Press "Enter" to skip to content

55 Korban KMP Virgo Transport 8 Masih Dicari, Basarnas Alihkan Fokus Operasi

Social Media Share

Kepala Basarnas Marsekal Madya TNI Mohammad Syafii memberikan keterangan terkait kelanjutan operasi SAR KMP Virgo Transport 8, yang telah memasuki hari ke-21.(Foto: Basarnas)

JAKARTA, NP — Kepala Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Basarnas) Marsekal Madya TNI Mohammad Syafii menyampaikan perkembangan terbaru operasi SAR kecelakaan KMP Virgo Transport 8 di Laut Jawa, Provinsi Kalimantan Selatan, yang telah memasuki hari ke-21 pada Sabtu (3/10/2026).

Dalam pers rilis yang diterima redaksi, Minggu (4/10/2026), Syafii mengatakan operasi SAR masih terus dilakukan dengan mengutamakan pencarian korban sekaligus keselamatan personel yang bertugas.

“Sebelumnya, atas nama pemerintah, saya menyampaikan duka mendalam atas kejadian ini, khususnya kepada keluarga korban. Hari ini merupakan hari ke-21 operasi SAR terhitung mulai tanggal 13 September 2026 sampai dengan hari ini,” kata Syafii.

Dia menjelaskan, evaluasi operasi difokuskan pada empat hal utama, yakni perkembangan korban dan capaian operasi, penyelaman serta risiko keselamatan, dan rekomendasi strategi operasi selanjutnya.

“Prinsip utama yang menjadi dasar evaluasi adalah bahwa setiap upaya pencarian korban harus tetap dilaksanakan secara optimal, namun pada saat yang sama keselamatan personel SAR harus menjadi prioritas utama,” ujarnya.

Berdasarkan perkembangan terakhir, manifest KMP Virgo Transport 8 tercatat sebanyak 243 orang. Hingga Sabtu (3/10/2026), sebanyak 188 orang telah dievakuasi, terdiri atas 108 orang dalam kondisi selamat dan 80 orang meninggal dunia. Sementara itu, 55 orang masih dalam pencarian.

Menurut Syafii, fokus operasi saat ini tidak lagi semata-mata pada jumlah personel yang dikerahkan, tetapi pada evaluasi ulang terhadap kemungkinan lokasi keberadaan 55 korban yang masih dicari.

“Fokus operasi pada saat ini bukan lagi pada jumlah kekuatan yang dikerahkan, tetapi bagaimana kita dapat melakukan re-assessment terhadap 55 orang yang masih dalam pencarian, dengan mengevaluasi kembali lokasi, kemungkinan jalur hanyut, area permukaan, dan wilayah pesisir yang berpotensi menjadi lokasi ditemukannya korban,” jelasnya.

Lokasi kecelakaan berada pada koordinat 4°31’51,82″ Lintang Selatan dan 114°2’6,88″ Bujur Timur atau sekitar 81 nautical mile (NM) dari Pelabuhan Trisakti.

Syafii mengatakan operasi saat ini semakin kompleks karena wilayah pencarian semakin luas dan metode pencarian harus disesuaikan dengan kondisi di lapangan.

Dalam pelaksanaannya, operasi SAR telah melibatkan unsur gabungan dalam jumlah besar, baik unsur darat, laut maupun udara. Seluruh potensi SAR nasional dikerahkan, termasuk dari TNI, Polri, kementerian/lembaga dan unsur swasta.

Pencarian juga dilakukan dengan berbagai metode, mulai dari pencarian melalui udara, permukaan laut, pesisir pantai hingga pencarian bawah permukaan melalui penyelaman.

“Metode penyelaman telah dilakukan oleh tim penyelam gabungan terhadap bagian kapal yang dapat dijangkau,” kata Syafii.

Dia menambahkan, area pencarian hingga saat ini telah meluas mencakup wilayah Kalimantan Selatan, Kalimantan Tengah hingga Kalimantan Barat. Perluasan wilayah tersebut dilakukan berdasarkan penemuan korban serta perkembangan situasi di lapangan.

Salah satu upaya penting dalam operasi tersebut adalah pencarian bawah air melalui metode penyelaman. Berdasarkan hasil evaluasi, kegiatan penyelaman dilakukan rata-rata empat hingga lima sortie per hari.

Dalam setiap sortie, dikerahkan dua hingga tiga tim dengan kekuatan lima penyelam per tim. Kegiatan tersebut berlangsung mulai pukul 09.00 hingga 16.00 WITA.

” Sampai dengan operasi SAR hari ke-21 ini, telah mengevakuasi sebanyak 50 korban meninggal dunia,” ujar Syafii.

Menurut dia, capaian tersebut menunjukkan metode penyelaman memberikan kontribusi signifikan terhadap proses pencarian dan evakuasi korban. Namun, semakin jauh penyelam melakukan penetrasi ke bagian dalam kapal, semakin kompleks pula risiko yang dihadapi.

“Kita juga mengevaluasi bahwa semakin jauh operasi penyelaman dilakukan ke bagian dalam kapal, semakin kompleks pula risiko yang dihadapi. Pada titik inilah diperlukan keseimbangan antara strategi upaya pencarian dengan keselamatan personel,” katanya.

Syafii menjelaskan, sejumlah faktor menjadi pertimbangan dalam menentukan strategi operasi selanjutnya. Penyelam telah melakukan penetrasi sekitar 10 meter ke dalam kapal. Namun, penetrasi lebih jauh terhambat banyaknya material dan debris di dalam kapal.

“Terutama sekitar 15 meter memiliki potensi menghadapi struktur kapal yang dapat bergeser atau runtuh,” ujarnya.

Selain itu, beberapa jendela kapal telah dibuka dan dapat dimasuki penyelam. Namun, sejak hari ke-19 atau Kamis (1/10/2026), tidak lagi ditemukan korban dari akses tersebut.

Kondisi struktur kapal yang tidak stabil juga menjadi perhatian. Posisi kapal masih dapat mengalami perubahan trim dan kemiringan yang meningkatkan risiko bagi penyelam yang berada di dalam kapal.

“Kondisi ini meningkatkan risiko terhadap penyelam yang berada di dalam kapal. Dikhawatirkan kapal masih terus mengalami penurunan yang lebih ekstrem jika penurunan kemiringan tersebut terjadi secara tiba-tiba saat penyelam berada di dalam kapal,” jelas Syafii.

Faktor lain yang menjadi kendala adalah visibilitas yang sangat rendah akibat sedimen dan debris. Kondisi tersebut tidak hanya menghambat pencarian, tetapi juga meningkatkan risiko disorientasi penyelam.

Selain itu, terdapat banyak benda tajam yang dapat menyebabkan luka maupun cedera serius. Potensi bahaya kimia akibat tumpahan minyak dan kontaminasi lainnya juga menjadi pertimbangan.

Pada kedalaman sekitar 27 meter, kondisi gas turut menjadi salah satu faktor pembatas waktu kerja penyelam. Dengan penggunaan scuba, waktu kerja diperkirakan tidak lebih dari 20 menit dalam setiap sesi penyelaman.

“Dengan adanya pertimbangan tersebut, risiko operasi SAR penyelaman saat ini adalah kombinasi antara kondisi kapal, kondisi lingkungan bawah air, keterbatasan visibilitas, struktur, debris, kontaminasi, kedalaman, serta keterbatasan waktu kerja,” kata Syafii.

Berdasarkan seluruh perkembangan tersebut, Basarnas mengambil sejumlah kebijakan untuk kelanjutan operasi SAR KMP Virgo Transport 8.

Pertama, Basarnas memberikan kesempatan dan mendorong tim salvage melaksanakan pekerjaan pengangkatan dan stabilisasi kapal berdasarkan Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2008.

“Operasi pencarian dalam badan kapal dapat dilaksanakan kembali setelah kapal berhasil diangkat, berada dalam kondisi stabil, dan risiko terhadap tim evakuasi dapat dikendalikan,” ujarnya.

Meski demikian, operasi SAR tetap dilakukan secara simultan selama proses salvage berlangsung. Fokus operasi dialihkan dan dioptimalkan melalui pencarian permukaan dan pencarian pesisir pantai.

Area prioritas pencarian meliputi Kalimantan Selatan, Kalimantan Tengah dan Kalimantan Barat, dengan penyesuaian berdasarkan kemungkinan arah hanyut, kondisi arus, angin, gelombang serta perkembangan temuan di lapangan.

“Dengan pendekatan ini, kita tetap menjaga dua tujuan secara bersamaan. Pertama, mempertahankan upaya pencarian terhadap korban yang masih belum ditemukan, dan kedua, mencegah terjadinya risiko yang tidak terkendali terhadap personel SAR,” kata Syafii.

Sebagai kesimpulan, Syafii menegaskan operasi SAR KMP Virgo Transport 8 tetap dilaksanakan, namun pola operasi gabungan nasional akan dialihkan menjadi operasi SAR rutin di wilayah kerja Kantor SAR Banjarmasin, Kantor SAR Palangkaraya dan Kantor SAR Pontianak.

“Pelaksanaan operasi SAR KMP Virgo Transport 8 tetap dilaksanakan. Operasi SAR gabungan nasional kami alihkan kepada operasi SAR rutin di wilayah Kantor SAR Banjarmasin, Kantor SAR Palangkaraya dan Kantor SAR Pontianak serta mendorong dan mendukung kegiatan tim salvage guna memastikan evakuasi korban di dalam badan kapal,” pungkasnya. (red)

 

Be First to Comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *