Press "Enter" to skip to content

Hampir 30 Tahun, Filin Entertainment Bertahan di Tengah Persaingan

Social Media Share

Filin Entertainment. (Foto: Ist)

JAKARTA, NP – Bisnis event organizer (EO) dan promotor di Indonesia masih memiliki prospek besar, seiring meningkatnya kebutuhan terhadap hiburan dan penyelenggaraan berbagai kegiatan. Namun, peluang tersebut diikuti persaingan yang semakin ketat, bahkan tidak sehat. Pelaku usaha dituntut selektif memilih pekerjaan sekaligus membangun hubungan jangka panjang dengan artis dan talent.

Filin Entertainment, perusahaan EO yang telah bertahan hampir 30 tahun, mengakui kerasnya persaingan di industri tersebut. Menurut Filin, salah satu risiko yang kerap dihadapi EO adalah artis atau talent yang kemudian menerima pekerjaan secara langsung setelah sebelumnya dibesarkan dan dipasarkan oleh EO.

“Risiko bisnis termasuk bisnis EO pasti ada. Selama hampir 30 tahun eksis di dunia entertainment, kami tidak pernah tidak dibayar. Tapi hal yang sering terjadi, kadang ada saja artis atau talent yang telikung dari belakang. Artinya, mereka langsung tampil tanpa melalui EO yang sudah membesarkan mereka. Biasanya, artis seperti ini juga tidak bertahan lama,” kata Filin dari Filin Entertainment di Jakarta, Selasa (1/9/2026).

Salah satu artis/talent Filin Entertainment tampil dengan konsep perpaduan budaya dan alat musik Indonesia dengan negara lain. (Foto: Ist)

Menurut dia, persaingan tersebut justru menjadi tantangan bagi EO untuk semakin cermat menentukan proyek yang dikerjakan. Tidak semua tawaran harus diterima apabila tidak memberikan prospek bisnis yang jelas. Bagi EO, keberlanjutan usaha tidak hanya ditentukan banyaknya pekerjaan, tetapi juga kualitas jaringan, artis, konsep pertunjukan, dan reputasi.

Selain pasar domestik, peluang lain yang kini dibidik adalah pasar hiburan Indonesia di luar negeri. Sejumlah EO memiliki ambisi membawa artis dan karya seni Indonesia tampil dalam berbagai festival maupun kegiatan culture exchange di China, Jepang, Taiwan, Belanda, dan negara lainnya.

Peluang tersebut antara lain ditopang keberadaan diaspora, pekerja migran, serta mahasiswa Indonesia yang tinggal di luar negeri. Di Taiwan dan Jepang, misalnya, komunitas pekerja migran Indonesia menjadi salah satu pasar potensial bagi pertunjukan musik dan hiburan. Festival yang digelar hampir setiap akhir pekan membuka ruang bagi artis dan EO Indonesia untuk masuk ke pasar tersebut.

Namun, Filin menilai pasar luar negeri tidak cukup hanya mengandalkan jumlah penonton Indonesia. Pertunjukan harus memiliki nilai budaya dan artistik yang dapat diterima audiens internasional.

“Kalau tampil di festival yang lebih bernuansa formal, artis membawa karya indah dan unik yang patut dipertontonkan di negara lain. Misalkan musik etnis dan budaya Indonesia sangatlah indah dan fleksibel, bisa kita padukan dengan budaya dan alat musik dari negara manapun,” ujarnya.

Artis/talent Filin Entertainment membawakan pertunjukan dengan memadukan budaya serta alat musik Indonesia dan negara lain. (Foto: Ist)

Filin mencontohkan lagu daerah seperti Ayo Mama dan Bengawan Solo yang dapat dikemas dengan aransemen baru. Musik dangdut yang sedang populer di Indonesia juga dapat dipadukan dengan alat musik maupun bahasa negara tempat pertunjukan berlangsung.

Strategi tersebut dinilai penting agar karya Indonesia tidak sekadar menjadi hiburan bagi komunitas diaspora, tetapi juga mampu menjadi produk seni yang dapat diterima pasar internasional.

Meski peluangnya besar, ekspansi ke luar negeri membutuhkan biaya dan persiapan yang tidak kecil. Proses seleksi festival, birokrasi, pengurusan dokumen, hingga kebutuhan sponsor menjadi sejumlah tantangan yang harus dihadapi EO.

“Tingkat kesulitan, baik dari segi birokrasi dan pengurusan dokumen. Untuk bisa lolos seleksi dengan proses yang ketat, untuk bisa tampil di luar negeri, harus dengan disiplin EO dan artisnya. Beberapa EO juga butuh sponsor dan biaya yang tidak sedikit untuk membawa tim tampil di negara lain. Effort yang sangat besar bagi perusahaan EO termasuk kami untuk bisa mencapai impian tersebut,” kata Filin.

Ia menambahkan, aspek administrasi menjadi bagian penting dalam ekspansi bisnis hiburan ke luar negeri. EO harus memastikan seluruh dokumen dan jenis visa yang digunakan sesuai dengan ketentuan negara tujuan.

“Tampil di luar negeri, EO harus melampirkan Certificate of Eligibility, dan tidak bisa hanya menggunakan tourist visa, tapi visa entertainment,” ujarnya.

Salah satu artis/talent di bawah manajemen Filin Entertainment saat tampil dalam sebuah pertunjukan. (Foto: Ist)

Berawal dari Sanggar Tari

Perjalanan Filin di industri hiburan bermula jauh sebelum Filin Entertainment berdiri. Pada 1996, ketika masih duduk di bangku sekolah menengah, ia aktif mengikuti kegiatan sanggar tari bersama teman-temannya. Kesempatan tampil sebagai penari latar bagi artis asal Taiwan yang datang ke Jakarta kemudian memperkenalkannya lebih jauh pada dunia pertunjukan.

Dari aktivitas tersebut, Filin mulai bernyanyi dan menerima bayaran, meski nilainya ketika itu relatif kecil. “Kalau dulu, honor ibaratnya hanya untuk uang jajan. Tapi karena hobi, selain Mama saya juga punya grup musik (band). Akhirnya, saya mulai nyanyi di wedding, tapi belum mulai mendirikan perusahaan EO sendiri. Sampai sekitar tahun 2000, Filin Entertainment berdiri dengan beberapa talent,” katanya.

Sejak berdiri, Filin Entertainment memperluas pasar dengan menerima pekerjaan product launching, pertemuan bisnis, hingga berbagai kegiatan pameran. Perusahaan juga aktif mencari artis dan talent yang sesuai dengan kebutuhan setiap acara.

Bagi Filin, kekuatan EO bukan sekadar kemampuan mendatangkan artis, tetapi juga menciptakan konsep pertunjukan yang memiliki karakter. Ia mengaku kerap menyusun konsep sebelum mengarahkan artis dan talent di atas panggung.

“Menggeluti usaha EO entertainment karena ego dan hobi, karena kita punya taste seni, dan selalu mau mewujudkan hasil karya yang sesuai dengan taste kita. Itu ego. Misalkan untuk seni musik, kadang arranger mau seperti ini, tapi artis mau yang lain. Kita harus bisa menjembatani antara arranger dan artisnya,” kata Filin. (Liu)

 

Be First to Comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *