Press "Enter" to skip to content

God Bless Anthology 50th Anniversary, Dari Lengking Vocal Sampai Dukungan Serta Apresiasi Pemerintah

Social Media Share

Executive Producer album ‘Anthology 50th Anniversary’ Hendra Lie. (Foto:Ist)

 

JAKARTA, NP – Di sela konferensi pers (konpers) terkait pembuatan video klip ‘Musisi’ di Badung Bali, rangkaian dari kegiatan God Bless Anthology 50th Anniversary, lengking vokal Achmad Albar menyatu dengan lengking gitar akustik yang dimainkan Ian Antono. Achmad Albar menyanyikan dua lagu God Bless yang walaupun sudah sekian puluh tahun, tapi masih tetap terngiang di telinga para pecinta music, khususnya genre hard rock. Albar menyanyikan dua lagu yang tetap melegenda, yakni Panggung Sandiwara dan Syair Kehidupan. Dua lagu dinyanyikan, suara Albar menyatu dengan suara deburan ombak pantai indah di Badung, Bali.

Suasana ‘sakral’ para konpers tidak berlebihan, mengingat kurun waktu 50 tahun berkarya, bukan instan. Selama 50 tahun tetap eksis, bukan satu perjalanan karya music yang semudah membalikan telapak tangan. Hal tersebut juga diamini Plt. Dirjen Kebudayaan Kemdikbud, Ahmad Mahendra. “God Bless bergerak di bidang musik, ada satu karya nyata. Saya tidak lupa dengan lagu ‘Huma Di Atas Bukit’ yang melegenda, tak lekang oleh waktu,” kata Ahmad Mahendra pada Konpers dan proses potong tumpeng syukuran God Bless Anthology 50th Anniversary, Sabtu (22/7/2023).

Suasana dari kegiatan God Bless Anthology 50th Anniversary. (Foto:Ist)

Konpers juga dibarengi dengan prosesi potong tumpeng, dimana beberapa personil God Bless termasuk Executive Producer album ‘Anthology 50th Anniversary’, Hendra Lie. Ahmad Mahendra menyerahkan potongan tumpeng nasi kuning kepada Hendra Lie. Sementara Albar menyerahkan potongan kepada Tohpati yang mengerjakan aransemen album video klip lagu ‘Musisi’ yang melibatkan Czech Symphony Orchestra.

Sementara itu, Mahendra meyakinkan semua insan music terutama God Bless, bahwa Pemerintah terutama Ditjen kebudayaan sangat mengapresiasi setiap insan seni, budaya konsisten pada jalur yang menjadi bidangnya. Sehingga pada momentum Anthology 50th Anniversary, Ditjen Kebudayaan justru pada posisi ‘membutuhkan’ God Bless. “(sebaliknya) bukan God Bless yang butuh pemerintah, tapi pemerintah yang butuh serta mengapresiasi. Karena melihat beliau (musisi God Bless) adalah aset negara, musisi yang mungkin sudah jatuh bangun tapi tetap berkarya selama 50 tahun,” kata Ahmad Mahendra.

Apresiasi Pemerintah, melalui Ditjen Kebudayaan terhadap insan seni dan budaya dibarengi dengan satu skema pendanaan. Kegiatan agenda strategis yang sudah ditetapkan Ditjen Kebudayaan juga diakomodasi pada skema pendanaan. Ahmad Mahendra melihat konsistensi God Bless selama 50 tahun berujung pada celetuk ‘anggarannya berapa, kami bisa dukung.’ Artinya, Ditjen Kebudayaan mendukung beberapa bagian dari rangkaian kegiatan Anthology 50th Anniversary.

“Tidak mungkin (kalau) kami tidak mendukung legend seperti God Bless. Kami dukung pameran koleksi masterpiece God Bless di salah satu bangunan cagar budaya di Jakarta. Kami juga dukung rencana konser tunggal God Bless di Istora Senayan Jakarta tanggal 10 November 2023 mendatang,” kata Ahmad Mahendra.(red)

 

Be First to Comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *