Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Hindu Kemenag, I Nengah Duija.(Foto: Kemenag)
YOGYAKARTA, NP – Kementerian Agama mengajak umat Hindu menjadikan Tawur Agung sebagai momentum memperkuat kepedulian terhadap lingkungan sekaligus mempererat persaudaraan.
Ajakan tersebut disampaikan Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Hindu Kemenag, I Nengah Duija, dalam puncak pelaksanaan Tawur Agung rangkaian Hari Suci Nyepi di pelataran Candi Prambanan, Rabu (18/3/2026).
“Tawur Agung mengajarkan ekologi spiritual, solidaritas sosial, dan integritas pribadi. Ini menjadi strategi peradaban dalam menghadapi krisis lingkungan dan sosial di era modern,” tegas Duija, dikutip dari laman resmi Kemenag.
Pernyataan tersebut disampaikan di hadapan sekitar 20 ribu umat Hindu yang datang dari berbagai daerah.
Ia menjelaskan, Tawur Agung memiliki makna filosofis mendalam sebagai upaya menjaga keseimbangan antara manusia, alam, dan Tuhan. Ritual ini juga dimaknai sebagai bentuk tanggung jawab moral manusia terhadap alam setelah memanfaatkan sumber daya sepanjang tahun.

“Tawur Agung adalah upacara yajña yang bukan sekadar ritual, tetapi bentuk nyata penyucian alam semesta serta upaya mengharmoniskan hubungan manusia dengan alam, sesama, dan Sang Hyang Widhi Wasa,” ujarnya.
“Keseimbangan bukanlah pilihan, melainkan keharusan. Tawur Agung adalah bentuk tanggung jawab moral manusia kepada alam melalui persembahan suci,” lanjutnya.
Menurut Duija, pelaksanaan Tawur Agung di Prambanan memiliki nilai strategis dan spiritual karena kawasan tersebut merupakan salah satu pusat peradaban Hindu di Nusantara.
“Prambanan bukan sekadar situs sejarah, melainkan ruang sakral yang menghubungkan manusia dengan jagat raya, simbol penyatuan spiritual dan kebudayaan bangsa,” katanya.
Pelaksanaan Tawur Agung ini merupakan bagian dari rangkaian Nyepi yang berpuncak pada pelaksanaan Catur Brata Penyepian. Melalui keheningan Nyepi, umat Hindu diajak melakukan refleksi diri guna mencapai kedamaian batin dan harmoni semesta.
Dengan kehadiran puluhan ribu umat serta dukungan berbagai pihak, Tawur Agung di Prambanan tidak hanya menjadi ritual keagamaan, tetapi juga simbol penguatan spiritualitas, persatuan, dan komitmen menjaga keseimbangan kehidupan di tengah dinamika zaman.
Acara ini turut dihadiri Ketua Umum PHDI Pusat, perwakilan Gubernur melalui Kepala Dinas Kebudayaan Jawa Tengah, Ketua Dharma Shanti Nasional, Bupati Klaten, jajaran Kanwil Kemenag Jawa Tengah dan DIY, pimpinan organisasi kemasyarakatan Hindu tingkat nasional maupun provinsi, serta tokoh masyarakat. (red)







Be First to Comment