Suasana pembinaan atlet olahraga air di Jung Kwatu, Mojokerto. Melalui klub binaan TNI AL ini, generasi muda dibentuk menjadi pribadi yang disiplin, tangguh, berkarakter bahari, serta siap berprestasi di berbagai jenjang kompetisi.(Foto: Ist)
MOJOKERTO, NP – Deru dayung yang membelah permukaan air di Jung Kwatu bukan sekadar menggambarkan aktivitas olahraga. Di tempat inilah TNI Angkatan Laut membangun sebuah laboratorium pembinaan karakter bahari yang diproyeksikan menjadi wadah lahirnya generasi muda tangguh, berintegritas, dan mencintai laut sebagai identitas bangsa.
Melalui pembinaan yang diprakarsai Kolonel Marinir Kakung Priyambodo, Klub Jung Kwatu berkembang menjadi klub binaan TNI AL yang mengintegrasikan pembinaan olahraga air, pendidikan karakter, pelestarian budaya bahari, hingga pemberdayaan masyarakat. Program tersebut menjadi implementasi nyata komitmen TNI AL dalam mendukung pembangunan sumber daya manusia unggul sekaligus memperkuat budaya maritim Indonesia.
Bagi Kakung Priyambodo, olahraga air memiliki nilai yang jauh melampaui kompetisi. Setiap latihan menjadi ruang pembelajaran untuk menanamkan disiplin, kepemimpinan, kerja sama, tanggung jawab, ketangguhan, serta kecintaan terhadap laut.
“Karakter bahari harus dibangun sejak usia dini. Dari olahraga air lahir generasi yang sehat, tangguh, berkarakter, serta memiliki semangat juang untuk berprestasi dan mengabdi kepada bangsa. Inilah investasi sumber daya manusia menuju Indonesia sebagai bangsa maritim yang maju,” ujar Kakung, Minggu (5/7/2026).

Tidak hanya berorientasi pada pencapaian prestasi olahraga, Jung Kwatu juga diarahkan menjadi pusat pemberdayaan wilayah yang melibatkan berbagai pemangku kepentingan. Pemerintah daerah, sekolah, perguruan tinggi, komunitas olahraga, pelaku UMKM, hingga masyarakat sekitar turut menjadi bagian dari ekosistem pembinaan yang dibangun secara berkelanjutan.
Kolaborasi tersebut diharapkan mampu memperkuat pembangunan daerah melalui pengembangan olahraga, peningkatan ekonomi masyarakat, pendidikan karakter generasi muda, serta pelestarian lingkungan perairan.
Seiring waktu, Jung Kwatu juga dipersiapkan sebagai tempat lahirnya atlet-atlet yang mampu bersaing pada berbagai kejuaraan, mulai tingkat kabupaten, Provinsi Jawa Timur, hingga nasional. Namun, capaian prestasi bukanlah satu-satunya tujuan. Yang lebih utama adalah membentuk generasi yang memiliki karakter bahari, wawasan kebangsaan, kepedulian sosial, dan kesiapan menjadi pemimpin masa depan.
Model pembinaan yang dikembangkan di Jung Kwatu menjadi contoh bahwa olahraga dapat menjadi instrumen pembangunan yang lebih luas. Ketika dipadukan dengan pendidikan karakter, budaya bahari, dan pemberdayaan masyarakat, olahraga mampu melahirkan dampak sosial yang berkelanjutan.
Ke depan, konsep pembinaan Jung Kwatu diharapkan dapat direplikasi di berbagai daerah yang memiliki potensi serupa. Dengan pendekatan yang mengintegrasikan olahraga, pendidikan, budaya, dan pemberdayaan masyarakat, TNI AL terus menunjukkan perannya tidak hanya sebagai penjaga kedaulatan laut, tetapi juga sebagai motor penggerak lahirnya generasi maritim Indonesia yang unggul, mandiri, dan berdaya saing.(red)







Be First to Comment