Press "Enter" to skip to content

Mindo Sianipar Dorong Kopi Arabika Humbahas Tembus Pasar Internasional

Social Media Share
Mindo Sianipar mendorong kopi Arabika Humbahas menembus pasar internasional demi meningkatkan kesejahteraan petani. (Foto: red)

 

JAKARTA, NP – Pengamat sekaligus pelaku usaha pertanian terpadu Mindo Sianipar mendorong Kabupaten Humbang Hasundutan (Humbahas), Sumatera Utara, mengoptimalkan potensi kopi Arabika sebagai komoditas unggulan daerah. Pengembangan komoditas tersebut dinilai berpeluang meningkatkan pendapatan petani sekaligus memperluas akses pasar hingga tingkat internasional.

Menurut Mindo, kondisi geografis Humbahas yang berada di kawasan dataran tinggi merupakan keunggulan tersendiri dalam pengembangan kopi Arabika berkualitas. Dengan ketinggian wilayah sekitar 1.300 hingga 2.000 meter di atas permukaan laut (mdpl), Humbahas memiliki karakteristik alam yang mendukung budidaya kopi jenis tersebut.

“Kalau bertanam kopi di sana, pasti kopi Arabika. Jadi, itu bisa menjadi keunggulan kopi Arabika dari Humbang Hasundutan. Tidak banyak daerah seperti itu di dunia,” ujar Mindo saat ditemui di Jakarta, Jumat (30/10/2026).

Ia mengatakan, Indonesia memiliki keunggulan dalam pengembangan kopi Arabika karena didukung banyak wilayah dataran tinggi dengan kondisi iklim yang sesuai. Potensi tersebut perlu dimanfaatkan secara optimal agar Indonesia semakin mampu memperkuat posisinya di pasar kopi dunia.

Mindo membandingkan kondisi tersebut dengan Vietnam yang sebagian besar produksi kopinya didominasi jenis Robusta. Menurut mantan anggota Komisi IV DPR RI itu, Indonesia perlu lebih serius mengembangkan kopi Arabika dari daerah-daerah yang memiliki keunggulan geografis, termasuk Humbahas.

“Daerah Indonesia lebih bagus mengonsentrasikan ke kopi Arabika. Harganya juga lebih baik daripada kopi Robusta,” katanya.

Untuk mendukung pengembangan tersebut, Mindo menekankan pentingnya peran pemerintah, khususnya Kementerian Pertanian, dalam menyediakan bibit kopi berkualitas serta memperkuat pendampingan kepada kelompok tani.

Ia menyarankan kelompok tani membangun komunikasi dan kemitraan dengan balai benih kopi milik pemerintah, termasuk yang berada di Jember, Jawa Timur. Langkah ini diperlukan untuk memastikan ketersediaan bibit unggul sekaligus meningkatkan produktivitas perkebunan rakyat.

Selain penyediaan bibit, pengembangan kopi Arabika Humbahas juga harus didukung perluasan lahan dan penguatan pengolahan hasil pertanian secara terintegrasi dari hulu hingga hilir.

“Harus ada penambahan luas lahan sekaligus pengolahannya dari hulu sampai hilir. Harus berkelanjutan supaya bisa masuk ke pasar dunia,” ujarnya.

Tanaman kopi Arabika di Humbang Hasundutan, Sumatera Utara, memiliki potensi besar untuk dikembangkan sebagai komoditas unggulan daerah dan menembus pasar internasional. (Foto: Ist)

Pemasaran Digital

Mindo juga melihat peluang besar pemasaran kopi Arabika Humbahas melalui pemanfaatan teknologi digital. Menurut dia, perkembangan internet memungkinkan petani dan pelaku usaha lokal memasarkan produknya secara langsung kepada pembeli, termasuk di pasar internasional, tanpa harus sepenuhnya bergantung pada jalur perdagangan konvensional.

“Saya kira Humbang Hasundutan bisa menjual langsung. Tidak harus lewat Medan, tidak harus lewat negara lain. Dengan pemasaran digital dan internet yang sudah menjangkau ke mana-mana, masyarakat dari daerah mana pun di Indonesia, termasuk Humbang Hasundutan, bisa mengerjakan itu,” katanya.

Untuk merealisasikan peluang tersebut, ia mendorong penguatan kapasitas sumber daya manusia (SDM), termasuk siswa sekolah menengah kejuruan (SMK) pertanian di Humbahas. Para siswa perlu dibekali keterampilan pemasaran digital agar dapat berperan dalam memperluas jangkauan pasar produk pertanian daerah.

Menurut Mindo, penguasaan teknologi pemasaran melalui internet dapat membuka peluang usaha baru bagi generasi muda sekaligus mengurangi ketergantungan petani terhadap pengusaha besar dan perantara perdagangan.

“Anak-anak SMK pertanian harus dilatih bagaimana menggunakan internet untuk memasarkan produk. Jadi, tidak harus ke kota dan tidak harus bergantung pada pengusaha besar,” tuturnya.

Ia juga mendorong pengembangan unit-unit usaha kecil dan koperasi, seperti Talbak Coffee, yang dapat berperan mengoordinasikan produksi sekaligus pemasaran kopi petani. Melalui kelembagaan usaha yang kuat, petani diharapkan mampu membangun jaringan pemasaran lebih luas dan menjangkau pembeli secara langsung.

Perkuat Rantai Pasok

Mindo menegaskan, pengembangan kopi Arabika tidak cukup hanya mengandalkan kualitas produk dan kemampuan pemasaran. Keberlanjutan pasokan atau rantai pasok juga harus menjadi perhatian utama agar kepercayaan pasar, khususnya pembeli internasional, dapat dipertahankan.

Menurut dia, rantai pasok yang baik tidak hanya menyangkut kontinuitas jumlah produksi, tetapi juga konsistensi, bahkan peningkatan, kualitas kopi yang dihasilkan petani.

“Pengertian rantai pasok itu bukan hanya kontinuitas jumlah produksi, tetapi juga kontinuitas atau bahkan peningkatan kualitasnya. Itu harus dijaga sebagai satu kesatuan,” katanya.

Ia mengingatkan petani agar mampu memenuhi permintaan pasar secara konsisten. Jangan sampai pembeli dari luar negeri kembali datang untuk membeli kopi, tetapi persediaan produk tidak mencukupi atau kualitasnya tidak lagi sesuai dengan standar yang diharapkan.

“Jangan kali ini bagus dan jumlahnya cukup, tetapi ketika pembeli dari luar datang lagi, kopinya sudah tidak ada. Ini yang perlu diperhatikan. Harus berkelanjutan,” ujarnya.

Untuk menjaga kesinambungan produksi dan kualitas, Mindo menilai koordinasi antarpelaku usaha tani perlu diperkuat melalui kelembagaan koperasi. Koperasi dapat menjadi wadah untuk mengatur produksi, menjaga mutu, mengonsolidasikan hasil panen, serta membangun kemitraan dengan pelaku usaha dan pembeli.

Ia juga menekankan pentingnya keterlibatan pemerintah daerah dalam mendukung pengembangan kopi Arabika, terutama melalui pengalokasian anggaran untuk program-program yang langsung menyentuh kebutuhan petani.

“Secara khusus, pemerintah daerah Kabupaten Humbang Hasundutan harus menyiapkan dana ke arah sana. Karena inilah harapan Humbang Hasundutan untuk menaikkan pendapatan petani dengan harga pasar internasional,” kata Mindo.

Ia berharap Bupati Humbang Hasundutan Oloan Paniaran Nababan dapat merealisasikan berbagai langkah strategis tersebut melalui kerja sama dengan kelompok tani, koperasi, dan pengusaha lokal.

Menurut Mindo, kolaborasi seluruh pemangku kepentingan menjadi kunci agar kopi Arabika Humbahas tidak sekadar dikenal sebagai komoditas unggulan daerah, tetapi juga mampu memberikan nilai tambah ekonomi dan meningkatkan kesejahteraan petani secara berkelanjutan. (red)

 

Be First to Comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *