Press "Enter" to skip to content

Komisi IV DPR RI Dukung Penguatan Laboratorium Veteriner Hadapi Dampak El Nino

Social Media Share

Ketua Komisi IV DPR RI, Siti Hediati Hariyadi (Titiek Soeharto), memimpin kunjungan kerja spesifik ke Balai Veteriner Banjarbaru, Kalimantan Selatan, guna memastikan kesiapan laboratorium veteriner dalam mengantisipasi dampak El Nino terhadap sektor peternakan.(Foto: Ist)

BANJARBARU, NP – Komisi IV DPR RI mendukung langkah Kementerian Pertanian (Kementan) memperkuat kesiapsiagaan subsektor peternakan menghadapi potensi dampak fenomena El Nino melalui penguatan kapasitas laboratorium veteriner. Penguatan sistem kesehatan hewan dinilai menjadi kunci mengantisipasi risiko gangguan produksi peternakan akibat musim kemarau yang diperkirakan berlangsung lebih panjang.

Dukungan tersebut disampaikan dalam kunjungan kerja spesifik Komisi IV DPR RI ke Balai Veteriner (BV) Banjarbaru, Kalimantan Selatan, Jumat (3/7/2026), untuk meninjau kesiapan laboratorium veteriner sekaligus membahas strategi mitigasi dampak El Nino terhadap subsektor peternakan dan ketahanan pangan nasional.

Kunjungan yang dipimpin Ketua Komisi IV DPR RI Siti Hediati Hariyadi atau Titiek Soeharto itu bertujuan memastikan kesiapan sarana dan prasarana laboratorium veteriner dalam mengantisipasi potensi peningkatan penyakit hewan akibat perubahan iklim. Musim kemarau yang diperkirakan berlangsung lebih panjang dinilai berpotensi mengurangi ketersediaan pakan dan air bagi ternak, meningkatkan risiko penyebaran penyakit hewan, serta berdampak pada produksi pangan nasional.

Dalam kesempatan tersebut, Titiek Soeharto menegaskan Kalimantan Selatan memiliki posisi strategis sebagai salah satu daerah penyangga pangan nasional sekaligus pemasok kebutuhan pangan bagi sejumlah wilayah di Kalimantan, termasuk Ibu Kota Nusantara (IKN). Karena itu, dampak perubahan iklim harus diantisipasi sejak dini melalui kolaborasi pemerintah pusat, pemerintah daerah, dan seluruh pemangku kepentingan.

“Berdasarkan prakiraan BMKG, sejumlah wilayah termasuk Kalimantan Selatan berpotensi mengalami curah hujan di bawah normal. Kondisi ini perlu diantisipasi karena dapat berdampak pada sektor pertanian dan peternakan. Petani dan peternak harus tetap dapat memproduksi, pasokan pangan tetap terjaga, dan stabilitas harga pangan dapat dipertahankan,” ujar Titiek Soeharto dalam keterangan pers yang diterima redaksi, Senin (6/7/2026).

Menurut Titiek, penguatan sistem irigasi, penyediaan sarana produksi, serta pengamanan cadangan pangan menjadi langkah penting menghadapi musim kemarau. Di sisi lain, subsektor peternakan memerlukan perhatian khusus karena cuaca kering berpotensi meningkatkan risiko penyebaran penyakit hewan.

Ia juga mengapresiasi peran Balai Veteriner Banjarbaru yang selama puluhan tahun menjadi laboratorium rujukan regional di Kalimantan. Menurutnya, peningkatan kapasitas laboratorium, baik dari sisi peralatan, sumber daya manusia, maupun sistem biosekuriti, perlu terus dilakukan agar kemampuan deteksi dini terhadap penyakit hewan semakin optimal.

“Balai Veteriner Banjarbaru memiliki peran yang sangat strategis. Yang kita utamakan bukan mengobati, tetapi mencegah munculnya wabah penyakit hewan. Karena itu, kami akan terus mendukung penguatan sarana laboratorium, termasuk apabila diperlukan tambahan anggaran untuk meningkatkan pelayanan kesehatan hewan,” tegasnya.

Sementara itu, Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian, Agung Suganda, mengatakan Kementan telah menyiapkan berbagai langkah mitigasi untuk meminimalkan dampak El Nino terhadap sektor peternakan. Upaya tersebut dilakukan melalui penguatan pengawasan kesehatan hewan di jaringan balai veteriner, peningkatan program vaksinasi, surveilans penyakit, serta koordinasi dengan pemerintah daerah guna memastikan ketersediaan pakan dan air bagi ternak di wilayah yang berpotensi terdampak.

“Kementerian Pertanian terus memperkuat langkah mitigasi menghadapi El Nino melalui peningkatan surveilans penyakit hewan, penguatan kapasitas laboratorium veteriner, pelaksanaan vaksinasi, serta koordinasi dengan pemerintah daerah agar ketersediaan pakan dan air bagi ternak tetap terjaga. Dengan kesiapsiagaan yang baik, kami optimistis produktivitas peternakan dan ketahanan pangan nasional dapat terus dipertahankan,” kata Agung.

Melalui sinergi antara Kementan, DPR RI, pemerintah daerah, penyuluh, dan pelaku usaha peternakan, kesiapsiagaan menghadapi perubahan iklim diharapkan semakin kuat. Penguatan sistem kesehatan hewan dan laboratorium veteriner menjadi kunci menjaga produktivitas ternak, mencegah munculnya wabah penyakit, serta mempertahankan ketahanan pangan nasional di tengah ancaman perubahan iklim.(red)

 

Be First to Comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *