Press "Enter" to skip to content

Bedah Buku “Lawar Leadership” Angayubagia 58 tahun Prajaniti Hindu Indonesia: Belajar Kepemimpinan dari Filosofi Lawar

Social Media Share

Penulis buku “Lawar Leadership” I Made Arya Amitaba, SE, M.M. bersama Ketua Umum Prajaniti Hindu Indonesia KS Arsana pada acara Dialog Kepemimpinan dan Bedah Buku “Lawar Leadership” di Pura Adhitya Jaya, Rawamangun, Jakarta Timur, Minggu (21/6/ 2026). Acara tersebut digelar dalam rangka syukuran angayubagia 58 tahun Prajaniti Hindu Indonesia. (Foto: Panitia angayubagia 58 tahun Prajaniti Hindu Indonesia)

JAKARTA, NP- Dalam rangka syukuran angayubagia 58 tahun Prajaniti Hindu Indonesia, panitia yang dipimpin oleh Made Widhi Adnyana dan Heny Herawati mengadakan serangkaian acara dari pura-ke-pura.

Acara pertama dilaksanakan pada Jumat, 19 Juni 2026, di Pura Agung Tirta Bhuawan, Bekasi dalam bentuk syukuran dengan melakukan sembahyang bersama dan potong tumpeng. Berikutnya, pada Minggu, 21 Juni 2026, di Pura Adhitya Jaya, Rawamangun, Jakarta Timur diadakan Dialog Kepemimpinan sekaligus Bedah Buku “Lawar Leadership”.

Peserta Dialog Kepemimpinan dan Bedah Buku “Lawar Leadership” di Pura Adhitya Jaya, Rawamangun, Jakarta Timur, Minggu (21/6/ 2026). Acara tersebut digelar dalam rangka syukuran angayubagia 58 tahun Prajaniti Hindu Indonesia. (Foto: Panitia angayubagia 58 tahun Prajaniti Hindu Indonesia)

Pada Minggu, 28 Juni 2026 mendatang, akan dilaksanakan Penanaman pohon bunga di lingkungan pura Parahyangan Agung Jagat Pasundan, Bekasi.

Acara Dialog Kepemimpinan sekaligus Bedah Buku “Lawar Leadership” dengan menghadirkan keynote speaker Letjen. TNI (Purn.) I Nyoman Cantiasa, S.E., M.Tr.(Han.) dan penulis buku I Made Arya Amitaba, SE, M.M. yang disponsori oleh BPR Kanti disambut antusian oleh masyarakat. Setiap peserta yang hadir mendapatkan satu buku “Lawar Leadership” dan kaos yang didonasikan oleh BPR Kanti.

Keynote speaker Letjen. TNI (Purn.) I Nyoman Cantiasa, S.E., M.Tr.(Han.) bersama penulis buku “Lawar Leadership” I Made Arya Amitaba, SE, M.M. pada acara Dialog Kepemimpinan dan Bedah Buku “Lawar Leadership” di Pura Adhitya Jaya, Rawamangun, Jakarta Timur, Minggu (21/6/ 2026). Acara tersebut digelar dalam rangka syukuran angayubagia 58 tahun Prajaniti Hindu Indonesia. (Foto: Panitia angayubagia 58 tahun Prajaniti Hindu Indonesia)

Hadir tokoh-tokoh Hindu nasional dan para pimpinan organisasi kemasyarakatan Hindu tingkat nasional, di antaranya Dirjen Bimas Hindu Prof Nengah Duija, Ketua Umum PHDI Pusat Wisnu Bawa Tenaya, pakar kepemimpinan Lemhanas Mayjen TNI (Purn) Dr. I Putu Sastra Wingata, SIP, MSc.

Kemudian mantan Ketua Umum PHDI Pusat SN Suwisna, Ketua Grand Desain Hindu Nyoman Agus Asrama, Ketua Forum Alumni KMHDI I Ketut Wiriana, Ketua Badan Kesehatan Hindu drg. Nyoman Suartanu, Sekretaris Umum PHDI Pusat Ketut Budiasa, Ketua Umum Perkumpulan Pendidik Pasraman Indonesia (P3I) saat ini adalah Dr. I Made Pande Cakra, M.Si.

Dalam sambutannya dalam bentuk kilas-balik perjalanan Prajaniti dan kinerja organisasi, Ketua Umum Prajaniti KS Arsana menyampaikan bahwa Prajaniti yang berusia sudah lebih dari setengah abad pernah mengalami mati suri dalam kurun waktu yang lama.

“Ibarat Arjuna pada epos Mahabharata yang intisarinya termuat dalam Bhagawad Gita, pada bab-bab awal Arjuna lemah lunglai tiada mau berperang. Kondisi serupa juga dialami oleh Prajaniti. Setelah direvitalisasi pada tahun 2013, organisasi ini mulai bangkit dan menunjukkan eksistensinya,” ungkap KS Arsana.

Ia menjelaskan fokus layanan Prajaniti pada dua tahun terakhir adalah pada Gerakan Ekonomi dan Gerakan Pendidikan, di antaranya dengan membentuk dan memfasilitasi masyarakat untuk berkoperasi dengan manajemen profesional dan pemberian bimbingan belajar gratis bagi siswa-siswi SD dan SMP.

Pada pemaparan materinya sebagai keynote speaker, Letjen. TNI (Purn.) I Nyoman Cantiasa dengan judul materi “Kepemimpinan Berakar pada Budaya dan Dharma” memaparkan dengan runtut, jelas, dan tajam pentingnya nilai-nilai kearifan lokal dan dharma sebagai fondasi kepemimpinan.

“Pemimpin yang memiliki karakter dharma akan menciptakan stabilitas dan kemajuan yang berkelanjutan melalui keputusan yang adil, bermoral, dan relevan dengan karakteristik masyarakat,” tegas Cantiasa.

Disampaikannya juga bahwa kepemimpinan yang berakar budaya dan dharma dicirikan oleh 4 hal, yaitu budaya sebagai kompas strategi, dharma sebagai fondasi moral, ngayah sebagai wujud pengabdian, dan dengan visi sukses secara holistik.

Kepemimpinan dari Filosofi Lawar

Pada sesi utama bedah buku yang menampilkan penulis buku I Made Arya Amitaba dengan moderator aktivis muda Hindu I Wayan Darmawan, antusiasme peserta tampak kian bersemangat.

“Kita tidak harus selalu merujuk atau mencari ke luar untuk belajar kepemimpinan karena memiliki nilai-nilai kearifan lokal yang banyak untuk belajar kepemimpinan, satu di antaranya dari filosofi dari lawar,” ucap Made Arya Amitaba.

Dalam tradisi dan budaya Bali, lawar merupakan salah satu hidangan tradisional khas Bali berupa campuran sayuran, daging cincang, kelapa parut, bumbu genep dan bumbu lainnya. Kuliner khas Bali ini memiliki perpaduan rasa gurih, pedas, dan kaya aroma.

Sebagian orang memaknai lawar sebagai sebagai simbol keharmonisan dan keseimbangan. Karena kuliner tradisional khas Bali ini tidak bukan sekadar makanan tetapi menjadi bagian penting dalam upacara keagamaan dan pesta adat.

Saat moderator Wayan Darmawan memberi ruang kepada peserta memberikan pandangan dan pendapatnya, hampir semua tokoh dan peserta menyampaikan penghargaan dan kejelian para penulis buku Lawar Leadership hingga mampu menjadikan makanan tradisional Bali yaitu lawar sebagai metafora kepemimpinan.

“Penulis jeli dan membuat idiom baru melalui buku Lawar Leadership ini. Tantangan kita adalah, memjadikan isi buku ini dipraktikkan menjadi perilaku kepemimpinan, dimulai di Bali,” puji sekaligus ajakan pakar kepemimpinan Dr. I Putu Sastra Wingata.(har)

Be First to Comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *