Ilustrasi – Gedung Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia (PGI), Jakarta. (Foto:Ist)
JAKARTA, NP – Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia (PGI) menyampaikan dukacita mendalam atas eskalasi konflik bersenjata yang kembali terjadi di Tanah Papua dalam beberapa hari terakhir, khususnya di Kabupaten Intan Jaya dan Kabupaten Yahukimo. Konflik tersebut telah menelan korban jiwa dari kalangan sipil, tokoh gereja, aparat keamanan, hingga warga negara asing.
Dalam siaran pers yang diterima redaksi, Sabtu (4/7/2026), PGI menyebut para korban di antaranya Pdt. Elianus Agimbau, pelayan Tuhan dan gembala jemaat GKII; Melkiana Duwitau, seorang ibu yang sedang hamil delapan bulan beserta bayi yang dikandungnya; serta Okto Tigau, warga sipil yang ditemukan meninggal dunia dengan dugaan mengalami penyiksaan, lima luka tembak di bagian dada, dan mutilasi pada telinga.
Selain itu, pilot berkewarganegaraan Amerika Serikat, Captain Nicholas F. Goselin, juga meninggal dunia dalam penyerangan dan pembakaran pesawat AMA PK-RCY di Bandara Ipdeheik, Kampung Balinggama, Distrik Sobaham, Kabupaten Yahukimo, pada 2 Juli 2026.
Konflik tersebut juga mengakibatkan gugurnya seorang prajurit TNI, Praka Bayu Oktara, serta memaksa ribuan warga sipil mengungsi akibat memburuknya situasi keamanan di wilayah tersebut.
Kepala Biro Papua PGI, Pdt. Ronald Rischard Tapilatu, mengatakan setiap nyawa yang hilang merupakan tragedi kemanusiaan yang tidak dapat dibenarkan dengan alasan apa pun.
“Setiap nyawa yang hilang adalah sebuah tragedi kemanusiaan yang menyedihkan. Ketika seorang pendeta, ibu hamil bersama bayinya, warga sipil, pilot pesawat, maupun aparat negara menjadi korban, yang terluka bukan hanya keluarga mereka, melainkan juga harkat dan martabat kemanusiaan kita bersama. Apa pun kepentingan atau alasannya, baik politik maupun keamanan, menghilangkan nyawa manusia yang tidak bersalah tidak dapat dibenarkan,” ujar Ronald dalam siaran pers tersebut.
Menyikapi situasi itu, PGI menegaskan tujuh sikap. Pertama, mengecam segala bentuk pembunuhan, penyiksaan, mutilasi, serta serangan bersenjata yang menimbulkan korban jiwa, termasuk penyerangan terhadap pesawat sipil dan warga yang tidak bersenjata.
Kedua, PGI menyatakan keprihatinan mendalam atas semakin pudarnya penghormatan terhadap martabat manusia, yang menurut ajaran iman Kristen diciptakan menurut gambar Allah dan memiliki nilai yang tidak tergantikan.
Ketiga, PGI mendesak seluruh pihak yang bertikai agar menahan diri dan segera menghentikan segala bentuk kekerasan, dengan menempatkan keselamatan warga sipil sebagai prioritas utama.
Keempat, PGI menilai pendekatan militeristik yang selama ini diterapkan belum mampu menghadirkan solusi damai dan berkeadilan, bahkan justru memperpanjang penderitaan masyarakat sipil di daerah konflik.
Kelima, PGI kembali mendesak agar seruan dialog damai yang selama ini disampaikan gereja, tokoh agama, tokoh adat, dan masyarakat sipil segera diwujudkan secara nyata dan bermartabat.
Keenam, pemerintah diminta mengusut tuntas seluruh peristiwa tersebut melalui penyelidikan yang independen, transparan, dan tidak memihak, serta menjatuhkan hukuman berat kepada pihak-pihak yang terbukti bersalah.
Ketujuh, PGI meminta Panglima TNI dan Kapolri menegakkan hukum secara profesional, transparan, dan akuntabel terhadap aparat TNI maupun Polri yang diduga melakukan pelanggaran hukum atau hak asasi manusia.
PGI juga kembali menyampaikan belasungkawa kepada seluruh keluarga korban, baik keluarga Pdt. Elianus Agimbau, Melkiana Duwitau beserta bayi yang dikandungnya, Okto Tigau, Captain Nicholas F. Goselin, Praka Bayu Oktara, maupun korban lainnya.
PGI berharap Tuhan Yesus Kristus, Sang Raja Damai, memberikan kekuatan, penghiburan, dan pengharapan kepada seluruh keluarga yang berduka serta menghadirkan damai sejahtera bagi seluruh Tanah Papua. (red)







Be First to Comment