Danpushidrosal Laksamana Madya TNI Dr. Budi Purwanto, S.T., M.M., saat memberikan pembekalan kepada calon perwira hidrografi.(Foto: Ist)
JAKARTA, NP – Komandan Pusat Hidro-Oseanografi TNI Angkatan Laut (Danpushidrosal) Laksamana Madya TNI Dr. Budi Purwanto, S.T., M.M., menegaskan perwira hidrografi tidak boleh sekadar menjadi pengukur kedalaman laut dan pembuat peta. Mereka harus mampu membaca medan, mengolah data, menguasai teknologi, sekaligus menjadi pemecah masalah berbasis data maritim.
Penegasan itu disampaikan Danpushidrosal saat memberikan pembekalan kepada 17 Perwira Siswa Pendidikan Spesialisasi Perwira Hidrografi (Pasis Dikspespa Hidros) Angkatan XXIV Tahun 2026 di Ruang Serbaguna Pusdikhidros, Kelapa Gading, Jakarta Utara, Selasa (18/8/2026).
Para peserta terdiri atas 12 siswa TNI AL, satu siswa dari Distrik Navigasi Tanjung Priok, serta empat siswa dari Pakistan, Kamboja, Vietnam, dan Brunei. Pembekalan juga diikuti satu mahasiswa S1 dan tiga mahasiswa S2 STTAL bidang hidrografi.
Mengusung tema “Menjadi Perwira Hidrografi yang Profesional dan Adaptif”, Danpushidrosal menekankan bahwa kualitas hidrografi berawal dari satu hal mendasar: data yang benar.
“Data survei yang akurat harus mampu diolah menjadi informasi yang menjadi landasan bagi pengambilan keputusan yang cepat, tepat, dan aman,” tegasnya.
Menurutnya, hasil survei hidrografi tidak boleh berhenti sebagai tumpukan angka atau dokumen teknis. Data tersebut harus berubah menjadi peta laut dan produk nautika yang relevan, mutakhir, serta terintegrasi untuk mendukung operasi TNI Angkatan Laut, keselamatan pelayaran, pembangunan nasional, hingga kebijakan strategis negara.
“Perwira hidrografi harus mampu menjadi problem solver berbasis data maritim,” ujarnya.
Sebagai negara kepulauan, Indonesia membutuhkan lembaga hidrografi yang tidak hanya mampu menghasilkan data kelautan, tetapi juga menjamin kualitas dan ketersediaannya. Dalam konteks tersebut, Pushidrosal menjalankan peran ganda (dual role) sebagai satuan kerja TNI Angkatan Laut sekaligus Lembaga Hidrografi Nasional.
Peran itu ditopang lima fungsi utama, yakni fungsi militer, pelayanan umum, penerapan lingkungan laut, diplomasi, dan penelitian.
Dalam aspek pertahanan, Danpushidrosal menegaskan bahwa penguasaan karakteristik medan laut merupakan faktor fundamental dalam keberhasilan operasi militer. Batimetri, arus, pasang surut, hingga karakteristik dasar laut menjadi informasi penting dalam mendukung pergerakan kapal selam, pendaratan amfibi, maupun perencanaan operasi ranjau laut.
Karena itu, kemampuan teknis menjadi tuntutan yang tidak bisa ditawar. Para perwira hidrografi harus menguasai teknologi survei modern, mulai dari Single Beam Echosounder (SBES), Multibeam Echosounder (MBES), Side Scan Sonar (SSS), Sub-Bottom Profiler (SBP), Magnetometer, hingga sistem nirawak seperti AUV, ROV, dan USV.
Namun, Danpushidrosal mengingatkan teknologi secanggih apa pun tidak akan menghasilkan produk berkualitas tanpa sumber daya manusia yang kompeten dan berintegritas.
“Teknologi hanya alat. Kualitas manusianya yang menentukan,” tegasnya.
Penguatan peran hidrografi nasional juga sejalan dengan Peraturan Presiden Nomor 11 Tahun 2026 tentang Survei Hidrografi dan Pemetaan Hidrografi Nasional. Regulasi tersebut mempertegas posisi Pushidrosal sebagai Lembaga Hidrografi Nasional serta memperkuat tanggung jawab dalam penyelenggaraan, pemantauan, dan validasi survei serta pemetaan hidrografi di wilayah perairan Indonesia.
Konsekuensinya, tanggung jawab profesi perwira hidrografi semakin besar. Produk hidrografi tidak lagi sekadar menjadi kebutuhan internal, tetapi dapat menjadi rujukan untuk kepentingan hukum, keselamatan pelayaran, pembangunan nasional, dan kepentingan strategis negara.
Karena itu, Danpushidrosal meminta para Pasis tidak hanya mengejar kemampuan teknis, tetapi juga membangun integritas, disiplin, kemampuan kolaborasi lintas kementerian/lembaga, penguasaan teknologi digital, serta kesadaran terhadap keamanan data maritim.
Menutup pembekalan, Danpushidrosal memberikan pesan tegas kepada para calon perwira hidrografi.
“Jadilah perwira hidrografi yang menguasai ilmu, teknologi, dan medan. Reputasi seorang perwira hidrografi tidak dibangun dari janji manis atau retorika belaka, melainkan dari data yang akurat, kerja lapangan yang disiplin, dan integritas moral yang tidak dapat digoyahkan,” pungkasnya. (red)







Be First to Comment