Ilustrasi – Stasiun Gambir, Jakarta Pusat, stasiun utama Kereta Api Jarak Jauh milik PT KAI yang tengah dikembangkan menjadi pusat hospitality dan lifestyle hub.(Foto: Dok. KAI)
JAKARTA, NP – PT Kereta Api Indonesia (Persero) menempatkan pengembangan Stasiun Gambir sebagai bagian dari strategi optimalisasi aset di pusat Jakarta. Arah pengembangan tersebut berfokus pada konsep hospitality yang menghadirkan kenyamanan bagi pelanggan serta leisure sebagai ruang untuk makan, berbelanja, menunggu perjalanan, beristirahat, menikmati ruang publik, hingga melanjutkan aktivitas di kawasan sekitar Monumen Nasional (Monas).
Pengembangan Stasiun Gambir diarahkan untuk mengoptimalkan fungsi aset agar lebih produktif dan memberikan manfaat yang lebih luas. Keberadaan stasiun di jantung Ibu Kota diharapkan tidak hanya mendukung layanan perjalanan kereta api, tetapi juga membuka ruang bagi tenant, memperkuat aktivitas ekonomi, serta menciptakan lapangan kerja langsung maupun tidak langsung.
Vice President Corporate Communication KAI Anne Purba mengatakan, Stasiun Gambir memiliki posisi strategis karena berada di dekat Monas, kawasan pemerintahan, pusat perkantoran, hotel, ruang publik, serta terhubung dengan berbagai moda transportasi lanjutan.
“Gambir adalah pintu perjalanan Kereta Api Jarak Jauh sekaligus teras kedatangan pusat Jakarta. Karena itu, pengembangannya kami arahkan sebagai ruang hospitality dan leisure agar pelanggan dapat menunggu perjalanan dengan nyaman, makan, berbelanja, mengakses layanan perjalanan, serta melanjutkan aktivitas ke pusat kota,” ujar Anne dalam keterangan pers yang diterima redaksi, Jumat (3/7/2026).
Berdasarkan data tenant Stasiun Gambir 2026, saat ini terdapat 132 area komersial yang telah tersewa, terdiri atas 67 space dan 65 open space. Space merupakan ruang komersial untuk outlet maupun layanan tertentu, sedangkan open space dimanfaatkan sebagai ruang terbuka untuk layanan, promosi, mesin layanan, parkir, maupun aktivitas komersial lainnya.
Beragam tenant telah beroperasi di Stasiun Gambir, mulai dari gerai kuliner, kedai kopi, minimarket, toko ritel, toko oleh-oleh, toko buku, lounge, loker, hotel transit, pod, ATM, vending machine, layanan parkir, media luar ruang, hingga berbagai layanan pendukung perjalanan. Kehadiran tenant tersebut menunjukkan bahwa Gambir telah memiliki ekosistem ekonomi yang aktif dan dibutuhkan masyarakat.
Data operasional juga menunjukkan tingginya mobilitas pengguna jasa di Stasiun Gambir. Pada 2022, stasiun ini melayani 5.759.495 pelanggan. Jumlah tersebut meningkat menjadi 6.530.778 pelanggan pada 2023 atau tumbuh 13,39 persen. Pada 2024, volume pelanggan tercatat 5.914.820 orang, kemudian kembali meningkat menjadi 6.105.784 pelanggan pada 2025 atau naik 3,23 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Rata-rata jumlah pelanggan pada 2025 mencapai sekitar 16.700 orang per hari.
Sementara itu, sepanjang Semester I 2026, Stasiun Gambir telah melayani 3.227.508 pelanggan, terdiri atas 1.652.532 pelanggan berangkat dan 1.574.976 pelanggan tiba.
Menurut Anne, besarnya arus penumpang tersebut membutuhkan fasilitas pendukung yang semakin memadai, mulai dari ruang tunggu yang nyaman, pilihan makanan dan minuman, ritel kebutuhan perjalanan, layanan informasi, akses transportasi lanjutan, hingga ruang yang ramah bagi keluarga.
“Optimalisasi Gambir kami arahkan agar aset stasiun bekerja lebih produktif. Pelanggan mendapat pengalaman yang lebih nyaman, mitra usaha memperoleh ruang untuk berkembang, tenaga kerja terserap, dan kawasan sekitar Monas semakin hidup dengan aktivitas yang tertata,” kata Anne.
Dari sisi ketenagakerjaan, satu outlet berukuran kecil diperkirakan dapat menyerap dua hingga tiga pekerja untuk kebutuhan kasir, penyajian, dapur, dan operasional harian. Dengan 67 space yang telah aktif, ekosistem tenant di Gambir diperkirakan menopang sekitar 134–201 tenaga kerja langsung. Jumlah tersebut belum termasuk tenaga kebersihan, keamanan, teknisi, pengelola parkir, hotel transit, lounge, logistik tenant, pemasok makanan dan minuman, serta berbagai layanan pendukung lainnya.
Dalam Kajian Optimalisasi Bisnis dan Visioning Stasiun Gambir, kawasan ini diarahkan menjadi Modern Station & Lifestyle Hub, yaitu stasiun modern yang terintegrasi dengan pusat aktivitas gaya hidup. Kajian tersebut mencakup pengembangan area ritel, kuliner, lounge, hotel, rooftop park, ruang publik, hingga ruang pertemuan dan kegiatan.
Kajian tersebut juga memperkenalkan konsep Net Leasable Area (NLA), yaitu luas area komersial yang dapat disewakan kepada tenant. Berdasarkan perencanaan, area ritel baru memiliki potensi luas sekitar 15.479 meter persegi, sedangkan hotel dan ruang pertemuan mencapai sekitar 3.756 meter persegi.
Ruang pertemuan tersebut juga diarahkan untuk mendukung kegiatan Meeting, Incentive, Convention, Exhibition (MICE), yakni fasilitas bagi penyelenggaraan rapat, kegiatan perusahaan, konvensi, pameran, maupun agenda komunitas dan korporasi.
Apabila pengembangan berjalan sesuai kajian, area ritel baru berpotensi menampung sekitar 220–310 unit usaha kecil dan menengah dengan ukuran rata-rata 50–70 meter persegi per tenant. Dengan asumsi setiap unit menyerap dua hingga tiga pekerja, potensi tenaga kerja langsung dapat mencapai sekitar 440–930 orang.
Di luar tenant, kawasan hospitality dan leisure juga memerlukan tenaga pendukung, seperti petugas kebersihan, keamanan, teknisi gedung, pengelola parkir, layanan pelanggan, pengelola taman, rooftop, logistik, hingga pengelolaan sampah. Dengan demikian, pada fase operasional penuh, pengembangan Gambir diperkirakan mampu membuka sekitar 500–1.000 peluang kerja langsung maupun pendukung, bergantung pada desain akhir, komposisi tenant, tahapan pembangunan, serta pola operasional kawasan.
Anne menambahkan, pengembangan Gambir juga menjadi bagian dari penguatan Non-Fare Box (NFB), yakni pendapatan perusahaan di luar penjualan tiket kereta api. Melalui optimalisasi fungsi komersial yang tertata, stasiun diharapkan mampu meningkatkan kualitas layanan kepada pelanggan sekaligus memperkuat nilai ekonomi aset perusahaan.
“KAI ingin Gambir menjadi ruang perjalanan sekaligus ruang pengalaman kota. Dengan pengembangan berbasis hospitality, leisure, dan Non-Fare Box, Gambir disiapkan menjadi wajah layanan KAI di pusat Jakarta yang nyaman bagi pelanggan, produktif bagi perusahaan, dan bermanfaat bagi masyarakat,” tutup Anne. (red)







Be First to Comment