebaran pesan-pesan keagamaan yang menumbuhkan optimisme, persaudaraan, dan kepedulian sosial.

“Semangat tersebut juga sejalan dengan penguatan ekosistem layanan keagamaan yang inklusif sebagaimana terus didorong Menteri Agama Nasaruddin Umar. Melalui momentum Muharam 1448 H, masyarakat diharapkan tidak hanya memperbarui semangat spiritual, tetapi juga memperkuat komitmen menghadirkan manfaat dan kedamaian bagi lingkungan sekitar,” tandasnya. (red)

Be First to Comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *