Proses verifikasi micro-barcode pada permukaan emas menggunakan mikroskop sebagai sistem autentikasi berbasis laser femtodetik yang dikembangkan BRIN. (Foto: BRIN)
TANGSEL, NP – Minat masyarakat terhadap investasi emas terus meningkat. Di tengah tingginya permintaan tersebut, peredaran emas palsu masih menjadi tantangan yang perlu diwaspadai konsumen maupun pelaku industri. Menjawab tantangan itu, peneliti Pusat Riset Fotonika Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Prof. Isnaeni bersama Nursidik Yulianto, mengembangkan teknologi autentikasi berbasis laser femtodetik yang memungkinkan identitas unik berupa sidik jari digital atau micro-barcode diukir langsung pada permukaan logam mulia.
“Selama ini identitas emas umumnya berada pada kemasan atau sertifikat. Kami mengembangkan pendekatan baru dengan menanamkan identitas tersebut langsung pada permukaan emas sehingga tetap melekat pada produknya dan jauh lebih sulit dipalsukan,” ujar Prof. Isnaeni dalam keterangan yang diterima redaksi, Kamis (2/7/2026).
Laser femtodetik merupakan teknologi laser yang memancarkan pulsa cahaya dalam waktu sangat singkat, sekitar satu kuadriliun detik (10⁻¹⁵ detik). Durasi yang sangat pendek tersebut memungkinkan proses pengukiran berlangsung dengan presisi sangat tinggi tanpa menimbulkan kerusakan pada material.
Melalui teknologi ini, laser mengukir micro-barcode berukuran kurang dari satu milimeter dengan kedalaman dan dimensi pada orde mikrometer. Barcode tersebut tidak dapat dilihat dengan mata telanjang dan hanya dapat diamati menggunakan mikroskop.
Menurut Prof. Isnaeni, penggunaan laser femtodetik memungkinkan proses fabrikasi dilakukan secara presisi tanpa memengaruhi kualitas logam mulia.
“Energi laser hanya bekerja pada area yang sangat kecil dan dalam waktu yang sangat singkat sehingga panas yang ditimbulkan hampir tidak memengaruhi material di sekitarnya. Karena itu, permukaan emas tetap halus dan kualitasnya tetap terjaga,” jelasnya.
Berbeda dengan barcode konvensional yang dicetak pada kemasan, micro-barcode ini tertanam langsung pada permukaan logam mulia. Dengan demikian, identitas produk tetap melekat pada emas meskipun kemasan telah dibuka, rusak, atau diganti. Pendekatan tersebut membuat upaya pemalsuan menjadi jauh lebih sulit dibandingkan metode autentikasi yang digunakan saat ini.
Dalam penerapannya, kode autentikasi dari produsen terlebih dahulu dikonversi menjadi format barcode khusus. Barcode kemudian diukir menggunakan sistem laser femtodetik berpresisi tinggi pada permukaan emas. Seluruh proses pengukiran berlangsung kurang dari satu menit.
Setelah proses selesai, micro-barcode dapat diamati menggunakan mikroskop dan dibaca melalui kamera telepon pintar yang dilengkapi aplikasi pemindai barcode. Informasi yang diperoleh kemudian dicocokkan dengan basis data produsen sehingga keaslian emas dapat diverifikasi secara cepat dan akurat.
“Proses pembacaan kode tidak memerlukan perangkat yang rumit. Setelah barcode diamati menggunakan mikroskop, informasi dapat dipindai menggunakan kamera smartphone dan diverifikasi dengan basis data produsen. Hal ini membuat proses autentikasi menjadi lebih cepat dan praktis,” tambahnya.
Teknologi ini berpotensi memberikan manfaat bagi berbagai pihak. Produsen logam mulia dapat meningkatkan keamanan produknya, sementara konsumen memperoleh kepastian yang lebih tinggi terhadap keaslian emas yang dibeli. Lembaga keuangan, pegadaian, hingga toko emas juga dapat memanfaatkan teknologi ini untuk mempercepat proses verifikasi sekaligus mengurangi risiko peredaran emas palsu.
Prof. Isnaeni berharap inovasi tersebut dapat diadopsi industri logam mulia di Indonesia sebagai sistem autentikasi generasi baru.
“Kami berharap teknologi ini dapat mendukung industri logam mulia nasional dalam meningkatkan keamanan produk sekaligus memberikan perlindungan yang lebih baik kepada masyarakat. Ke depan, teknologi serupa juga berpotensi diterapkan pada berbagai produk maupun dokumen bernilai tinggi yang membutuhkan sistem autentikasi yang andal,” tuturnya.
Pengembangan teknologi ini menunjukkan kapasitas riset BRIN di bidang fotonika dalam menghasilkan inovasi yang dapat diterapkan untuk meningkatkan keamanan produk bernilai tinggi sekaligus mendukung penguatan sistem autentikasi di industri logam mulia nasional. (red)







Be First to Comment