Ilustrasi – Gedung Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia (PGI), Jakarta. (Foto:Ist)
JAKARTA, NP – Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia (PGI) mengajak gereja-gereja di Indonesia tidak hanya hadir ketika bencana terjadi, tetapi ikut membangun kesiapsiagaan, mengurangi risiko, dan merawat lingkungan sebagai bagian dari panggilan iman.
“Ketika hutan terbakar, gunung bergolak, udara tercemar, atau lingkungan rusak, kehidupan bersama ikut terluka. Karena itu, mengurangi risiko bencana merupakan bagian dari tanggung jawab kita dalam menjaga kehidupan,” kata Jacky.
Menurut dia, gereja harus hadir sebelum, saat, dan sesudah bencana. Kesiapsiagaan dapat dimulai dari keluarga, jemaat, hingga komunitas dengan mengenali risiko di wilayah masing-masing, memahami tanda bahaya, mengetahui jalur evakuasi dan tempat aman, serta menyiapkan kebutuhan kedaruratan.
“Iman tidak hanya mengajak kita bertindak ketika bencana terjadi, tetapi juga mempersiapkan diri, saling menjaga, merawat alam, dan membangun kehidupan yang lebih tangguh,” ujarnya.
Jacky menegaskan kesiapsiagaan tidak boleh dipandang sebagai bentuk ketakutan. Sebaliknya, kesiapsiagaan merupakan wujud tanggung jawab iman untuk melindungi kehidupan.
Karena itu, umat diminta tetap tenang menghadapi informasi mengenai potensi bencana, mencari informasi dari sumber yang dapat dipercaya, serta mengikuti arahan pihak berwenang.
PGI juga mengingatkan gereja agar memberi perhatian lebih kepada kelompok rentan, seperti anak-anak, lanjut usia, penyandang disabilitas, dan kelompok masyarakat lainnya yang membutuhkan perlindungan khusus.
“Membangun ketangguhan berarti memastikan bahwa tidak seorang pun ditinggalkan,” kata Jacky.
Kerusakan Alam Jadi Persoalan Iman
Selain kesiapsiagaan bencana, PGI menempatkan kepedulian ekologis sebagai bagian penting dari panggilan gereja. Bumi, kata Jacky, merupakan rumah bersama bagi manusia dan seluruh ciptaan.
Kerusakan hutan, sungai, laut, tanah dan lingkungan hidup tidak dapat dipandang semata-mata sebagai persoalan ekologis, tetapi juga sebagai ancaman terhadap kehidupan.
“Gereja dipanggil untuk mewujudkan iman melalui tindakan nyata: menjaga kehidupan, merawat bumi, memperjuangkan keadilan ekologis, dan memastikan generasi mendatang tetap memiliki rumah kehidupan yang layak,” katanya.
Dalam pesan tersebut, gereja juga diajak mengembangkan semangat keugaharian dengan menggunakan sumber daya secara bertanggung jawab, mencukupkan diri, dan berbagi dengan sesama.
Menurut Jacky, cara hidup tersebut menjadi bagian dari upaya menjaga bumi dari pola keserakahan yang mengorbankan kehidupan dan alam demi kepentingan tertentu.
PGI Ajak Gereja Berdoa Bersama
Sebagai bentuk solidaritas terhadap masyarakat terdampak bencana, PGI mengajak seluruh gereja anggota menggelar doa bersama dalam ibadah Minggu, 13 September 2026.
Doa secara khusus ditujukan bagi masyarakat di sekitar gunung api yang mengalami erupsi, antara lain Gunung Anak Krakatau di Lampung, Gunung Sinabung di Sumatera Utara, Gunung Ibu di Maluku Utara, Gunung Ili Lewotolok dan Lewotobi Laki-laki di Nusa Tenggara Timur, serta Gunung Semeru di Jawa Timur.
PGI juga mengajak umat mendoakan masyarakat yang terdampak kebakaran hutan dan lahan serta asap di sejumlah wilayah, termasuk Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Kalimantan, Sulawesi Utara, Papua, Papua Barat, dan Papua Tengah.
Doa juga dipanjatkan bagi masyarakat yang masih menjalani pemulihan pascabencana, khususnya di Nusa Tenggara Timur, Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat.
Keluarga yang berduka, para penyintas, anak-anak, kelompok rentan, relawan, tenaga kesehatan, aparat, gereja, dan lembaga kemanusiaan yang terlibat dalam penanganan bencana turut menjadi bagian dari doa bersama tersebut.
Jacky menegaskan, gereja tidak boleh berjalan sendiri dalam menghadapi berbagai ancaman bencana.
“Dalam semangat persekutuan, kita berdoa bersama, bersiap bersama, bertindak bersama, dan bangkit bersama. Kita tidak berjalan sendiri karena kita adalah satu tubuh dalam Kristus,” katanya.
Ia berharap gereja dapat menjadi ruang yang menghadirkan ketenangan, perlindungan, kasih, dan pengharapan bagi masyarakat yang menghadapi bencana.
“Kiranya Tuhan menguatkan yang lemah, menghibur yang berduka, melindungi yang terdampak bencana, dan memakai gereja-Nya menjadi tanda kasih dan pengharapan di tengah dunia yang sedang terluka,” pungkasnya. (red)







Be First to Comment