Press "Enter" to skip to content

BRIN Ingatkan Bahaya Spesies Ikan Invasif bagi Ekosistem Nasional

Social Media Share

Spesies ikan asing yang kini semakin banyak ditemukan di perairan Indonesia dan berpotensi mengganggu keseimbangan ekosistem.(Foto: Ist)

JAKARTA, NP – Keberadaan spesies asing invasif di perairan Indonesia kian mengkhawatirkan dan berpotensi mengganggu keseimbangan ekosistem secara signifikan. Berdasarkan publikasi ilmiah yang disusun Rahmi Dina bersama tim pada 2022 berjudul “Distributional Mapping and Impacts of Invasive Alien Fish in Indonesia: An Alert to Inland Waters Sustainability”, tercatat sekitar 50 jenis ikan asing telah tersebar di perairan Indonesia, dengan 18 di antaranya bersifat invasif.

Menanggapi kondisi tersebut, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menggelar Media Lounge Discussion (MELODI) bertema “Di Balik Ikan Sapu-Sapu: Gelombang Spesies Asing di Perairan Indonesia” di Gedung BJ Habibie, Jakarta, Kamis (30/4/2026).

Peneliti Ahli Muda Pusat Riset Limnologi dan Sumber Daya Air BRIN, Triyanto, menjelaskan bahwa kondisi lingkungan sangat menentukan keberhasilan spesies asing dalam beradaptasi. Perairan yang mengalami degradasi, seperti pencemaran, sedimentasi tinggi, atau perubahan habitat, lebih rentan terhadap invasi.

“Lingkungan tropis menyediakan sumber pakan melimpah dan habitat beragam, sehingga menjadi semacam ‘surga ekologis’ bagi spesies asing. Hal ini memperbesar tekanan terhadap keanekaragaman hayati lokal,” ujarnya.

Ia mencontohkan ikan sapu-sapu yang kini banyak ditemukan di sejumlah sungai, termasuk Sungai Ciliwung. Spesies ini mampu bertahan di kondisi air buruk, memiliki tingkat reproduksi tinggi, serta melindungi telurnya sehingga meningkatkan peluang hidup larva. Selain itu, tubuhnya yang dilapisi lempeng tulang membuatnya relatif tahan terhadap predator.

Minimnya pemanfaatan oleh masyarakat turut mempercepat lonjakan populasi ikan ini. Akibatnya, spesies tersebut berpotensi mengganggu struktur ekosistem dan keberadaan ikan lokal.

Triyanto menekankan pentingnya pendekatan terpadu melalui pencegahan, pengendalian, dan pemanfaatan. Pencegahan dilakukan dengan pengawasan ketat terhadap introduksi spesies baru serta edukasi masyarakat agar tidak melepas ikan non-lokal ke perairan umum.

Sementara itu, pengendalian dapat dilakukan melalui penangkapan intensif atau eradikasi lokal. “Pemanfaatan sebagai bahan baku pakan, pupuk, atau produk industri juga bisa menjadi solusi tambahan untuk menekan populasi,” katanya.

Dalam jangka pendek (1–2 tahun), langkah yang dapat dilakukan meliputi monitoring rutin, identifikasi habitat, penangkapan massal, edukasi masyarakat, serta eksplorasi pemanfaatan. Adapun jangka panjang (3–10 tahun) mencakup restorasi habitat, peningkatan kualitas air, reintroduksi ikan lokal, penguatan regulasi, riset lanjutan, serta kolaborasi multipihak.

“Tanpa intervensi terencana dan berkelanjutan, invasi spesies asing berpotensi mengancam keberlanjutan sumber daya perairan darat. Ini bukan sekadar isu keanekaragaman hayati, tetapi juga menyangkut sumber penghidupan masyarakat,” tegasnya.

Sementara itu, Peneliti Ahli Madya Pusat Riset Biosistematika dan Evolusi BRIN, Gema Wahyudewantoro, mengingatkan bahwa tidak semua spesies asing berbahaya. Namun, setiap spesies tetap berpotensi menjadi invasif tergantung kondisi lingkungan dan karakter biologisnya.

“Prinsip kehati-hatian harus diterapkan dalam setiap introduksi spesies. Perlu kajian komprehensif, mulai dari kemampuan reproduksi, toleransi lingkungan, hingga interaksinya dengan spesies lokal,” jelasnya.

Ia juga menyoroti pentingnya aspek kesehatan ikan untuk mencegah masuknya patogen atau parasit baru, serta perlunya sistem pemeliharaan terkontrol agar tidak terjadi pelepasan ke alam.

Menurutnya, beberapa spesies asing seperti ikan mas, mujair, nila, dan lele dumbo (Clarias gariepinus) memiliki nilai ekonomi tinggi dan telah dimanfaatkan luas di Indonesia. Hal ini menunjukkan bahwa pengelolaan yang tepat dapat memberikan manfaat tanpa mengabaikan risiko ekologis.

Dalam konteks ilmiah, Gema menekankan pentingnya identifikasi spesies secara akurat melalui pendekatan morfologi dan teknologi DNA barcoding, serta analisis risiko untuk memahami dampak ekologis, ekonomi, dan kesehatan.

Terkait pengendalian ikan sapu-sapu, ia menyarankan penangkapan rutin dan terjadwal, serta pemanfaatan musuh alami seperti ikan betutu (Oxyeleotris marmorata).

“Edukasi masyarakat penting agar tidak sembarangan melepas ikan ke perairan umum. Pengawasan pemerintah juga harus diperkuat,” tegasnya. (red)

 

Be First to Comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *