Press "Enter" to skip to content

PU dengan Huaqiao University Teken MoU, Diyakini Saling Menguntungkan

Social Media Share

Rektor Huaqiao University, Prof. Wu Jianping (kiri) dan Prof. Satyanegara (ahli bedah saraf asal Indonesia) pasca penandatanganan MoU peningkatan kerjasama antara kedua universitas.(Ist)

 

JAKARTA, NP – Delegasi President University (PU), Bekasi Indonesia melakukan kunjungan ke Quanzhou, China dalam rangka menjajaki kerjasama dengan jajaran Huaqiao University, serta penandatanganan MoU (Memorandum of Understanding ), yang diyakini bisa saling menguntungkan satu sama lain. Delegasi tersebut dipimpin oleh rektor PU, Dr. Handa Abidin yang beranggotakan Sigit Samsu (konsultan yayasan PU), Prof. Dr. Satyanegara, Han Xuya ( chairman, China-India Business Center) serta Haryanto Aryodiguno (direktur, International Admission Office) mengikuti serangkaian acara.

Sementara itu Rektor Huaqiao University, Prof. Wu Jianping, serta wakil rektornya, Prof. Prof. Huang Xiuyong serta jajarannya juga hadir pada acara pembahasan kerjasama kedua universitas tersebut. Usai pembahasan, kedua pihak menandatangani MoU dengan suasana akrab serta penuh persahabatan.

Rektor Wu Jianping dalam sambutannya mengatakan, Huaqiao University terus menjaga hubungan persahabatan serta kerjasama dengan berbagai stratifikasi social masyarakat di Indonesia sejak zaman dahulu kala, serta aktif berbagai badan usaha pemerintah China untuk pembangunan perekonomian Indonesia.

“Sementara, PU sebagai salah satu universitas swasta ternama, ternyata jumlah mahasiswa kelas internasional terbesar dibanding universitas lain di Indonesia. Harapannya, kedua pihak akan menindaklanjuti pertukaran di berbagai bidang studi sesuai dengan standar kompetensi, kegiatan riset ilmiah dan social kemasyarakatan, peningkatan keterkaitan antar anggota masyarakat, serta berkontribusi pada Belt and Road Initiative serta peningkatan tatanan kehidupan manusia secara global,”kata Sigit Samsu dalam keterangan tertulisnya kepada redaksi, Sabtu (21/9/2024).

Prof. Satyanegara memberikan kuliah umum mengenai bedah saraf kepada mahasiswa fakultas kedokteran Huaqiao.(Ist)

Handa Abidin, juga menggarisbawahi mengenai jumlah mahasiswa asing di PU, yang ternyata tertinggi dibanding universitas swasta lainnya di Indonesia. Selain, peran PU nyata membangun kerjasama internasional dalam pendidikan. Kondisi sekarang, tercatat ada sekitar 400 mahasiswa asal China menimba ilmu di PU. Mereka juga berkesempatan memahami nilai kemajemukan Indonesia.

“Melalui kerjasama ini, PU berharap mahasiswa asal China semakin tertarik untuk menimba ilmu serta memahami bahkan menjadi bagian dari kemajemukan budaya Indonesia. Selain, ada platform pembelajaran kebudayaan China untuk mahasiswa asal Indonesia,”harap Sigit.

Untuk diketahui, penandatanganan MoU, mencakup kerjasama dalam berbagai bidang, khususnya pertukaran mahasiswa fakultas kedokteran (FK). PU membuka FK tahun lalu, dan melalui kerjasama ini diharapkan bisa semakin intens menjembatani mahasiswa FK untuk berbagai kegiatan penelitian ilmiah. Kedua pihak juga berencana meluncurkan program pertukaran dual-degree dimana para mahasiswa FK dari PU dan Huaqiao university berkesempatan pada semua pembelajaran dan sumber daya. Handa Abidin meyakini bahwa program pertukaran mahasiswa bukan hanya sebatas pembebasan uang kuliah, tapi juga penyediaan fasilitas asrama mahasiswa. Selain, PU akan mengalokasikan dana beasiswa kepada mahasiswa yang mau melanjutkan program S2 (strata dua).

Pertemuan delegasi President University, Bekasi Indonesia dengan jajaran Huaqiao University, Quanzhou China.(Ist

“Dari semua rencana kegiatan ini, tentunya bermuara pada peningkatan hubungan bilateral antara Indonesia dan China,”imbuh Sigit.

Selama kunjungan delapan hari, Prof. Satyanegara juga sempat memberikan kuliah umum mengenai bedah saraf selama dua hari berturut-turut, terutama berbagai pengalamannya menganalisa penyakit dengan tingkat kesulitan yang sangat tinggi. Prof. Satyanegara memberikan kuliah umum dengan materi yang berbeda pada hari pertama dan kedua. Pada hari pertama, ia memaparkan bedah saraf pada pembuluh darah otak dan lain sebagainya yang tingkat kesulitan relatif tinggi. Pada hari ke-2, Prof. Satyanegara juga memaparkan materi yang hampir sama, termasuk mengenai sub spesialis bedah saraf, dengan kompleksitasnya. Spesialisasi ahli bedah saraf, masing-masing berfokus pada berbagai bagian sistem saraf manusia.

“Seperti bedah saraf tumor, ahli mendiagnosa dan menangani tumor pada sistem saraf, sampai pada upaya mengangkat sebagian atau seluruh tumor. Tentunya, tindakan ini butuh keterampilan dan pengalaman, serta teknologi canggih dan tim yang terorganisir dengan baik,” kata Prof. Satyanegara.(Liu)

 

 

Be First to Comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *