Ahli bedah saraf Prof. Satyanegara (tengah) didampingi asistennya memberikan presentasi bertajuk The Future of Medical Science di hadapan ratusan peserta PIT ke-30 PERSPEBSI di Batam, Provinsi Kepulauan Riau. (Foto: Ist)
JAKARTA, NP – Upaya menekan kasus stroke di Indonesia tidak cukup hanya mengandalkan pengobatan setelah serangan terjadi. Pencegahan sejak hulu, pengaturan faktor risiko, hingga pemanfaatan teknologi kecerdasan buatan (AI), modifikasi genetik dan epigenetik, serta regenerasi jaringan perlu dikembangkan secara terintegrasi.
Ahli bedah saraf Prof. Satyanegara mengatakan pendekatan tersebut menjadi salah satu formulasi yang dapat dikembangkan untuk menekan tingginya kasus stroke di Indonesia sekaligus menurunkan angka kecacatan dan kematian.
“Salah satunya, pengobatan stroke dengan modifikasi genetik dan epigenetik. Metodenya, dengan pengaturan gen dan kesehatan tubuh manusia secara alami,” kata Prof. Satyanegara kepada Redaksi, Jumat (28/8/2026), di sela Pertemuan Ilmiah Tahunan (PIT) ke-30 Perhimpunan Spesialis Bedah Saraf Indonesia (PERSPEBSI) di Batam, Provinsi Kepulauan Riau.

Menurut dia, arah penanganan stroke ke depan harus menggabungkan berbagai pendekatan medis dan teknologi. Tidak hanya menangani kerusakan setelah stroke terjadi, tetapi juga mencegah munculnya faktor risiko serta mendorong pemulihan jaringan yang mengalami kerusakan.
“Terapi medis ke depannya, termasuk menahan laju kasus stroke di Indonesia, bisa dengan bantuan teknologi AI (Artificial Intelligence). Dari semua metode terintegrasi, yakni modifikasi epigenetik, pengaturan sinyal kimia, selain upaya meregenerasi, mengangkat serta mengganti jaringan atau organ yang umum disebut implant,” ujarnya.
Stroke menjadi salah satu ancaman kesehatan terbesar karena kerusakan otak berlangsung sangat cepat. Setiap menit saat serangan stroke terjadi, sekitar 1,9 juta sel otak dapat mati. Secara global, stroke merupakan penyebab utama disabilitas dan penyebab kematian nomor dua.
Di Indonesia, stroke menjadi penyebab utama kecacatan dan kematian, masing-masing menyumbang sekitar 11,2 persen dari total kecacatan dan 18,5 persen dari total kematian. Tingginya angka tersebut membuat penguatan pencegahan menjadi kebutuhan mendesak.
Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin yang hadir sebagai keynote speaker pada PIT ke-30 PERSPEBSI kembali menegaskan upaya pemerintah memperluas jangkauan pemeriksaan kesehatan. Pemerintah menargetkan 130 juta penduduk terjangkau program tersebut setelah pada tahun pertama pelaksanaan cek kesehatan gratis berhasil mencatat 70 juta pemeriksaan.
Bagi Prof. Satyanegara, keberhasilan menekan stroke juga sangat bergantung pada pemerataan tenaga spesialis dan kemampuan layanan kesehatan di setiap daerah. Kebutuhan dokter spesialis bedah saraf harus disesuaikan dengan karakteristik penyakit yang dominan di wilayah masing-masing.
“Misalkan daerah tertentu, penyakit stroke lebih banyak diderita pasien terkait gangguan pembuluh darah. Kalau yang seperti itu, jumlahnya sudah sesuai dengan target yang dicanangkan PERSPEBSI,” katanya.
Dia menyebut kapasitas pendidikan dokter spesialis bedah saraf kini terus diperluas. Jika sebelumnya pusat pendidikan Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS) hanya tersedia di Jakarta, Bandung, dan Surabaya, kini telah berkembang ke Medan, Makassar, dan Bali.
“Semakin lama, upaya penanganan stroke bisa semakin meningkat. PPDS dengan kelulusan dokternya juga difokuskan dengan keterampilan, serta alat-alat kesehatan semakin high-tech,” ujarnya.

Meski demikian, pemerataan layanan berteknologi tinggi masih menjadi tantangan. Daerah dengan jumlah penduduk relatif kecil, misalnya, menghadapi persoalan dalam penyediaan perangkat diagnostik seperti magnetic resonance imaging (MRI).
Karena itu, Prof. Satyanegara menilai pencegahan stroke harus ditempatkan sebagai agenda terintegrasi, bukan hanya tanggung jawab layanan rumah sakit. Pendekatan tersebut mencakup modifikasi genetik dan epigenetik, pemanfaatan implant, hingga stimulasi listrik untuk membantu fungsi saraf dan otot.
“Sehingga upaya mencegah timbulnya faktor risiko stroke harus terintegrasi. Selain modifikasi genetik dan epigenetik serta implant, ada terapi stimulasi listrik pada arus ke saraf dan otot,” kata Prof. Satyanegara. (red)







Be First to Comment