Ketika Prof. Satyanegara Melihat Jabatan Direktur sebagai Amanah
By redaksi on 10/04/2025
Social Media Share
Prof. Satyanegara (ke 2 dari kiri).(Ist)
JAKARTA, NP – Kilas balik keberhasilan mengelola manajemen Rumah Sakit Pusat Pertamina (RSPP) era tahun 1980 sampai 1990-an, terutama ketika diberi kepercayaan menjabat direktur (1988 – 1998) Prof. Satyanegara mengaku sempat berpikir keras bagaimana cara agar ada petunjuk untuk bisa memimpin dengan baik. Sebagaimana jabatan itu penuh dengan amanah, sehingga jabatan jangan sampai dibuat seperti perilaku main-main.
“Waktu saya pertama kali diminta (menjabat direktur RSPP tahun 1988), saya sempat mohon petunjuk, saya minta diajari langsung oleh pak Faisal Abda’oe (mantan Direktur Utama Pertamina, Agustus 1988 – Juni 1996). Pengangkatan saya berdasarkan SK pak Faisal Abda’oe,” kata dokter ahli bedah saraf senior di Indonesia, Prof. Satyanegara saat ditemui di ruang kerjanya di Tzu Chi Hospital PIK, Rabu (9/4/2025).
Ketulusan untuk meminta petunjuk sangat beralasan, mengingat latar belakangnya sebatas ahli bedah, dan kegiatannya (sebelum ditunjuk sebagai dirut) hanya berkutat di ruang operasi rumah sakit. Sebagaimana jabatan direktur, terutama pada perusahaan yang terus berkembang, perlu kombinasi antara skill technical dan manajerial. Latar Belakang pendidikannya, saat itu, yakni S2 Bedah Syaraf di Tokyo University dan kemudian S3 di universitas yang sama.
“Perlahan-lahan saya pelajari pengelolaan dan koordinasi internal RSPP. Kinerja terus membaik, bahkan pasien RSPP antri sampai tiga bulan untuk bisa berobat, mereka yang mau periksa. Kalau untuk UGD atau emergency , pasien bisa langsung. Tapi kalau mau periksa biasa, konsultasi, pasien RSPP berkenan tunggu antrian sampai tiga bulan sebelumnya,” tutur Prof. Satyanegara.
Secara keseluruhan, ia meniti karir sudah hampir 60 tahun terutama di Indonesia. ketika menjabat sebagai direktur, ia mengaku sempat overload dengan rutinitas mengobati pasien yang sudah melebihi kapasitasnya. awalnya ketika ia baru satu tahun dipercaya sebagai kepala bagian (kabag) operasi Rumah Sakit (RS) Pertamina Pusat atau RSPP pada September 1972, lalu diminta tangani 15 poliklinik dan RSPP serta Rumah Sakit Pertamina Jaya (RSPJ). Upaya menangani ruang operasi di seluruh rumah sakit/poliklinik milik Pertamina juga bukan perkara mudah. Ada 15 poliklinik (di beberapa daerah), dan dua rumah sakit termasuk RSPJ (Jl. Jend. Ahmad Yani, Cempaka Putih Jakarta Pusat), yang keseluruhannya 17 rumah sakit.
Prof. Satyanegara (ke 2 dari kanan).(Ist)
“Sebelum ditunjuk sebagai direktur, biro kesehatan dulu di atas direktur RSPP. Tapi setelah itu, kepala biro di bawah saya. tugas saya semakin berat waktu itu. Pada saat yang bersamaan, saya harus melaksanakan pelayanan dan pemeliharaan kesehatan alm. Soeharto (presiden ke 2 RI; Maret 1968 – Mei 1998). Sebagai ketua tim dokter presiden pada saat itu, saya juga harus melayani anggota keluarganya,” lanjut Profesor kelahiran 1 Desember 1938 di Kudus Jawa Tengah.
Ia harus tangani rumah sakit (poliklinik) milik Pertamina di berbagai daerah seperti Balikpapan (Kalimantan Timur), Manado (Sulawesi Utara), kec. Pangkalan Susu (Kab. Langkat, Sumatera Utara), Pangkalan Brandan (kawasan pelabuhan di Kabupaten Langkat, Sumatera Utara). Di tengah kondisi overload , ia mengaku masih merasa beruntung karena ada guru-guru besar (fakultas kedokteran), menteri-menteri negara. Mereka mau memberi pendapat, advis dan saran untuknya di tengah kegiatan mengawasi keseluruhan rumah sakit Pertamina di daerah.
“Akhirnya, saya pensiun tahun 1998 sebagai kepala rumah sakit. Tugas mengelola dan koordinasi termasuk membuat planning tentang apa yang dibutuhkan, menilai jabatan karyawan, mengurusi kepala negara sangat melelahkan. Saat itu, saya sampai di rumah dan bisa beristirahat sekitar jam 2 pagi. Tapi, jam 6 sudah harus berangkat. jam tidur kurang, kompensasinya saya tidur di mobil,” tutup Prof. Satyanegara.(Liu)
Be First to Comment