Press "Enter" to skip to content

Menag: Dialog Antaragama Tak Cukup Berhenti di Atas Kertas

Social Media Share

Menteri Agama Nasaruddin Umar menyampaikan gagasan diplomasi keagamaan berbasis aksi kemanusiaan dalam Pertemuan Internasional untuk Perdamaian di Assisi, Italia. (Foto: Ist)

 

ASSISI, NP – Menteri Agama (Menag) Nasaruddin Umar mendorong transformasi diplomasi global dengan menempatkan aksi kemanusiaan sebagai wujud nyata dialog antaragama. Gagasan tersebut disampaikan dalam Pertemuan Internasional untuk Perdamaian yang diselenggarakan Komunitas Sant’Egidio di Assisi, Italia, dan mendapat dukungan dari sejumlah pemimpin agama dunia.

Dalam sidang pembukaan tingkat tinggi bertajuk Opening Assembly – Unarmed and Disarming Peace, Nasaruddin menegaskan, dialog antaragama tidak boleh berhenti pada pernyataan bersama atau kesepakatan formal. Sebaliknya, dialog harus diwujudkan melalui tindakan konkret yang memberikan manfaat langsung bagi masyarakat.

Menurut Nasaruddin, perdamaian sejati membutuhkan perubahan pendekatan, dari sekadar membangun kesepahaman menjadi gerakan bersama yang mampu menjawab persoalan kemanusiaan dan lingkungan.

Melampaui Perdamaian di Atas Kertas

Dalam forum yang dihadiri ratusan delegasi dari berbagai negara tersebut, Nasaruddin menyoroti keterbatasan pertemuan lintas agama yang terkadang lebih menonjolkan simbol dan seremoni daripada menghasilkan perubahan nyata di tengah masyarakat.

“Dialog antaragama tidak boleh berhenti pada deklarasi bersama formal, tanda tangan, atau perjanjian di atas kertas,” tegas Nasaruddin dalam pertemuan di Assisi, sebagaimana disampaikan dalam keterangan tertulis yang diterima redaksi, Selasa (27/10/2026).

Ia menekankan, dialog harus ditindaklanjuti dengan gerakan nyata yang menyentuh kebutuhan masyarakat, terutama kelompok yang rentan dan membutuhkan bantuan.

“Perdamaian sejati menuntut dialog untuk secara aktif ditransformasikan menjadi aksi nyata dan gerakan pelestarian lingkungan yang langsung meringankan beban masyarakat di akar rumput,” ujarnya.

Nasaruddin menilai, pendekatan tersebut penting agar kerja sama antarumat beragama tidak hanya menghasilkan kesepahaman di tingkat pemimpin, tetapi juga menghadirkan manfaat konkret bagi kehidupan masyarakat sehari-hari.

Agama sebagai Instrumen Diplomasi Global

Dalam kesempatan itu, Nasaruddin juga mendorong para pemimpin dunia untuk menjadikan nilai-nilai agama sebagai salah satu instrumen strategis dalam membangun hubungan internasional yang damai.

Menurutnya, pendekatan spiritual dan dialog keagamaan dapat membantu mengurangi prasangka serta permusuhan yang mengakar di tengah masyarakat. Pendekatan tersebut juga dapat melengkapi diplomasi politik dan keamanan yang dalam sejumlah situasi belum mampu menyelesaikan konflik.

Sebagai contoh, Nasaruddin memaparkan pengalaman Indonesia dalam mengelola keberagaman melalui praktik living harmony atau harmoni dalam kehidupan sehari-hari. Pengalaman tersebut menunjukkan bahwa perbedaan keyakinan dan latar belakang tidak harus menjadi sumber pertentangan, tetapi dapat menjadi landasan untuk membangun kehidupan bersama yang damai.

Model tersebut sekaligus mencerminkan upaya Indonesia memperkuat moderasi beragama atau wasathiyah Islam serta memperluas kerja sama lintas agama di tingkat internasional.

Melalui pendekatan ini, agama diharapkan tidak hanya berperan sebagai sumber nilai moral, tetapi juga menjadi kekuatan yang mendorong solidaritas kemanusiaan, pelestarian lingkungan, dan penyelesaian konflik secara damai.

Pemimpin Agama Dunia Berikan Dukungan

Gagasan Nasaruddin mengenai pentingnya diplomasi keagamaan yang berorientasi pada aksi nyata mendapat penguatan dari sejumlah tokoh agama internasional yang hadir dalam pertemuan tersebut.

Kardinal Matteo Zuppi, Ketua Konferensi Waligereja Italia, mendukung pentingnya mengatasi pola pikir yang kaku, agresif, dan berorientasi pada konflik. Menurut pandangan yang disampaikan dalam forum tersebut, lembaga keagamaan perlu mengambil peran aktif dalam meredakan permusuhan lintas batas dengan mengedepankan martabat manusia.

Dukungan serupa disampaikan Rabi Agung Prancis Haïm Korsia yang menekankan pentingnya melampaui kegiatan seremonial dalam membangun perdamaian. Kerja sama antartokoh agama melalui berbagai proyek kemanusiaan di tingkat lokal dinilai dapat membangun fondasi perdamaian yang lebih kuat dan berkelanjutan dibandingkan kesepakatan politik semata.

Sementara itu, perwakilan Kristen Ortodoks Timur dan gerakan ekumenis turut menyoroti pentingnya pengalaman Indonesia dalam mengelola keberagaman agama. Pengalaman tersebut dinilai relevan untuk menunjukkan bahwa perbedaan teologis tidak harus berujung pada konflik.

Dalam konteks ini, Deklarasi Istiqlal 2024 yang ditandatangani Nasaruddin bersama Paus Fransiskus di Jakarta menjadi salah satu contoh upaya membangun kerja sama lintas agama. Deklarasi tersebut menegaskan pentingnya persaudaraan manusia, toleransi, dan tanggung jawab bersama dalam menghadapi persoalan kemanusiaan serta krisis lingkungan.

Pertemuan di Assisi itu sekaligus menegaskan kembali semangat perdamaian yang diwariskan melalui pertemuan lintas agama pada 1986. Semangat tersebut diharapkan terus dikembangkan melalui langkah-langkah konkret yang memperkuat solidaritas kemanusiaan, menjaga kelestarian lingkungan, dan mendorong terciptanya perdamaian dunia secara berkelanjutan. (red)

 

Be First to Comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *