JAKARTA, NP — Eskalasi konflik di kawasan Timur Tengah memunculkan kekhawatiran terhadap keselamatan warga negara Indonesia (WNI), terutama jemaah umrah yang tengah berada di Arab Saudi. Ketua Umum Pengurus Besar Al Jam’iyatul Washliyah, DR. KH. Masyhuril Khamis, SH., MM., mengimbau seluruh WNI di Arab Saudi agar meningkatkan kewaspadaan, mengutamakan keselamatan jiwa, dan mengikuti arahan otoritas setempat.
Imbauan tersebut disampaikan menyusul kabar serangan yang dikaitkan dengan kelompok Houthi terhadap Bandara Internasional King Khalid di Riyadh pada 10 Oktober 2026. Informasi mengenai lokasi serangan, jumlah korban, dan pihak yang bertanggung jawab perlu dikonfirmasi melalui sumber resmi.
Masyhuril menegaskan, di tengah situasi keamanan yang belum menentu, keselamatan jiwa harus menjadi prioritas utama. Jemaah umrah diharapkan tetap tenang, tidak mudah terpancing informasi yang belum terverifikasi, serta membatasi aktivitas yang tidak mendesak, terutama jika berada di wilayah yang terdampak langsung oleh eskalasi keamanan.
“Keselamatan jiwa harus menjadi prioritas. Makanya, kami mengimbau seluruh jemaah umrah Indonesia, terutama jemaah Al Washliyah, untuk tetap tenang, meningkatkan kewaspadaan, dan senantiasa mengikuti arahan resmi dari otoritas terkait, dalam hal ini Kementerian Haji dan Umrah,” ujar Masyhuril dalam siaran pers yang diterima redaksi, Senin (12/10/2026).
Masyhuril juga meminta pemerintah melalui Kementerian Haji dan Umrah untuk memberikan informasi secara terperinci dan berkelanjutan mengenai perkembangan situasi keamanan di Arab Saudi. Menurut dia, informasi yang jelas dan terkini diperlukan agar jemaah dapat mengambil langkah yang tepat.
“Jika kondisinya tidak memungkinkan, Kementerian Haji dan Umrah bisa mengambil langkah preventif untuk melindungi jemaah umrah dan warga negara Indonesia di Tanah Suci,” tambah Masyhuril.
Kepada jemaah umrah yang saat ini berada di Tanah Suci, Masyhuril meminta agar komunikasi dengan Penyelenggara Perjalanan Ibadah Umrah (PPIU) terus dijaga secara intensif. Komunikasi tersebut penting untuk memastikan jemaah memperoleh informasi terkini mengenai situasi keamanan, perubahan jadwal perjalanan, serta prosedur keselamatan apabila terjadi keadaan darurat.
Menurut Masyhuril, penyelenggara perjalanan umrah memiliki tanggung jawab untuk memastikan kondisi jemaah tetap terpantau. Koordinasi antara jemaah, pembimbing ibadah, biro perjalanan, dan perwakilan pemerintah Indonesia juga dinilai penting untuk mengantisipasi perubahan situasi.
“Koordinasi yang baik antara jemaah, pembimbing ibadah, pihak travel, dan perwakilan pemerintah Indonesia diperlukan agar setiap perkembangan dapat direspons secara tepat,” terang Masyhuril.
Sementara itu, kepada calon jemaah umrah yang masih menunggu jadwal keberangkatan di Tanah Air, Masyhuril meminta agar mereka terus memantau perkembangan situasi keamanan serta memastikan status penerbangan melalui maskapai dan biro perjalanan resmi.
Apabila terjadi perubahan situasi yang berdampak terhadap perjalanan, calon jemaah diimbau meminta penjelasan kepada penyelenggara perjalanan mengenai pilihan yang tersedia, termasuk prosedur penjadwalan ulang dan ketentuan perjalanan yang berlaku.
Masyhuril berharap situasi keamanan di kawasan Timur Tengah segera membaik sehingga WNI dapat menjalankan aktivitas dan ibadah dengan aman. Ia juga mengimbau masyarakat agar tetap tenang, meningkatkan kewaspadaan, dan mengandalkan informasi resmi dalam mengambil keputusan sesuai perkembangan keadaan. (red)







Be First to Comment