Press "Enter" to skip to content

Tak Sekadar Pendamping, Istri Diplomat Ikut Jalankan Diplomasi Indonesia

Social Media Share

Buku Curhat Istri Diplomat karya Lona Hutapea Tanasale yang mengangkat pengalaman, dinamika, dan peran keluarga diplomat dalam mendukung diplomasi Indonesia di luar negeri. (Foto: Ist)

JAKARTA, NP – Diplomasi Indonesia tidak hanya berjalan di ruang pertemuan resmi atau melalui para diplomat yang bertugas di KBRI dan KJRI. Di balik aktivitas para diplomat, ada pasangan dan keluarga yang ikut memainkan peran penting dalam memperkenalkan Indonesia, membangun jejaring, sekaligus menjaga citra bangsa di negara sahabat.

Perspektif itulah yang mengemuka dalam peluncuran buku Curhat Istri Diplomat karya Lona Hutapea Tanasale dan diskusi “Memaknai Indonesia di Balik Layar Diplomasi” di Toko Buku Gramedia Central Park, Jakarta, Minggu (23/8/2026).

Buku tersebut mengungkap sisi kehidupan yang jarang terlihat dalam praktik diplomasi. Pengalaman berpindah negara, beradaptasi dengan lingkungan dan budaya baru, hingga membangun relasi sosial menjadi bagian dari perjalanan keluarga diplomat. Di balik semua itu, terselip satu benang merah: pengalaman hidup di luar negeri justru dapat menjadi jalan untuk memperkuat kecintaan terhadap Indonesia.

Ketua DWP Kementerian Luar Negeri, Kristien Abdi, dalam keterangannya, Kamis (27/8/2026), menegaskan pentingnya kemampuan adaptasi pasangan diplomat. Kehidupan diplomatik, menurut perspektif yang dibahas dalam forum tersebut, tidak berhenti ketika seorang diplomat meninggalkan ruang kerjanya. Keluarga pun ikut berhadapan dengan tuntutan lingkungan baru dan membawa identitas Indonesia dalam kehidupan sehari-hari.

Wakil Penasihat DWP Kemlu Nur Indah Sari Nasir turut hadir dalam kegiatan tersebut. Sementara Direktur Diplomasi Publik Kemlu RI Ani Nigeriawati menyoroti peran spouse diplomacy sebagai bagian yang tidak dapat dilepaskan dari upaya mendukung tugas Perwakilan RI di luar negeri.

“Spouse diplomacy” menjadi penting karena diplomasi juga berlangsung melalui interaksi informal. Percakapan, pertemanan, kegiatan sosial dan budaya hingga cara keluarga diplomat berinteraksi dengan masyarakat setempat dapat menjadi jembatan untuk memperkenalkan Indonesia tanpa selalu hadir dalam format diplomasi resmi.

Penulis sekaligus istri diplomat, Syifa Fahmi, membagikan pengalaman personalnya dalam forum tersebut. Diskusi dipandu Lia Nathalia, jurnalis dan Ketua Komunitas Perempuan Berkebaya, bersama Melany Lintuuran, Presiden Indonesian Women Alliance (IWA).

Kegiatan di Jakarta itu juga terhubung secara virtual dengan “A Night to Celebrate Indonesia” di House of Explore Indonesia (HEXI), Los Angeles, yang digelar Indonesian Women Alliance. Organisasi tersebut aktif menggelar berbagai kegiatan sosial dan budaya untuk mempromosikan Indonesia sekaligus memperkuat hubungan persahabatan kedua negara.

Diskusi Jakarta-Los Angeles berlangsung interaktif meski dipisahkan perbedaan waktu 14 jam. Kedua kota juga memiliki sejarah kerja sama Sister City/Province sejak 1991.

Forum tersebut menegaskan satu hal: wajah diplomasi Indonesia tidak selalu mengenakan jas dan duduk di meja perundingan. Ada peran yang berjalan lebih senyap, tetapi ikut menentukan bagaimana Indonesia dikenal, dipahami dan diterima di luar negeri. (red)

Be First to Comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *