Press "Enter" to skip to content

Video Prajurit TNI AD Tegur DPR hingga Pejabat Beredar, Dispenad: Rekayasa AI

Social Media Share

Video hasil rekayasa AI menampilkan sosok berseragam TNI AD seolah-olah menegur anggota DPR dan pejabat daerah. Dispenad memastikan adegan tersebut tidak pernah terjadi.(Foto: Dispenad)

JAKARTA, NP – Video yang menampilkan sosok berseragam TNI Angkatan Darat (AD) seolah-olah menegur anggota DPR RI, membela terdakwa di ruang sidang, hingga menegur pejabat DPRD Provinsi Kalimantan dipastikan bukan kejadian nyata.

Dinas Penerangan Angkatan Darat (Dispenad) menyebut video tersebut merupakan konten hasil rekayasa menggunakan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) yang tidak memiliki kaitan dengan institusi TNI AD.

“Kami perlu meluruskan bahwa video-video tersebut bukan rekaman kejadian nyata dan tidak ada kaitannya dengan TNI Angkatan Darat. Video tersebut merupakan konten hasil rekayasa menggunakan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI),” kata Dispenad dalam rilis pers yang diterima redaksi, Senin (31/8/2026).

Dispenad menyebut terdapat sejumlah kejanggalan pada video tersebut, mulai dari ketidaksesuaian atribut dan tanda pengenal seragam TNI AD hingga karakteristik visual yang menunjukkan adanya rekayasa digital.

Tak hanya itu, nama personel yang ditampilkan dalam video tersebut juga dipastikan tidak terdaftar sebagai personel TNI Angkatan Darat.

Skenario yang ditampilkan dalam video pun ditegaskan tidak pernah terjadi. Adegan prajurit secara sepihak menginterupsi sidang DPR RI, persidangan pengadilan, maupun rapat DPRD dinilai tidak sesuai dengan tugas dan kewenangan prajurit TNI AD.

“Tidak pernah terjadi dan tidak sesuai dengan tugas, kewenangan, maupun mekanisme yang berlaku di lingkungan TNI AD,” tegas Dispenad.

Dispenad mengungkapkan, video tersebut berasal dari akun atau kanal “ZONA-AI CHANNEL”. TNI AD menegaskan tidak memiliki keterkaitan dengan akun tersebut dan tidak pernah memberikan izin maupun bahan untuk pembuatan konten.

Dispenad pun meminta masyarakat dan media tidak menjadikan video tersebut sebagai rujukan informasi faktual, terlebih menyebarluaskannya tanpa verifikasi.

“Informasi mengenai TNI AD dapat dikonfirmasi melalui kanal resmi TNI AD atau Dispenad,” kata Dispenad.

Dispenad mengingatkan penggunaan teknologi AI semestinya diarahkan untuk kepentingan kreativitas, bukan untuk menciptakan informasi yang dapat menyesatkan publik dengan mengatasnamakan institusi negara.

“Jadi, sekali lagi, sosok prajurit yang ditampilkan dalam video tersebut bukan kejadian nyata. Itu konten hasil AI. Jangan sampai teknologi yang seharusnya menjadi sarana kreativitas justru digunakan untuk membangun informasi yang menyesatkan dan mengatasnamakan institusi TNI AD, kemudian diterima masyarakat sebagai sebuah fakta,” pungkas Dispenad. (red)

 

Be First to Comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *