Dirjen PKH Kementerian Pertanian Agung Suganda saat membuka Indonesia International Pet Expo (IIPE) 2026 di Indonesia Convention Exhibition (ICE), BSD City, Kabupaten Tangerang, Jumat (4/9/2026).(Foto: Ist).
TANGERANG, NP.– Kementerian Pertanian (Kementan) mendorong industri hewan kesayangan (pet) nasional naik kelas dengan memperkuat produk dalam negeri sekaligus memastikan aspek kesehatan, kesejahteraan hewan, keamanan produk, dan kepemilikan hewan secara bertanggung jawab.
Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (Dirjen PKH) Kementan Agung Suganda mengatakan, industri pet di Indonesia telah berkembang menjadi ekosistem ekonomi yang semakin luas. Perkembangannya tidak lagi sebatas perdagangan hewan peliharaan, tetapi telah merambah bisnis pakan dan nutrisi, pelayanan veteriner, obat hewan, perawatan, perlengkapan, hingga teknologi.
Hal itu disampaikan Agung saat membuka Indonesia International Pet Expo (IIPE) 2026 di Indonesia Convention Exhibition (ICE), BSD City, Kabupaten Tangerang, Jumat (4/9/2026).
“Kita ingin membangun ekosistem pet Indonesia yang tidak hanya tumbuh secara ekonomi, tetapi juga berlandaskan ilmu pengetahuan, teknologi, etika, dan kepedulian terhadap kesejahteraan hewan,” ujar Agung dalam pers rilis yang diterima redaksi, Jumat (4/9/2026).
Agung menilai pertumbuhan pasar pet menunjukkan peluang ekonomi yang semakin besar. Namun, peluang tersebut harus mampu dikonversi menjadi pertumbuhan industri nasional, bukan sekadar memperbesar pasar bagi produk impor.
Karena itu, Kementan mendorong industri makanan hewan kesayangan lokal agar mampu mengambil porsi lebih besar dari pertumbuhan pasar domestik.
“Industri makanan hewan kesayangan lokal harus kita dorong. Kita harus mengembangkan produk dalam negeri agar pertumbuhan pasar juga memberikan nilai tambah bagi industri nasional,” tegasnya.
Menurut Agung, Indonesia memiliki sumber daya dan kapasitas industri yang dapat dikembangkan untuk memperkuat daya saing di sektor pet. Salah satu indikasinya terlihat dari kemampuan industri obat hewan nasional menembus pasar internasional.
“Untuk obat hewan, saya yakin kita sudah banyak memiliki produk lokal. Bahkan ekspor obat hewan kita sudah mendunia, terakhir sudah sampai ke Rusia. Ini merupakan prestasi yang luar biasa dan harus terus kita kembangkan,” ungkapnya.
Meski prospek ekonominya besar, Agung mengingatkan pertumbuhan industri pet tidak boleh mengorbankan kesehatan dan kesejahteraan hewan. Menurut dia, meningkatnya kepemilikan hewan kesayangan harus diikuti dengan meningkatnya kesadaran pemilik terhadap tanggung jawab pemeliharaan.
“Kalau kita memelihara hewan kesayangan, tentu tidak cukup hanya diberi makan dan minum. Kesehatan dan kesejahteraan hewan juga harus dijamin,” ujar Agung.
Untuk memperkuat aspek tersebut, pemerintah telah menerbitkan Peraturan Menteri Pertanian Nomor 32 Tahun 2025 tentang Penyelenggaraan Kesejahteraan Hewan.
Agung mengatakan pemerintah tetap membuka ruang bagi masyarakat, organisasi profesi, dan komunitas pencinta hewan untuk memberikan masukan dalam penyempurnaan kebijakan.
“Masukan dari komunitas dan para pemerhati hewan terus kami terima dan tentu akan kami tindak lanjuti, termasuk dalam penguatan aturan-aturan turunannya,” katanya.
Memasuki satu dekade penyelenggaraan, Agung menilai IIPE telah berkembang melampaui fungsi sebagai ajang promosi produk. Pameran tersebut dinilai menjadi titik temu antara pemerintah, pelaku industri, komunitas, akademisi, hingga mitra internasional untuk membangun jejaring dan membuka peluang kolaborasi.
“Saya mengajak seluruh pemangku kepentingan untuk terus memperkuat sinergi, memperluas jejaring internasional, dan menghadirkan inovasi yang memberikan manfaat nyata bagi masyarakat, industri, dan pembangunan nasional,” lanjutnya.
Potensi ekonomi industri pet juga menjadi perhatian Pemerintah Kabupaten Tangerang. Wakil Bupati Tangerang Intan Nurul Hikmah mengatakan IIPE mempertemukan berbagai unsur dalam satu ekosistem, mulai dari pemerintah, pelaku usaha, akademisi, asosiasi, komunitas, investor, hingga masyarakat.
“Indonesia International Pet Expo bukan sekadar sebuah pameran. Lebih dari itu, kegiatan ini menjadi ruang bertemunya pelaku usaha, asosiasi, akademisi, pemerintah, komunitas, serta masyarakat pencinta hewan untuk membangun jejaring, bertukar pengetahuan, memperkenalkan inovasi, sekaligus membuka peluang kerja sama dan investasi,” ujar Intan.
Menurut Intan, rantai ekonomi industri hewan kesayangan cukup panjang. Selain pangan dan kesehatan hewan, sektor tersebut mencakup jasa perawatan, perlengkapan, teknologi, industri kreatif, hingga UMKM.
“Kami berharap kehadiran IIPE 2026 dapat memberikan dampak positif bagi perekonomian daerah, khususnya melalui peningkatan investasi, promosi produk lokal, pemberdayaan UMKM, penciptaan lapangan kerja, serta terbukanya jejaring bisnis yang lebih luas,” katanya.
Dari sisi industri, CEO PT Temali Indonesia Didit Siswodwiatmoko mengatakan satu dekade pertama IIPE telah menjadi fondasi bagi pengembangan industri pet nasional. Tantangan berikutnya adalah memastikan industri tersebut tumbuh lebih profesional dan mampu bersaing di tingkat internasional.
“Sepuluh tahun pertama IIPE adalah tentang membangun fondasi. Sepuluh tahun berikutnya harus menjadi perjalanan untuk membangun masa depan industri hewan kesayangan Indonesia yang semakin profesional, inovatif, bertanggung jawab, dan memiliki daya saing internasional,” kata Didit.
Mengusung tema “Unleash the Energy”, IIPE 2026 melibatkan 295 exhibitor lokal dan internasional. Didit mengatakan penyelenggaraan pameran tersebut diarahkan untuk memperkuat konektivitas antara industri nasional dan ekosistem pet global.
“IIPE bukan hanya tentang produk dan bisnis. IIPE adalah tentang mempertemukan ide dan kesempatan, bisnis dengan bisnis, komunitas dengan komunitas, serta Indonesia dengan industri pet global,” ujarnya.
Dimensi internasional IIPE juga mendapat perhatian Manager Shenzhen Pet Fair Steven Song. Ia menilai IIPE telah berkembang menjadi platform penting bagi pertukaran pengetahuan, perdagangan, dan kerja sama industri pet di kawasan.
“IIPE telah berkembang menjadi pameran industri pet yang profesional dan berpengaruh di Indonesia. Lebih dari sebuah pameran, IIPE merupakan platform penting untuk pertukaran dan kerja sama industri di kawasan,” ujar Steven.
Menurut Steven, konektivitas lintas negara akan semakin menentukan perkembangan industri pet ke depan, terutama dalam membuka akses pasar, mempertemukan mitra bisnis, dan mempercepat pertukaran inovasi.
“Kami percaya IIPE akan membawa energi dan peluang baru bagi perkembangan industri pet di kawasan. Melalui kerja sama, kita dapat menghubungkan berbagai pasar dan menciptakan peluang baru bagi industri pet global,” katanya.
Steven sekaligus mengundang pelaku industri Indonesia memperluas jejaring bisnis melalui China Shenzhen International Pet Supplies Exhibition yang dijadwalkan berlangsung pada 25–28 Februari 2027 di Shenzhen.
Bagi Kementan, semakin luasnya konektivitas industri tersebut merupakan peluang untuk memperbesar pasar produk nasional, meningkatkan kualitas dan daya saing industri, sekaligus memperkuat posisi Indonesia dalam rantai industri hewan kesayangan di tingkat regional maupun global. (red)







Be First to Comment