Prof. Satyanegara (kiri) menerima penghargaan atas dedikasi dan kontribusinya dalam pengembangan pelayanan kesehatan di RSSN. (Foto: Ist)
KARAWACI, NP – Usia 65 tahun sempat membuat ahli bedah saraf senior Prof. Satyanegara ragu ketika Komisaris Utama (Komut) Rumah Sakit Satya Negara (RSSN) Sunter, Jakarta Utara, mengajaknya bergabung membangun pelayanan kesehatan berkualitas. Namun, ajakan yang disampaikan dalam sebuah makan malam pada Agustus 2004 itu justru menjadi titik penting dalam perjalanan RSSN.
Prof. Satyanegara mengisahkan, saat itu Komut mengundangnya bersama sejumlah dokter ahli bedah saraf untuk makan malam di sebuah restoran di Jakarta. Di tengah pertemuan, Komut menyampaikan gagasan membangun RSSN dengan dukungan sumber daya tenaga medis dan tenaga kesehatan (nakes) yang efektif dan efisien.
“Saya masih ingat suasana pertemuan. Waktu itu, saya masih berusia 65 tahun. Saya sempat manggut-manggut merespons ajakan Komut. Saya bilang, usia saya mungkin sudah tidak produktif lagi,” tutur Prof. Satyanegara saat memberikan sambutan pada Perayaan HUT ke-35 RSSN di Sapphire Sky Hotel, Karawaci, Banten, Minggu (30/8/2026).

Keraguan itu kemudian dijawab Komut dengan kalimat-kalimat penuh motivasi. Prof. Satyanegara akhirnya menerima ajakan tersebut dan ikut membangun sekaligus meningkatkan kinerja pelayanan RSSN.
Waktu membuktikan keputusan itu. Kini, setelah melewati usia 75, 80, hingga 85 tahun, Prof. Satyanegara bahkan segera memasuki usia 88 tahun. Namun, semangatnya untuk mengabdi dan mengembangkan ilmu kedokteran belum surut.
“Setelah melewati usia 75 tahun, 80 tahun, 85 tahun, bahkan tidak lama lagi usia saya 88 tahun, saya masih bisa berdiri di sini (panggung perayaan HUT ke-35 RSSN). Saya juga masih menulis buku-buku ilmu bedah saraf,” katanya.

Perjalanan RSSN sendiri telah berlangsung panjang sejak rumah sakit tersebut pertama kali dibuka pada 1991. Dari RS Sunter Agung di bawah manajemen lama, RSSN secara bertahap dikembangkan melalui kerja keras manajemen, Komut, pemegang saham, dan jajaran direksi hingga menjadi salah satu rumah sakit terkemuka.
Momentum penting terjadi pada 2004. Saat itu, Satya Negara melakukan transformasi dengan memperkuat RSSN sebagai rumah sakit unggulan di bidang bedah saraf. Tim bedah saraf dipimpin Prof. Dr. Satyanegara, MD, Sp.BS, salah satu dokter ahli bedah saraf utama Indonesia yang memiliki kiprah di tingkat internasional dan pernah menjadi bagian dari Tim Dokter Kepresidenan Republik Indonesia.
Di tengah semakin banyaknya rumah sakit baru dengan dukungan teknologi kesehatan berbiaya tinggi, Prof. Satyanegara menegaskan RSSN tetap mempertahankan keberpihakan kepada masyarakat, khususnya pasien kelas menengah ke bawah.

“Banyak rumah-rumah sakit baru, bahkan alkes (alat kesehatan) yang high tech. Kami tetap melayani terutama untuk pasien kelas menengah ke bawah dengan alkes yang luar biasa juga,” ujarnya.
Direktur Utama RSSN, dr. Ocky Melati Indah Sari, M.P.H., mengatakan perjalanan 35 tahun RSSN bukan sekadar soal angka. Tiga setengah dekade menjadi bukti konsistensi tim medis dan tenaga kesehatan dalam menghadirkan pelayanan sekaligus harapan bagi pasien.
“Kami menyebutnya dengan Tim Hebat RSSN. Sehingga tema perayaan HUT ke-35, ‘Tumbuh dalam Kepedulian, Unggul dalam Pelayanan’. Semangat kami seiring sejalan dengan nilai-nilai care, compassion, accountability, respect, excellent,” kata dr. Ocky Melati Indah Sari. (Liu)







Be First to Comment