Menteri Perdagangan Budi Santoso berdialog dengan pelaku UMKM Banyuwangi dalam kunjungan kerja di Banyuwangi, Jawa Timur, Jumat (28/8/2026). (Foto: Ist)
BANYUWANGI, NP – Menteri Perdagangan Budi Santoso mendorong pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di Banyuwangi memperluas pasar hingga mancanegara. Pemerintah menyiapkan sejumlah program untuk membantu UMKM meningkatkan daya saing, menemukan buyer, hingga memenuhi standar produk ekspor.
Dorongan itu disampaikan Mendag Budi Santoso saat berdialog dengan Asosiasi Pengusaha Nasyiatul Aisyiyah (APUNA) Kabupaten Banyuwangi di Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Banyuwangi, Jumat (28/8/2026). Dialog tersebut diikuti sekitar 50 pelaku UMKM dari Banyuwangi dan sekitarnya.
Mendag mengajak pelaku UMKM memanfaatkan program Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah Berani Inovasi, Siap Adaptasi Ekspor (UMKM BISA Ekspor) untuk membuka akses pasar global.
“Kami mengajak UMKM Banyuwangi untuk memanfaatkan program UMKM BISA Ekspor yang dapat menghubungkan UMKM dengan jaringan perwakilan perdagangan Indonesia di luar negeri. Kemendag memiliki 46 perwakilan perdagangan di 33 negara yang siap membantu UMKM menemukan buyer di negara tujuan ekspor,” ujar Mendag Busan dalam keterangan tertulis, Sabtu (29/8/2026).
Selain pasar ekspor, Kemendag mendorong UMKM masuk ke jaringan pasar domestik melalui kemitraan dengan minimarket, ritel modern, dan department store. Fasilitasi dilakukan melalui penjajakan bisnis (business matching) dan kurasi produk agar UMKM dapat bertemu langsung dengan jaringan ritel.
Program tersebut merupakan bagian dari agenda pengembangan ekspor Kemendag bertajuk “Dari Lokal untuk Global”. Selain UMKM BISA Ekspor, program itu mencakup Desa BISA Ekspor, Campuspreneur, dan kemitraan UMKM.
Kemendag juga menyediakan Program Product Placement Pilihan Busan. Produk UMKM yang telah melalui proses kurasi setiap tiga bulan akan dipromosikan kepada tamu dalam dan luar negeri serta berkesempatan mengikuti berbagai pameran.
Menurut Mendag, pelaku UMKM Banyuwangi juga dapat memanfaatkan Trade Expo Indonesia (TEI) ke-41 yang akan digelar 14–18 Oktober 2026. Pameran tersebut menjadi salah satu pintu bagi UMKM untuk bertemu buyer dari berbagai negara.
Pada TEI tahun sebelumnya, tercatat 8.045 buyer asing dengan nilai transaksi mencapai USD 22,8 miliar. Khusus UMKM, nilai transaksi mencapai USD 474,7 juta.
Persoalan desain dan kemasan yang kerap menjadi kendala UMKM juga mendapat perhatian. Kemendag menyediakan Klinik Desain secara daring tanpa biaya untuk membantu pelaku usaha memperbaiki tampilan dan kemasan produk agar lebih siap masuk pasar ekspor.
“Kalau desain kemasannya belum bagus, bisa kami ajari secara daring tanpa biaya. Banyak produk yang berhasil didesain ulang lalu mencetak ekspor. Kami menyediakan konsultasi desain dengan desainer untuk membuat desain produk menjadi lebih baik,” kata Mendag.
Pawon Koe Siap Tembus Korea
Dalam dialog tersebut, pemilik Pawon Koe, Diah Lestari, mengungkapkan perkembangan ekspor produk makanan ringan olahannya. Alumni Export Coaching Program (ECP) Kemendag itu kini telah mendapatkan trial order dari Singapura dan tengah bernegosiasi dengan calon buyer dari Taiwan.
Diah juga menjajaki pasar Korea Selatan. Namun, ekspansi ke negara tersebut masih menghadapi tantangan pemenuhan sejumlah sertifikasi, termasuk Hazard Analysis and Critical Control Points (HACCP).
Mendag menegaskan, sertifikasi merupakan bagian penting untuk meningkatkan daya saing produk Indonesia di pasar global. Kemendag, kata dia, siap memberikan pendampingan agar UMKM dapat memenuhi persyaratan negara tujuan ekspor.
Furnitur Banyuwangi Didorong Perkuat Ekspor
Pada hari yang sama, Mendag mengunjungi produsen furnitur PT Warisan Eurindo di Banyuwangi. Ia mengapresiasi perusahaan tersebut yang telah menerapkan Sistem Verifikasi Legalitas Kayu (SVLK) dalam proses produksinya.
Mendag menilai penerapan SVLK menjadi modal penting bagi industri furnitur nasional untuk mempertahankan kepercayaan pasar global, khususnya di tengah meningkatnya tuntutan terhadap legalitas dan keberlanjutan bahan baku.
“Produk furnitur PT Warisan Eurindo yang berkualitas tinggi ini terbuat dari kayu jati dan sudah mempunyai sertifikat SVLK untuk membuktikan produk-produknya ramah lingkungan. SVLK menjadi bekal penting dalam menjaga daya saing produk-produk furnitur kita di pasar global yang mendukung prinsip penggunaan kayu legal dan terverifikasi,” ujar Mendag.
Pemerintah, lanjut Mendag, akan terus mendatangi pelaku usaha untuk mengidentifikasi kebutuhan dan hambatan ekspor secara langsung. Dukungan pemerintah selanjutnya disesuaikan dengan persoalan yang dihadapi perusahaan, termasuk fasilitasi promosi.
Mendag juga mengajak eksportir furnitur mengikuti TEI ke-41. Tahun ini, TEI akan menyediakan area khusus furnitur untuk menampilkan produk berbahan baku lokal, terutama rotan dan jati.
“Kami ingin menunjukkan furnitur dari rotan dan jati Indonesia berkualitas tinggi yang bahan dan produksinya memang berasal dari kita,” ungkapnya.
PT Warisan Eurindo berdiri sejak 1989 dan memiliki fasilitas produksi di Bali serta Banyuwangi. Perusahaan memproduksi furnitur dan dekorasi rumah untuk pasar Asia, Amerika, dan Eropa.
Fasilitas produksi di Banyuwangi memiliki kapasitas rata-rata 3.065 meter kubik per tahun dan didukung sekitar 490 karyawan yang terdiri atas perajin, desainer, serta manajemen.
Direktur PT Warisan Eurindo Matthew Mater mengatakan, perusahaan memproduksi furnitur pesanan berkualitas tinggi untuk sektor perhotelan. Bahan baku kayu jati diperoleh dari Perum Perhutani dan penggunaannya didukung penerapan SVLK sebagai bagian dari komitmen perusahaan memperkuat citra furnitur Indonesia di pasar global. (red)







Be First to Comment