Press "Enter" to skip to content

Harga Ayam dan Telur Mulai Lampaui HAP, Bapanas–Swasta Gelar GPM

Social Media Share

Gerakan Pangan Murah hadir di berbagai kota, menyediakan daging ayam beku Rp 40.000 per kg. Program kolaborasi Bapanas dan swasta. (Foto: Ist)

JAKARTA, NP – Komoditas daging ayam ras dan telur ayam ras kembali menjadi perhatian pemerintah. Sebagai sumber protein hewani yang terjangkau masyarakat, kestabilan harga kedua komoditas tersebut dinilai krusial, terlebih menjelang Ramadan dan Idulfitri.

Berdasarkan laporan Badan Pusat Statistik (BPS), rerata harga daging ayam ras hingga minggu kedua Februari 2026 tercatat Rp 40.471 per kilogram (kg), sedikit melampaui Harga Acuan Penjualan (HAP) tingkat konsumen yang ditetapkan sebesar Rp 40.000 per kg. Tercatat 155 kabupaten/kota mengalami kenaikan Indeks Perkembangan Harga (IPH), meski hanya 53 daerah yang rerata harganya benar-benar melampaui HAP. Sementara 102 daerah lainnya masih berada dalam koridor acuan.

Merespons kondisi tersebut, Badan Pangan Nasional (Bapanas) berkolaborasi dengan pelaku usaha menggelar Gerakan Pangan Murah (GPM) daging ayam beku. Dua perusahaan yang terlibat yakni PT Charoen Pokphand Indonesia Tbk dan PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk.

CPI menyediakan daging ayam beku melalui 1.200 outlet di berbagai wilayah Indonesia. Sementara Japfa mendistribusikan produk serupa di 500 outlet jaringannya. Dalam program ini, masyarakat dapat memperoleh daging ayam beku dengan harga Rp 40.000 per kg. Program berlangsung mulai 18 Februari hingga menjelang Idulfitri.

Direktur Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan Bapanas, Maino Dwi Hartono, mengatakan harga ayam di sejumlah wilayah seperti Jakarta dan Tangerang relatif terkendali.

“Untuk daging ayam di beberapa tempat, kami pantau relatif masih bagus. Harga Rp 40.000 paling tinggi. Ini inisiatif positif bersama CPI dan Japfa agar masyarakat dapat membeli sesuai HAP yang telah ditentukan pemerintah,” ujar Maino dalam keterangan tertulis, Jumat (20/2/2026).

Sementara itu, untuk komoditas telur ayam ras, BPS mencatat rerata harga nasional mencapai Rp 31.757 per kg, di atas HAP tingkat konsumen sebesar Rp 30.000 per kg. Sebanyak 80 daerah mengalami kenaikan IPH, namun hanya 28 kabupaten/kota yang rerata harganya melampaui HAP. Sebanyak 52 daerah lainnya masih berada dalam batas aman.

Maino menyebutkan harga telur di lapangan mulai menunjukkan tren penurunan di sejumlah daerah, berkisar Rp 29.000 hingga Rp 30.000 per kg. Pemerintah optimistis harga telur tetap terkendali sepanjang Ramadan.

Sebagai langkah penguatan dari sisi hulu, pemerintah menyiapkan program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) jagung pakan tahun 2026 dengan anggaran Rp 678 miliar. Target penyaluran mencapai 242 ribu ton kepada peternak unggas. Angka ini meningkat signifikan dibandingkan realisasi tahun 2025 sebesar 51,2 ribu ton yang disalurkan kepada 3.578 peternak ayam ras petelur di 17 provinsi.

Program SPHP jagung dinilai strategis karena jagung merupakan komponen utama pakan unggas. Dengan harga pakan yang lebih terjangkau, diharapkan biaya produksi dapat ditekan sehingga harga telur dan daging ayam tetap stabil.

Terpisah, Kepala Bapanas yang juga Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman, menegaskan tidak boleh ada kenaikan harga daging ayam dan telur ayam ras. Pasalnya, produksi nasional dinilai telah mencukupi kebutuhan konsumsi.

“Daging ayam dan telur ayam tidak boleh naik. Kita surplus. Tidak ada alasan naik. Kita sudah swasembada sembilan komoditas, termasuk telur dan daging ayam,” kata Amran dalam acara Gerakan Pangan Murah Serentak Nasional di Jakarta, 13 Februari 2026. (red)

Be First to Comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *