Press "Enter" to skip to content

Kemenag dan Al-Azhar Perluas Kerja Sama, Siapkan Program Gelar Ganda

Social Media Share

Menteri Agama Nasaruddin Umar menandatangani Nota Kesepahaman (MoU) kerja sama antara Kementerian Agama dan Al-Azhar Asy-Syarif, Mesir, di Jakarta, Senin (12/10/2026). (Foto: Ist)

JAKARTA, NP – Kementerian Agama (Kemenag) dan Universitas Al-Azhar Asy-Syarif, Mesir, menyepakati perluasan kerja sama akademik yang mencakup persiapan program gelar ganda (double degree), kuliah jarak jauh, riset kolaboratif, hingga pertukaran tenaga pendidik. Kesepakatan strategis tersebut diharapkan memperkuat kualitas pendidikan tinggi Islam sekaligus memperluas akses mahasiswa Indonesia terhadap pendidikan di Al-Azhar.

Kesepakatan itu dituangkan dalam Nota Kesepahaman (Memorandum of Understanding/MoU) yang ditandatangani Menteri Agama Nasaruddin Umar bersama Wakil Al-Azhar Asy-Syarif, Asy-Syekh Ayman Abdul Ghani, secara hibrida dari Kantor Kementerian Agama, Jakarta, Senin (12/10/2026).

Menteri Agama Nasaruddin Umar menjelaskan, perluasan kemitraan tersebut merupakan tindak lanjut pertemuan bilateral antara Presiden RI Prabowo Subianto dan Presiden Mesir Abdel Fattah el-Sisi. Dalam pertemuan tingkat kepala negara itu, sektor pendidikan menjadi salah satu perhatian, mengingat besarnya jumlah mahasiswa Indonesia yang menempuh pendidikan di Mesir.

Salah satu skema yang akan dijajaki adalah program pendidikan terpadu atau twinning program yang memungkinkan mahasiswa memperoleh gelar dari dua perguruan tinggi. “Dimungkinkan untuk melakukan twinning program atau double degree. Mahasiswa dapat menempuh pendidikan dua tahun di sini (Indonesia) dan dua tahun di Al-Azhar Mesir, kemudian nanti mendapatkan dua ijazah,” ujar Nasaruddin, sebagaimana dikutip dari laman resmi Kemenag, Selasa (13/10/2026).

Menurut Nasaruddin, program tersebut menjadi salah satu proyeksi kerja sama yang diharapkan dapat segera direalisasikan setelah penandatanganan MoU. Rencana ini juga menjadi bagian dari upaya memperkuat hubungan akademik kedua negara yang telah lama dijajaki.

Selain pengembangan program studi, penguatan sumber daya manusia (SDM) pendidik turut menjadi prioritas. Nasaruddin mengungkapkan, terdapat penjajakan untuk mendatangkan sekitar 1.000 ulama dari Mesir yang telah dibekali kemampuan berbahasa Indonesia. Mereka direncanakan membantu kegiatan pengajaran di berbagai perguruan tinggi dan pondok pesantren di Indonesia.

Sebagai bentuk kerja sama timbal balik, Kemenag juga memperoleh kesempatan untuk mengirimkan tenaga pendidik Indonesia ke Mesir guna meningkatkan kompetensi dan memperdalam keahlian di bidang keislaman. “Diberi kesempatan (mengirimkan) imam-imam, ustaz-ustaz, dan dosen-dosen bahasa Arab dan Dirasah Islamiyah untuk berangkat ke Mesir, guna selanjutnya mengikuti program takhasus (spesialisasi),” kata Nasaruddin.

Direktur Jenderal Pendidikan Islam Kemenag Amin Suyitno mengatakan, perumusan MoU tersebut telah melalui proses panjang yang melibatkan empat periode kepemimpinan Menteri Agama. Dengan adanya kesepakatan ini, Kemenag berharap perguruan tinggi keagamaan Islam negeri (PTKIN) memiliki peluang lebih luas untuk mengembangkan model pembelajaran yang efisien dan sesuai dengan kebutuhan mahasiswa.

Salah satu program yang menjadi perhatian adalah kuliah daring atau online untuk mengurangi kebutuhan mahasiswa Indonesia datang langsung ke Mesir. Skema tersebut diharapkan dapat membantu mengatasi kepadatan mahasiswa sekaligus menekan berbagai dampak yang menyertainya.

“Salah satunya adalah bagaimana kita bisa melakukan kuliah online, sehingga nanti mengurangi mahasiswa-mahasiswa kita yang datang ke Mesir, sehingga suasana yang sangat crowded (padat) beserta eksesnya bisa dikurangi,” pungkas Amin. (red)

Be First to Comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *