Menteri Wihaji saat memberikan arahan dalam Executive Meeting terkait penguatan data dan pelaksanaan Program MBG 3B guna menekan angka stunting di Indonesia.(Foto: Ist)
JAKARTA, NP – Upaya menghadirkan generasi Indonesia yang lebih sehat terus diperkuat sejak awal kehidupan. Untuk memperkuat pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) bagi ibu hamil, ibu menyusui, dan balita non-Pendidikan Anak Usia Dini (non-PAUD) atau MBG 3B, Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (Kemendukbangga/BKKBN) menggelar Executive Meeting bersama sejumlah kementerian dan lembaga terkait di Kantor Kemendukbangga/BKKBN, Kamis (2/7/2026).
Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/Kepala BKKBN, Dr. Wihaji, S.Ag., M.Pd., menegaskan bahwa pemenuhan gizi bagi ibu dan anak merupakan kunci utama dalam upaya pencegahan stunting.
Ia menekankan, “Kenapa MBG 3B itu penting? Salah satu penyebab stunting adalah kurangnya asupan gizi. Inilah wujud kehadiran negara melalui Program MBG 3B untuk menjawab penyebab stunting yang berkaitan dengan pemenuhan gizi. Karena itu, sasarannya adalah ibu hamil, ibu menyusui, dan balita non-PAUD. Secara teknis, pelaksanaannya akan terus disinergikan antara Kemendukbangga/BKKBN dengan Badan Gizi Nasional,” ujar Wihaji dalam keterangan pers yang diterima redaksi, Jumat (3/7/2026).
Menurut Wihaji, keberhasilan program MBG 3B tidak hanya bergantung pada distribusi makanan bergizi, tetapi juga pada kuatnya kolaborasi antarkementerian dan lembaga. Ia menilai sinkronisasi data menjadi langkah krusial agar penyaluran bantuan tepat sasaran serta capaian program dapat diukur secara akurat.
Selain itu, ia juga menyoroti pentingnya penyesuaian pelaksanaan program terhadap kondisi geografis, terutama di wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T). Ia menegaskan perlunya dukungan bagi para kader yang menjadi ujung tombak pendampingan di lapangan, termasuk skema insentif yang menyesuaikan beban kerja dan kondisi wilayah, serta perlindungan jaminan sosial ketenagakerjaan bagi para kader.
Senada dengan hal tersebut, Wakil Kepala Badan Gizi Nasional, Agustina Arumsari, menekankan pentingnya keselarasan data antarinstansi sebagai fondasi pelaksanaan program.
“Secara teknis mohon ditindaklanjuti, terutama oleh Kapusdatin kami. Sumber datanya dipelajari, cara memperolehnya dipelajari, sehingga nantinya kita memiliki data yang sama-sama mendekati valid dan menjadi acuan bersama, baik di Kemendukbangga/BKKBN maupun di BGN,” ujarnya.
Pertemuan tersebut turut dihadiri perwakilan dari Badan Gizi Nasional, Kementerian Kesehatan, Kementerian Dalam Negeri, Badan Pengawas Obat dan Makanan, serta Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/Bappenas.
Sejumlah agenda strategis turut dibahas dalam forum tersebut, antara lain finalisasi Pedoman Teknis Distribusi Makanan, penguatan edukasi gizi dan keamanan pangan bagi sasaran MBG 3B, penguatan peran kader dalam pendampingan dan edukasi gizi, pengawalan keamanan pangan, serta dukungan pemenuhan kebutuhan kader pendamping program.
Melalui Executive Meeting ini, Kemendukbangga/BKKBN bersama seluruh kementerian dan lembaga terkait menegaskan komitmen untuk memperkuat sinergi agar Program MBG 3B dapat berjalan lebih efektif, tepat sasaran, serta memberikan manfaat nyata bagi ibu, anak, dan upaya mewujudkan keluarga Indonesia yang lebih sehat dan berkualitas. (red)







Be First to Comment