Press "Enter" to skip to content

Campuran Gen Sandelwood dari Sumba NTT, Diminta Pasar Kuda Malaysia

Social Media Share

Sigit Samsu bersama kuda Sandelwood miliknya. (Foto:Ist)

 

JAKARTA, NP – Sigit Samsu dari Yayasan Pamulang Equestrian Centre (PEC) mengaku memiliki record campuran gen-gen kuda Sandelwood dari pulau Sumba, Prov. Nusa Tenggara Timur (NTT) walaupun sebenarnya plasma nutfah atau substansi pembawa sifat keturunan dari Indonesia.

Nama kuda Sandelwood sudah lama diakui sebagai salah satu kuda terbaik di Indonesia. “(Sandelwood) plasma nutfah Indonesia. Kami (Yayasan) sempat membiayai (ahli kedokteran hewan), yang sekarang jadi profesor di IPB Bogor. Profesor tersebut mengambil genetic mapping Sandelwood. Dari record nya (hasil mapping), kelihatan campuran (gen) Sandelwood, dan itu yang diminta (impor) Malaysia,” kata Sigit Samsu dalam keterangan tertulis kepada  redaksi, Jumat, (21/7/2023).

Sigit  menjelaskan, nama Sandelwood diambil dari nama pohon cendana, yakni Sandalwood tree yang dulunya berkembang subur di Sumba. Kondisi pulau Sumba, dimana kuda Sandelwood berasal, tidak terkontaminasi kuda dari luar. Sementara kuda di Padang Sumatera Barat, diduga terkontaminasi kuda dari zaman Belanda. Kuda Manado, Sulawesi Utara juga sama.

Sigit Samsu dari Yayasan Pamulang Equestrian Centre (PEC) mengaku memiliki record campuran gen-gen kuda Sandelwood dari pulau Sumba, Prov. Nusa Tenggara Timur (NTT). (Foto:Ist)

Awalnya, cerita Sigit, sekitar tahun 1970 an, peternakan kuda pamulang (dulu namanya Pamulang Stud and Stable) memulai proses cross-breeding dan grading up. Sehingga usaha peternakan yang dirintis oleh ibu kandung Sigit Samsu tersebut mendatangkan 30 ekor kuda Indonesia asli. Kuda sandelwood yang dipilih, sebagai kuda Sumba.

Upaya cross-breeding merupakan keputusan musyawarah nasional (munas)) Persatuan Olahraga Berkuda Seluruh Indonesia (Pordasi). “Ibu saya melakukan upgrading kuda Indonesia, dengan cara cross-breed. Mengawinkan kuda lokal, kuda indonesia asli dengan pejantan yang kita datangkan dari luar negeri. hasilnya, bagaimana (usaha peternakan) menghasilkan kuda, membentuk kuda ras baru standard kuda pacu Indonesia (KPI) dengan mengawinkan, program persilangan kuda lokal sampai generasi keempat,”papar  Sigit Samsu.

Lanjut dia, prosesnya perlu waktu sekitar 40 tahun, sampai akhirnya standard KPI yang diharapkan terwujud. Kuda Indonesia yang diakui asli, kondisinya kuat serta punya daya tahan tinggi. Selain kaki dan kukunya juga kuat, performa yang luar biasa. Tapi secara keseluruhan badan kudanya kecil. Peternakan mulai berpikir pada saat itu untuk menambah size (besaran) kuda. Pundak kuda yang awalnya 90 menjadi 150 – 160 cm.

“Singkatnya, standar yang diinginkan terwujud. Tapi ada plasma nutfah yang diambil, kuda asli Indonesia tadi. Dari para anggota Pordasi, beberapa peternak skala usaha besar, termasuk yang dimiliki ibu saya melakukan cross-breeding dan grading up. Tapi masyarakat ngomongnya, bahwa kuda tersebut ekspor dari Malaysia. Itu kebodohan karena tidak mengerti. Sama seperti durian monthong yang katanya dari Malaysia. Pohonnya asli dari Indonesia, tapi disana (Malaysia), jadi dikenal dengan durian monthong,” pungkas Sigit Samsu.(red)

Be First to Comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *