Selain pemantauan navigasi, TNI AL menyiagakan personel Search and Rescue (SAR) serta bantuan logistik untuk mengantisipasi dampak aktivitas vulkanik terhadap masyarakat pesisir dan nelayan di sekitar Selat Sunda, Selasa (8/9/2026).
Komandan Lanal (Danlanal) Lampung Letkol Laut (P) Irianto Kurniawan berkoordinasi dengan Asops Danguspurla Koarmada I dan Komandan KRI Lepu-861 sebelum melaksanakan peninjauan langsung terhadap kondisi Gunung Anak Krakatau. Kapal kemudian melaksanakan pemantauan sebelum merapat di Pelabuhan Panjang, Lampung.
Dari hasil pengamatan visual KRI Lepu-861 pada jarak sekitar 1,5 mil laut dari lokasi, aktivitas erupsi masih berlangsung. Gunung terpantau tertutup kabut tebal dengan jarak pandang sekitar tiga mil laut. Sementara tinggi gelombang berkisar 0,5-1 meter dan angin bertiup dari selatan ke utara dengan kecepatan 7-10 knot.
“Erupsi masih terjadi. Sebaran abu vulkanik juga masih terpantau hingga radius enam mil laut sehingga perlu diwaspadai kapal-kapal yang melintas di Selat Sunda karena berpotensi mengganggu jalur navigasi,” kata Irianto.
Kondisi tersebut membuat TNI AL meningkatkan pemantauan di sekitar perairan Selat Sunda. Langkah ini dilakukan untuk memastikan keamanan pelayaran sekaligus mempercepat respons apabila terjadi perubahan kondisi yang berpotensi membahayakan masyarakat pesisir.
Tak hanya di laut, langkah tanggap darurat juga dilakukan di darat. Personel Lanal Lampung, Lanal Banten, dan Brigif 4 Marinir/BS bergerak memberikan perlindungan dan edukasi keselamatan kepada masyarakat yang tinggal di kawasan pesisir.
Sejumlah perlengkapan keselamatan dibagikan kepada masyarakat dan perwakilan nelayan, mulai dari masker, alat keselamatan hingga swim vest. Personel TNI AL juga menyampaikan imbauan agar nelayan meningkatkan kewaspadaan dan memperhatikan perkembangan kondisi perairan sebelum melaut.
“Kami terus melakukan koordinasi dan pemantauan bersama BPBD, Basarnas, serta instansi maritim terkait. Seluruh unsur disiapkan agar dapat mengambil langkah cepat apabila kondisi di lapangan mengalami perubahan,” ujar Irianto.
TNI AL juga memperkuat koordinasi lintas instansi sebagai bagian dari upaya mitigasi terhadap potensi dampak aktivitas Gunung Anak Krakatau. Pemantauan dilakukan secara berkelanjutan dengan mengutamakan keselamatan masyarakat dan keamanan pelayaran.
Aksi tanggap darurat tersebut merupakan implementasi penekanan Kepala Staf Angkatan Laut (Kasal) Laksamana TNI Dr. Muhammad Ali mengenai pentingnya kesiapsiagaan TNI AL dalam menghadapi kondisi darurat di wilayah Indonesia.
Kehadiran unsur TNI AL dalam penanganan situasi tersebut sekaligus menjadi bagian dari pelaksanaan Operasi Militer Selain Perang (OMSP), serta bentuk komitmen prajurit TNI AL untuk hadir membantu masyarakat dan mengatasi kesulitan yang terjadi di wilayah kerja TNI AL. (red)







Be First to Comment