Petugas kesehatan hewan saat melakukan penanganan dan pemantauan ternak di wilayah Kalurahan Dadapayu, Gunungkidul, menyusul kejadian antraks.(Foto: Ist)
GUNUNGKIDUL, NP – Kementerian Pertanian (Kementan) terus memperkuat dukungan kepada Pemerintah Kabupaten Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta, dalam upaya pengendalian penyakit hewan menyusul kejadian antraks di Kalurahan Dadapayu, Kapanewon Semanu.
Langkah penanganan dilakukan secara terpadu melalui penyelidikan epidemiologi, pelayanan kesehatan ternak, disinfeksi, vaksinasi, pemeriksaan laboratorium, pengawasan kesehatan hewan, serta komunikasi dan edukasi kepada masyarakat.
Direktur Kesehatan Hewan Kementan, Hendra Wibawa, mengatakan pengendalian dilakukan secara bersama dengan melibatkan pemerintah daerah dan petugas kesehatan hewan di lapangan. Hal itu disampaikan Hendra di Kantor Kementan, Jakarta, Kamis (1/10/2026).
“Penanganan dilakukan secara terpadu. Petugas kesehatan hewan bersama pemerintah daerah telah melakukan penyelidikan epidemiologi, pelayanan kesehatan ternak, disinfeksi, vaksinasi, serta pemeriksaan laboratorium. Surveilans juga terus dilakukan untuk mengikuti perkembangan kondisi di lapangan,” ujar Hendra dalam keterangan pers, Minggu (4/10/2026).
Dinas Pertanian dan Pangan Kabupaten Gunungkidul telah melakukan penyelidikan epidemiologi pada 11 September 2026 untuk menelusuri kejadian, mengetahui kondisi ternak di sekitar lokasi, serta mengambil sampel untuk pemeriksaan lebih lanjut.
Sehari kemudian, 12 September, dilakukan disinfeksi pada kandang terdampak, pengobatan terhadap ternak yang memerlukan penanganan, serta pemberian vitamin kepada ternak sehat di sekitar lokasi.
Penanganan kemudian dilanjutkan pada 14 September dengan pemberian antibiotik dan vitamin kepada 88 ekor kambing dan 11 ekor sapi di Kalurahan Dadapayu. Setelah masa pemberian antibiotik selesai, vaksinasi antraks mulai dilaksanakan pada 28 September 2026 terhadap ternak di sekitar wilayah tersebut.
Vaksinasi menjadi bagian dari langkah pencegahan untuk meningkatkan perlindungan ternak sekaligus mengurangi risiko kejadian serupa.
Kementan melalui Balai Besar Veteriner (BBV) Wates turut melakukan investigasi lapangan serta mengambil sampel tanah dan swab untuk mendukung peneguhan diagnosis. Hasil pemeriksaan laboratorium menunjukkan beberapa sampel positif bakteri Bacillus anthracis.
Kepala BBV Wates, Nur Saptahidhayat, mengatakan pemeriksaan laboratorium memiliki peran penting dalam memberikan kepastian diagnosis sehingga langkah penanganan di lapangan dapat dilakukan secara lebih cepat dan tepat.
“Peran Balai terutama memastikan diagnosis melalui pemeriksaan laboratorium. Dengan diagnosis yang dapat diteguhkan, respons dan langkah pengendalian dapat dilakukan secara lebih cepat dan tepat, sekaligus menjadi dasar bagi koordinasi lintas sektor dalam pengendalian penyakit zoonosis,” ujar Sapto, sapaannya.
Menurut Sapto, penanganan penyakit zoonosis membutuhkan keterhubungan antara hasil pemeriksaan laboratorium, penyelidikan epidemiologi, tindakan kesehatan hewan, serta koordinasi dengan sektor kesehatan manusia.
Berdasarkan hasil pemeriksaan tersebut, pemantauan dan pengendalian dilanjutkan sesuai prosedur kesehatan hewan, termasuk pengawasan kesehatan ternak di pasar serta evaluasi terhadap pelaksanaan dekontaminasi dan disinfeksi.
BBV Wates juga akan melakukan pengambilan sampel kembali sesuai tahapan yang telah ditetapkan untuk melihat kondisi lingkungan setelah penanganan dilakukan. Koordinasi dengan sektor kesehatan manusia turut dilakukan sebagai bagian dari pendekatan terpadu dalam penanganan penyakit zoonosis.
Masyarakat yang memiliki riwayat paparan terhadap ternak maupun produk ternak telah mendapatkan penanganan dan pengobatan profilaksis dari petugas kesehatan. Sementara itu, sisa daging yang belum dimasak atau belum dikonsumsi telah dimusnahkan oleh Puskeswan Semanu sesuai prosedur.
Direktur Kesehatan Hewan Hendra Wibawa mengingatkan masyarakat agar tidak menyembelih, mengolah, membagikan, ataupun mengonsumsi ternak yang sakit atau mati mendadak. Menurut dia, pelaporan secara cepat akan membantu petugas melakukan pemeriksaan dan penanganan lebih awal.
“Apabila ada ternak yang sakit atau mati mendadak, sebaiknya tidak disembelih atau dikonsumsi. Segera laporkan kepada petugas kesehatan hewan agar dapat diperiksa dan ditangani sesuai prosedur,” ujar Hendra.
Ia menambahkan, keterbukaan masyarakat dalam menyampaikan informasi sangat membantu upaya pengendalian di lapangan.
“Masyarakat tidak perlu panik, namun tetap perlu waspada dan mengikuti arahan petugas. Pemerintah bersama pemerintah daerah terus melakukan pendampingan dan pemantauan agar setiap perkembangan dapat ditangani dengan baik,” kata Hendra.
Kementan juga mengimbau masyarakat untuk mengikuti arahan petugas kesehatan hewan serta berkonsultasi terlebih dahulu apabila akan melakukan lalu lintas ternak dari wilayah yang sedang dalam pemantauan.
Pengawasan, vaksinasi, pemeriksaan laboratorium, dan komunikasi kepada masyarakat akan terus dilakukan bersama pemerintah daerah sebagai bagian dari upaya menjaga kesehatan ternak sekaligus melindungi masyarakat. (red)







Be First to Comment