Press "Enter" to skip to content

40 Ton Karkas Ayam Afkir Jatim Dikirim ke Makassar, Peternak Perkuat Posisi Tawar

Social Media Share

Pengiriman perdana 40 ton karkas ayam layer afkir asal Jawa Timur menuju Makassar, Sulawesi Selatan, Rabu (2/9/2026). Distribusi ini menjadi langkah awal membuka akses pasar yang lebih luas bagi peternak ayam petelur.(Foto: Ist)

JAWA TIMUR, NP – Sebanyak 40 ton karkas ayam layer afkir asal Jawa Timur mulai dikirim ke Makassar, Sulawesi Selatan. Pengiriman perdana ini menjadi langkah konkret membuka jalur pemasaran baru sekaligus memutus ketergantungan peternak terhadap tengkulak yang selama ini dinilai masih kuat dalam tata niaga ayam petelur afkir.

Distribusi tersebut merupakan hasil kolaborasi pemerintah, ID FOOD, dan koperasi peternak. Koperasi yang terlibat antara lain Koperasi PPN Blitar, Koperasi KARTINI, Koperasi Putra Blitar, Koperasi PPRN (Perhimpunan Peternak Rakyat Nusantara), dan Koperasi Berkah Telur.

Direktur Hilirisasi Hasil Peternakan, Makmun, menegaskan pengiriman 40 ton tersebut bukan sekadar distribusi perdana, tetapi diharapkan menjadi awal terbentuknya pola perdagangan yang berlangsung secara reguler.

“Pelepasan 40 ton ini merupakan langkah awal. Ke depan akan menjadi reguler. Kerja sama antarkoperasi diperlukan agar harga tidak dikendalikan oleh tengkulak. Posisi tawar dari peternak harus diperkuat,” ujar Makmun dalam keterangan pers, Rabu (2/9/2026).

Menurut Makmun, kekuatan koperasi menjadi penting untuk mengonsolidasikan produksi peternak sehingga volume yang tersedia dapat memenuhi kebutuhan pasar dalam skala lebih besar. Dengan demikian, peternak tidak berjalan sendiri-sendiri ketika menjual ayam afkir.

Penguatan koperasi juga dinilai dapat menciptakan tata niaga yang lebih sehat. Produksi peternak dikonsolidasikan di tingkat koperasi, kemudian disalurkan ke pasar yang membutuhkan, sehingga rantai distribusi menjadi lebih terukur.

Direktur Komersial ID FOOD, Dwi Sutoro, mengatakan ID FOOD berkomitmen membangun ekosistem peternakan yang menempatkan koperasi dan peternak sebagai bagian penting dalam rantai pasok.

“ID FOOD ingin membangun ekosistem. Koperasi ada dan diperlukan untuk memfasilitasi keinginan anggota,” kata Dwi.

Melalui pola tersebut, koperasi tidak hanya berfungsi sebagai wadah organisasi, tetapi juga menjadi penghubung antara produksi peternak dan kebutuhan pasar. Termasuk dalam penyerapan ayam petelur afkir yang selama ini menjadi persoalan ketika ayam memasuki akhir masa produksi.

Kepala Dinas Peternakan dan Perikanan Kabupaten Blitar, Heri Widyatmoko, mengapresiasi langkah penyerapan tersebut. Menurutnya, kepastian pasar menjadi kebutuhan penting bagi peternak ketika ayam tidak lagi produktif menghasilkan telur.

“Kami mengucapkan terima kasih atas penyerapan ayam petelur afkir ini. Terima kasih juga atas gerak cepat pemerintah pusat dalam memberikan solusi atas permasalahan ini,” ujar Heri.

Bagi peternak, ayam afkir bukan sekadar komoditas yang harus segera dikeluarkan dari kandang. Pada akhir masa produksi, keberadaan saluran pemasaran yang mampu memberikan harga lebih baik menjadi penting untuk menjaga nilai ekonomi usaha peternakan.

Ketua Koperasi PPRN (Perhimpunan Peternak Rakyat Nusantara), Rofi, menyebut penyerapan oleh ID FOOD memberikan alternatif bagi peternak karena harga yang diberikan berada di atas harga pasar.

“Terima kasih kepada ID FOOD karena dapat menjadi solusi terhadap permasalahan ini dengan menyerap ayam afkir petelur dengan harga di atas harga pasar,” ujar Rofi.

Namun, Rofi menilai persoalan mendasar peternak belum selesai hanya dengan adanya penyerapan. Posisi tawar koperasi harus diperkuat agar peternak tidak kembali bergantung pada mekanisme perdagangan yang dikendalikan tengkulak.

“Kami membenarkan bahwa selama ini posisi tawar koperasi masih rendah dan masih diatur oleh tengkulak. Kerja sama antarkoperasi diperlukan. Chemistry yang sudah ada perlu dijaga,” tambahnya.

Pengiriman 40 ton karkas ayam layer ke Makassar karena itu menjadi lebih dari sekadar aktivitas distribusi. Langkah tersebut menunjukkan upaya menghubungkan sentra produksi ayam petelur di Jawa Timur dengan pasar di luar daerah secara langsung dan terorganisasi.

Jika pola ini berjalan reguler, ruang pemasaran peternak akan semakin luas. Koperasi dapat mengonsolidasikan pasokan, sementara ID FOOD dan pemerintah membantu membuka serta memperkuat akses pasar.

Tantangannya adalah memastikan kerja sama tersebut tidak berhenti pada pengiriman perdana. Konsistensi volume, kepastian harga, kontinuitas pasokan, serta kemampuan koperasi mengelola distribusi menjadi faktor penting agar pola baru ini benar-benar memberikan manfaat bagi peternak.

Pemerintah, ID FOOD, koperasi, dan peternak kini dituntut membangun rantai pasok yang lebih kuat. Peternak menghasilkan, koperasi mengonsolidasikan, pasar menyerap, dan produk bergerak dari sentra produksi menuju wilayah yang membutuhkan.

Dengan pola tersebut, ayam layer afkir tidak lagi semata menjadi persoalan di tingkat kandang ketika masa produksinya berakhir. Komoditas tersebut dapat menjadi bagian dari rantai ekonomi yang memiliki nilai tambah sekaligus memperkuat keberlanjutan usaha peternak rakyat. (red)

 

Be First to Comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *