Press "Enter" to skip to content

Menandai Setahun DDI, Buku Refleksi Lintas Iman Dilaunching di KWI

Social Media Share

Peluncuran buku “Deklarasi Istiqlal, Refleksi dan Tantangan Seluas Indonesia” menjadi momentum penting.(Ist)

JAKARTA, NP— Tepat satu tahun setelah penandatanganan Dokumen Deklarasi Istiqlal (DDI) oleh Paus Fransiskus dan Imam Besar Masjid Istiqlal, Prof Dr KH Nasaruddin Umar, Komisi Hubungan Antaragama dan Kepercayaan Konferensi Waligereja Indonesia (Komisi HAK KWI) meluncurkan buku berjudul “Deklarasi Istiqlal, Refleksi dan Tantangan Seluas Indonesia”, Selasa (5/9/2025), di Henry Soetio Hall, Gedung KWI, Jakarta.

Buku ini merupakan refleksi lintas iman atas isi dan semangat DDI yang bertajuk “Meneguhkan Kerukunan Umat Beragama untuk Kemanusiaan”. Peluncuran dihadiri tokoh-tokoh dari berbagai agama serta organisasi kemasyarakatan lintas iman dan generasi.

Prof Dr KH Nasaruddin Umar, yang kini menjabat Menteri Agama dalam Kabinet Merah Putih pemerintahan Presiden Prabowo Subianto, hadir sebagai pembicara kunci. Dalam sambutannya, ia menegaskan pentingnya menjaga semangat DDI sebagai pijakan bersama menghadapi tantangan kemanusiaan dan krisis lingkungan global.

“Agama harus menjadi kekuatan moral dalam membela martabat manusia dan kelestarian ciptaan,” ujar Menag dalam keterangannya.

DDI yang ditandatangani 5 September 2024 di Masjid Istiqlal memuat dua keprihatinan utama: dehumanisasi dan perubahan iklim. Dehumanisasi, menurut DDI, ditandai dengan kekerasan dan konflik yang sering kali menjadikan agama sebagai alat pembenar, merugikan kelompok rentan seperti perempuan, anak-anak, dan lansia. Sementara itu, krisis iklim telah mengganggu harmoni kehidupan masyarakat akibat bencana alam, pemanasan global, dan cuaca ekstrem yang tidak terduga.

Menanggapi dua persoalan besar itu, DDI menyerukan empat langkah strategis:

1. Menghidupkan nilai-nilai luhur agama untuk melawan kekerasan dan ketidakpedulian.
2. Mendorong kerjasama pemimpin agama dalam merespons krisis secara konkret.
3. Meningkatkan dialog antarumat beragama untuk menyelesaikan konflik.
4. Membangun kesadaran ekologis demi generasi mendatang.

Romo Aloys Budi Purnomo Pr, Sekretaris Eksekutif Komisi HAK KWI yang juga bertindak sebagai editor buku, menjelaskan bahwa buku ini disusun melalui kerja sama lintas komisi HAK di keuskupan-keuskupan seluruh Indonesia serta partisipasi tokoh dari berbagai agama—Islam, Hindu, Buddha, Konghucu, Kristen, dan Katolik.

Hadir dalam peluncuran buku tersebut antara lain Ketua Presidium KWI Mgr Antonius Subianto Bunjamin OSC, Ketua Komisi HAK KWI Mgr Christophorus Tri Harsono yang juga membacakan DDI tahun lalu, serta para kontributor buku seperti KH Muhammad Abdul Qodir (Demak), Bante Dhammasubo Sri Mahathera, Prof Philip K. Widjaja (Permabudhi), XS Budi S Tanuwibowo (Matakin), Mayjen TNI (Purn) Wisnu Bawa Tenaya (PHDI), dan Pdt Jacklevyn Frits Manuputty (PGI).

Berbagai elemen masyarakat turut hadir dalam acara ini, di antaranya Para Pimpinan Majelis Agama, Mitra HAK KAJ dan Bogor, OKP lintas agama, Komunitas Laudato Si’, Gusdurian, Komunitas JAI, Bimas Katolik, MLKI, San’Egidio, FUKRI, ICRP, Majelis Istiqlal, dan LPOK.

“Harapan kami, buku ini menjadi sarana perluasan dan pendalaman atas Deklarasi Istiqlal sehingga semakin berdampak dalam kehidupan bersama di Indonesia,” ujar Romo Budi.

Sebagaimana dicita-citakan dalam DDI, kerukunan umat beragama dan penghargaan terhadap martabat manusia serta komitmen menjaga lingkungan menjadi fondasi penting dalam membangun masa depan bangsa yang damai dan berkeadilan.(red)

 

Be First to Comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *